Longsor di Dua Kecamatan di Tapanuli Selatan

Jumat, 18 Desember 2009 – www.metrosiantar.com

AYAH ANAK TEWAS- Longsor di Dusun Kampung Mandailing, Kelurahan WEK I kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapsel menyebabkan ayah dan dua anaknya tewas yakni Lisna Gea (1), Andi Gea (3) dan Ali Sadi (27).

Empat Tewas, Termasuk Ayah dan Dua Anaknya
Satu Lagi Korban Diduga Masih Tertimbun Longsor
TAPSEL-METRO; Dua peristiwa longsor terjadi di Tapanuli Selatan yang menyebabkan 4 orang tewas serta satu korban lagi belum diketahui nasibnya, diduga masih tertimbun longsor. Di Kampung Mandailing, Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru, seorang ayah dan dua orang anaknya tewas tertimbun longsor. Di Kecamatan Angkola Selatan, seorang ibu belum ditemukan. Namun seorang anaknya sudah ditemukan tewas dan seorang lagi berhasil selamat.

Hujan yang mengguyur menjadi penyebab longsornya perbukitan di Kampung Mandailing, Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Rabu (16/12) sekitar pukul 18.30 Wib. Longsor itu menimbun satu rumah yang didiami 5 saudara kandung. Tiga orang meninggal dunia yakni Ali Sadi Gea (27), Andi Gea (3) dan Lisna (1). Sementara yang berhasil selamat adalah Rosmeri Boru Lubis (40) dan Jelita (5).

Informasi yang berhasil dihimpun dari pemilik kebun karet Surya Siregar (36)mengatakan, keluarga Ali Sadi Gea sebelumnya tinggal di Mandailing Natal. “Sekitar setahun lalu, keluarga Ali Sadi Gea bekerja menjaga kebun karet milik saya di Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru. Lalu saya bangun sebuah rumah panggung yang berada di tengah kebun atau sekitar 200 meter dari jalan raya ibu kota kecamatan,” terang Surya Siregar.

Surya sendiri mengaku baru mengetahui peristiwa longsor kemarin sekitar pukul 20.00 Wib, setelah seorang tetangga korban bernama Sopian memberi kabar. Sopian sebelumnya mendapat kabar longsor tersebut dari Rosmeri, istri Ali Sadi Gea yang tewas tertimbun longsor.

Ketika itu, tambah Surya, Rosmeri membawa seorang putrinya, Jelita. Namun Rosmeri terlihat kepayahan berjalan akibat kaki kanannya patah. Informasi itulah dilaporkan Sopian kepada kepada warga sekitar lalu diteruskan kepada pihak kepolisian dan kecamatan.

Beberapa saat kemudian Kapolsek Batang Toru, AKP Sijabat dan anggota bersama Camat Batang Toru, Ibnu Salam dengan sejumlah warga menuju ke lokasi dengan membawa peralatan seperti cangkul, parang, dan sodok untuk mengevakuasi korban yang tertimbun longsor. Tiba di lokasi terlihat rumah panggung yang terbuat dari papan sudah ditenggelamkan longsor. Panjang longsoran diperkirakan mencapai 1 km dari posisi rumah Ali Sadi Gea.

Ketika dilakukan pencarian, yang pertama kali ditemukan adalah jasad Ali Sadi. Tiga meter dari Ali Sadi ditemukan Andi Gea, lalu 3 meter kemudian ditemukan lagi jasad Lisna. Kondisi ketiganya tak lagi bernyawa dengan tubuh penuh lumpur. Ketiganya kemudian dimakamkan, Kamis (18/12) usai salat Zuhur di pekuburan Kelurahan Wek I. Sementara istri korban Rosmeri dan Jelita sudah dirawat di RSU Sipirok.

Ibu Masih Dicari

Longsor juga terjadi di Dusun Simaronop Desa PardomuanKecamatan Angkola Selatan, Selasa (16/12). Sebuah gubuk peristirahatan di tengah kebun tertimbun longsoran Bukit Simaronop yang mengakibatkan seorang anak tewas, ibunya masih dalam pencarian, dan satu lagi anak korban selamat.

