Lepas dari Madina, Batahan Ingin Gabung ke Pasbar

Laporan Musriadi Musanif

5410319356 4abaf1a5a3 Lepas dari Madina, Batahan Ingin Gabung ke Pasbar
JALAN LINTAS – Bagi warga lain, jalan ini mungkin layak disebut kubangan kerbau dan babi, tapi warga Batahan dan Sinunukan, Kabupaten Mandahiling Natal, jalan ini disebut sebagai jalan lintas. Tega nian pemerintah telah mengabaikan kedua daerah tersebut. (Musriadi Musanif)

Hampir lima puluhan ribu warga di Kecamatan Batahan dan Sinunukan, Kabupaten Mandahiling Natal (Madina), benar-benar risau. Mereka tengah nelangsa karena ‘dilupakan’ pemerintah. Kini, mereka ingin gabung saja ke Pasaman Barat (Pasbar).

“Sudah 66 tahun Indonesia merdeka. Nasib kami seperti ini saja. Jalan raya yang kami sebut sebagai jalan lintas Sinunukan-Batahan, lebih jelek dari jalan ke kebun orang di Pasaman Barat. Sudah lupa pemerintah sama kami. Ketika laut tak lagi menjanjikan kehidupan, puluhan anak nagari kini jadi buruh harian lepas alias BHL dengan upah tak manusia,” ujar Rolan, 32, seorang warga, Rabu (2/2), di Batahan.

Batahan dan Sinunukan adalah dua daerah terpencil di pantai barat Sumatra. Kalau Sinunukan yang sebelumnya menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Batahan dihuni warga transmigrasi asal Jawa, maka Nagari Batahan adalah daerah Melayu yang warganya banyak berasal suku-suku Minangkabau dan Aceh.

Sarana dan prasarana pendidikan hanya alakadarnya saja. Fasilitas kesehatan memprihatinkan. Sebuah Puskesmas jarang ditunggui sang dokter. Bila ada warga yang mengalami gawat darurat kesehatan, sulit untuk bisa mendapatkan perawatan semestinya. Banyak di antaranya meninggal dunia tanpa memperoleh pertolongan medis.

“Mau diobati kemana? Jalan susah sekali. Sedikit saja disirami hujan, jalan tanah itu tak bisa lagi dilalui kendaraan bermotor. Dibawa ke Simpangempat (Pasaman Barat) membutuhkan waktu sedikitnya lima jam, sementara untuk mencapai Panyabungan (ibukota Madina) dibutuhkan pula waktu lebih dari enam jam,” tandas Rolan.

Baca Juga :  Terkait Isu Jual Kursi CPNS Merebak - Sejumlah Pelamar Pesimis Menang

Menghadapi kenyataan yang demikian memprihatinkan. Hidup tanpa sarana dan prasana hidup layak. Warga Batahan benar-benar merasa dikucilkan oleh pemerintahnya sendiri. Mereka sepanjang hari bergelut dengan kenelangsaan.

Menurut saya, timpal Rolan, sebaiknya Batahan ini bergabung saja ke Pasaman Barat (Sumbar). Atau bisa juga, imbuhnya, Batahan bersama Kecamatan Batang Natal, Rantobaek, Lingga Bayu, Sinunukan, dan Natal bergabung untuk mendirikan kabupaten baru yang lepas dari Madina.

“Terserahlah nanti mau tetap di wilayah Sumatra Utara atau gabung ke Sumatra Barat. Itu tidak terlalu masalah. Yang penting, ada uang APBD kabupaten dan provinsi serta uang APBN berputar di sini dalam bentuk pembangunan. Kami ingin punya pemerintahan sendiri, karena kami telah dilupakan pemerintah, baik Madina maupun Sumut,” tegasnya.

Tiga tokoh masyarakat Batahan di Jakarta berharap, warga  Batahan bisa menyatukan langkah, saling membahu dan berjuang serentak untuk membangun negeri itu guna meningkatkan kesejahteraan warga. Ketiganya adalah Praktisi Pendidikan Suhardin Bulkhaini, M.Pd, Pengusaha Salman, SE dan Ir. H. Suhairi Nasution.

“Nampaknya harus ada suatu koordinasi yang mantap untuk menjamin kelangsungan program pemberdayaan untuk memajukan Batahan. Bersamaan dengan itu, mesti pula ada suatu lembaga advokasi hukum dan HAM yang akan membantu masyarakat menuntaskan persoalan hukum akibat penyerobotan lahan oleh perusahaan kelapa sawit berskala besar,” tegas Suhardin.(Musriadi Musanif adalah wartawan Harian Umum Singgalang, Padang)***

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  PGRI Palas Kecam Pungli Terhadap Guru Sertifikasi

1 Komentar

  1. saya sebagai orang indonesia dan bertempat tinggal di pasaman barat sangat merasakan bagai mana penderitaan orang di sinunukan dan saya percaya dari dulu emang jalannya kesana sangat jelek sekali dan harapanku kepada warganya mari pererat tangan mohon kepada pemerintah supaya bergabung saja ke pemerintah pasaman barat karna letaknya yang lebih dekat ke pasbar dankarna dari dulu pemerintah madina nggak pernah memerhatikan warganya apalagi yang jauh dari pemerintahnya dan saya yakin pemerintah pasbar pasti akan tanggap apabila warganya mau bergabung dengan sumbar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*