Lanjutan Persidangan Kasus Dugaan Korupsi PS Sidimpuan

Tanda Tangan Kontrak, Pemain Tak Boleh Baca Isi
SIDIMPUAN- Tiga pemain kontrak Persatuan Sepakbola (PS) Sidimpuan tahun 2008, Ramadhan Saleh (26), Hery Bule (25) dan Sujatmiko Ismail (22) mengaku menandatangani kontrak rangkap tiga, tapi mereka tidak diperbolehkan membacanya.

Pengakuan ini disampaikan ketiganya pada sidang lanjutan mendengar keterangan saksi-saksi perkara dugaan manipulasi dana PS Sidimpuan Tahun Anggaran (TA) 2008 dan 2009 sekitar Rp1,2 miliar dengan terdakwa mantan Wakil Manajer PS Sidimpuan Hadi Ashari Nasution, Senin (13/6).

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Syahlan SH MH dengan anggota Tommy Manik SH dan Lodewyk I Simanjuntak ini, dihadiri JPU Sartono Siregar SH, Achmad SH serta terdakwa Hadi Ashari didamping kuasa hukumnya.

Saksi Ramadhan menjawab pertanyaan majelis hakim mengatakan, ia menandatangani kontrak dan menerima Rp15juta. Ketika disodorkan hakim akan bukti kontrak Rp36 juta dan Rp65 juta dengan tegas saksi menyebutkan ia dikontrak Rp15 juta. Saksi tidak pernah tahu akan kontrak bernilai Rp36 juta dan Rp65 juta. Dan saat itu, saksi menunjukkan bukti kontrak Rp15 juta yang ada pada dirinya.

Dalam penandatanganan kontrak, kata saksi, itu dilakukan di ruang pelatih di mess pemain PS Sidimpuan (eks gedung RSU bersalin). Ia mengaku menandatangani tiga rangkap kontrak saat itu yang disodorkan Bendahara PS Sidimpuan tanpa diperbolehkan melihatnya.

Saksi Ramadhan mengakui juga tidak tahu siapa pihak pertama ketika dirinya menandatangani kontrak sebagai pihak kedua. Saat menandatangani kontrak di ruangan ada Sekretaris tim PS Sidimpuan, Yusuf Siregar, Bendahara PS Sidimpuan, Zulkarnaen Pohan, Sulaeman Nasution, Abdul Muis.

Kemudian, ia pernah menerima bonus ketika PS Sidimpuan menang lawan Lhokseumawe Rp800 ribu dan Idi juga Rp800 ribu. Uang lain yaitu uang saku yang diterimanya ketika bertanding tandang seperti ke Rengat.

Di mana dalam bukti pengeluaran yang dibacakan ketua majelis hakim yang ditandatangani saksi yaitu Rp950 ribu, saksi menyebutkan yang diterima Rp300-an ribu, ke Langsa Rp800 ribu saksi hanya menerima Rp300-an ribu, ke Lhokseumawe Rp700 ribu saksi hanya menerima Rp300-an ribu, ke Asahan Rp600 ribu saksi hanya menerima Rp 300-an ribu dan lainnya. “Saat itu saya tandatangani dalam keadaan kosong,” ucap saksi.

Baca Juga :  Polres Madina Berhasil Menangkap Lima Pengedar Ganja Antar Provinsi

Saat main tandang, tim PS Sidimpuan naik angkutan plat merah milik Dishub Psp. Saksi ingat ada 26 pemain PS Sidimpuan dengan kontrak yang berbeda termasuk ada pemain gaji honor per bulan.

Menjawab pertanyaan JPU soal pembayaran kontrak, saksi menyebutkan 4 kali pemba-yaran, besaran pembayarannya tiap kali bayar 25 persen dari nilai kontrak. Untuk pembayaran kontrak sampai tiga tahap semasih kompetisi berjalan, sementara pembayaran kekurangan kontrak 25 persen atau pembayaran tahap 4, ia menerimanya sekitar 6 bulan usai kompetisi berakhir (kompetisi berakhir bulan 7 tahun 2008, red). “Abdul Muis yang yang melunasinya di Sadabuan,” tutur Ramadhan.

Ditegaskan pengacara terdakwa, apakah dalam penandatanganan kontrak di ruang pelatih, terdakwa ada di dalamnya, Ramadhan menyebutkan tidak ada di dalam ruang pelatih, tapi di mess ada. Saksi sebelumnya beranggapan Hadi Ashari manajer PS Sidimpuan karena aktif dalam kegiatan PS Sidimpuan. Saksi baru tahu siapa manajer sebenarnya yaitu Sarmadan Hasibuan setelah diperiksa di Kejaksaan.

Saksi lainnya, Hery Bule yang juga pemain kontrak menjawab pertanyaan hakim menyebutkan dirinya kontrak Rp30 juta. Ketika disodorkan ada kontrak lain atas namanya Rp48 juta dan Rp65 juta, saksi menyebutkan tidak ada menandatanganinya. Ketika disodorkan hakim soal kontrak Rp48 juta dan Rp65 juta yang bermaterai sementara kontrak Rp30 juta tidak bermaterai, Hery Bule menyatakan dirinya kontrak Rp30 juta.

Namun diakui saksi, ketika menandatangani kontrak, ia menandatangani rangkap tiga yang disodorkan Bendahara PS Sidimpuan tanpa bisa membaca detail isi kontrak. Naskah kontrak diterimanya setelah Liga Indonesia Divisi I tahun 2008 berakhir. Penerimaan uang kontrak juga diterimanya 4 tahap. Tahap akhir diterimanya sekitar 3 bulan usai liga berakhir.
Tidak beda dengan saksi lainnya, Sujatmiko, pemain kontrak dengan nilai Rp15 juta. Ketika di sodorkan kontrak bernilai Rp37 juta dan Rp65 juta, saksi tegas menyatakan itu bukan kontraknya. Dalam penandatanganan kontrak, saksi menandatangani langsung rangkap tiga tanpa bisa membaca isi kontrak. Pembayaran kontrak juga 4 tahap.

Baca Juga :  Jangan Dihukum, FIFA Harus Selamatkan Sepakbola Indonesia

Saksi lain, D Sutrisno menyebutkan dirinya bukan dikontrak, tapi honor per bulan untuk 4 bulan (selama liga) sebesar Rp750 ribu tiap bulannya dan honor selama 4 bulan diterimanya. Saat bergabung di PS Sidimpuan, dirinya 2 kali terima bonus yaitu Rp200 ribu dan Rp200 ribu (untuk tiap 1 pertandingan yang menang).

Rahman yang juga menjadi saksi di sidang tersebut, juga menyebutkan kalau dirinya bukan pemain kontrak, tapi pemain dengan gaji honor Rp750 ribu per bulan selama 4 bulan bergabung di PS Sidimpuan.

Soal adanya penerimaan-penerimaan kepada saksi yang tercantum dalam daftar seperti di Langsa Rp300 ribu, di Lhokseumawe Rp300 ribu, bertanding di Rengat Rp950 ribu, di Asahan Rp450 ribu dan Idi Rp400 ribu, saksi mengaku tidak pernah menerima uang tersebut. (neo)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*