Informasi yang diperoleh dari Camat Angkola Selatan, Hamdy S Pulungan, Kamis (18/12) mengatakan, longsor menyebabkan seorang ibu hilang dan diduga masih tertimbun longsor. Sementara seorang anaknya sudah ditemukan tewas. Ketiga korban tewas adalah Ina Iqu Boru Gea, Penima (16) yang ditemukan tewas, dan Yusof Gea (9) berhasil selamat dan tengah dirawat di rumah sakit.

“Satu sudah kita temukan yakni Penima sedangkan ibunya Ina Iqu belum kita temukan,” kata Hamdy Pulungan.

Informasi lain yang diperoleh dari warga desa bernama Anwar Gea, longsor terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak beberapa hari lalu. Hujan juga mengakibatkan Sungai Siais meluap hingga meluber ke Pasar Pardomuan. Begitupun karena Sungai Siais masih meluap dan hujan terus mengguyur, Kamis (18/12), tim evakuasi yang terdiri dari tim medis, kepolisian, dan TNI, belum berhasil menuju lokasi longsor.

Sementara Bupati Tapsel, Ongku P Hasibuan yang diwawancarai METRO mengimbau agar masyarakat yang berada di daerah rawan longsor untuk berhati-hati. Bupati juga berjanji akan menanggung semua biaya perobatan korban. (phn)

Ibu Korban Terus Dicari
Sabtu, 19 Desember 2009

4 Korban Longsor Sudah Dikebumikan
TAPSEL-METRO; Tim evakuasi dari Dinas Provinsi Sumut masih terus mencari Ina Iqu br Gea (37) yang diduga masih tertimbun longsor di Dusun Simaronop Desa Pardomuan Kecamatan Angkola Selatan. Sementara dua orang anak korban, Penima Harefa (17) yang tewas tertimbun longsor sudah dikebumikan, Kamis (17/12). Sedangkan Fatinazolo (7) yang berhasil lolos dari longsoran kini dirawat tim medis.

Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan Tapanuli Selatan (Tapsel), Dr Ismail Fahmi kepada METRO, Jumat (18/12) mengatakan, Fatinazolo yang sebelumnya diberitakan bernama Yusof usia 9 tahun tengah dirawat di Puskesmas Simarpinggan, Angkola Selatan. Fatinazolo berhasil lolos dari maut namun mengalami luka di sekujur tubuh. Kaki dan buah zakarnya juga mengalami sobek.

Sementara Camat Angkola Selatan, Hamdy S Pulungan yang dikonfirmasi melalui telepon seluler mengatakan, pencarian terhadap Nuziah yang diduga masih tertimbun longsor masih terus dilakukan. Tim yang ikut mencari juga datang dari Dinas Kesehatan Provinsi yang datang setelah mengetahui adanya longsor di wilayah Tapanuli Selatan.

“Setelah Sungai Siais mulai surut, tim evakuasi sudah bisa menyeberangi sungai dan masih terus melakukan pencarian terhadap Nuziah. Tapi begitupun kita belum mengetahui nasib korban, apakah hanyut atau masih tertimbun longsor,” kata Hamdy yang mengaku terpaksa kembali ke kantornya karena ada urusan pekerjaan.

Longsor di Tapsel sendiri terjadi di dua lokasi menyebabkan 4 orang tewas serta satu korban lagi belum diketahui nasibnya. Di Kampung Mandailing, Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru, seorang ayah dan dua orang anaknya tewas tertimbun longsor Bukit Mandailing. Ketiga korban adalah Ali Sadi Gea (27), Andi Gea (3) dan Lisna (1). Sementara istri korban, Rosmeri br Lubis (40) dan anaknya Jelita (5) berhasil selamat dari longsor.

Seperti yang diinformasikan kemarin, pemilik kebun karet Surya Siregar (36) mengatakan, keluarga Ali Sadi Gea sudah setahun lalu bekerja menjaga kebun karet miliknya di Kelurahan Wek I, Kecamatan Batang Toru. Surya kemudian membanguun rumah panggung di tengah kebun sebagai tempat tinggal keluarga Ali Sadi Gea.

Surya sendiri mengaku baru mengetahui peristiwa longsor Kamis kemarin sekitar pukul 20.00 Wib, setelah seorang tetangga korban bernama Sopian memberi kabar. Sopian sebelumnya mendapat kabar longsor tersebut dari Rosmeri, istri Ali Sadi Gea.

Ketika itu, tambah Surya, Rosmeri membawa seorang putrinya, Jelita. Namun Rosmeri terlihat kepayahan berjalan akibat kaki kanannya patah. Informasi itulah dilaporkan Sopian kepada kepada warga sekitar lalu diteruskan kepada pihak kepolisian dan kecamatan.

Beberapa saat kemudian Kapolsek Batang Toru, AKP Sijabat dan anggota bersama Camat Batang Toru, Ibnu Salam dengan sejumlah warga menuju ke lokasi dan sudah mendapati rumah panggung yang terbuat dari papan itu ditenggelamkan longsor.

Ketika dilakukan pencarian, yang pertama kali ditemukan adalah jasad Ali Sadi. Tiga meter dari Ali Sadi ditemukan anaknya Andi Gea, lalu 3 meter kemudian ditemukan lagi jasad Lisna. Kondisi ketiganya tak lagi bernyawa dengan tubuh penuh lumpur. Ketiganya kemudian dimakamkan, Kamis (18/12) usai salat Zuhur. (phn)

Bupati: Warga Telah Berulangkali Diperingati
Sabtu, 19 Desember 2009

Disinggung banyaknya warga membangun pemukiman di daerah rawan longsor, seperti di Dusun Simaronop, Desa Pardomuan, Bupati Tapsel, Ongku P Hasibuan kepada METRO mengatakan, tidak ada wewenang Pemkab Tapsel untuk melarang masyarakat dari luar daerah untuk tinggal di Tapsel selama masih dalam NKRI. Disebutkannya, bermukimnya masyarakat Nias di bukit-bukit yang rawan bencana tersebut merupakan akibat dari ekses ekonomi.

Meskipun sudah berulangkali diperingatkan kepada warga untuk tidak membangun pemukiman di daerah rawan, namun tetap saja mereka melakukannya. Dan yang bisa di lakukan oleh Pemkab Tapsel hanya mencegah setelah terjadinya bencana seperti memberikan peringatan dan melakukan pertolongan serta mencari solusi dari akibat kejadian tersebut.

Dikatakannya, jikapun nantinya dibangun jalan ataupun jembatan ke lokasi tersebut, tetap saja masyarakat di sana akan kembali membangun pemukiman baru dengan membuka areal baru.

Dusun Simaronop Berdiri Sejak 20 Tahun Silam

Perkampungan di Dusun Simaronop, Desa Pardomuan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) ternyata sudah dijadikan pemukiman oleh masyarakat pendatang dari suku Nias sekitar 20 tahun silam.

Demikian diterangkan salahseorang warga Desa Pardomuan, Anwar Gea (37) kepada METRO, Kamis (17/12) lalu saat terjadinya longsor di Dusun Simaronop yang menyebabkan satu meninggal dunia, satu selamat, dan satu lainnya masih dalam pencarian.

Diceritakannya, dahulu orang tuanya datang ke Tapsel, tepatnya ke Desa Pardomuan, yang dulu dikenal dengan nama Siais sekitar tahun 1990. Pada saat itu dirinya masih kecil bersama dengan saudara-saudaranya yang lain. Kemudian orang tuanya membuka kebun dan bekerja di hutan-hutan yang ada di Dusun Simaronop yang dulunya masih belum bernama. Hutan tersebut merupakan tempat penebangan hutan. Dan ada jalan setapak yang dibuat oleh perusahaan kayu pada waktu itu untuk membawa atau menghanyutkan kayu ke Sungai Siais.

Kemudian jumlah penduduk yang eksodus dari Nias menuju tempat itu semakin bertambah di karenakan para penghuninya bisa membuka kebun karet, coklat, salak, bersawah, dan berladang.

Saat ini ada sekitar 200 kepala keluarga yang bertempat di bukit itu. Kemudian dusunnya yang dari satu menjadi tiga yakni Dusun Aloa, Pinang Sori dan Dusun Simaronop. Letak rumah warga satu sama lain berjauhan, bahkan ada yang ratusan meter. Begitu juga dengan perkebunan yang ada sekitar 2 kilometer dari perkampungan warga.

Meskipun tinggal di hutan yang jauh dari akses luar, namun sudah ada dua unit sekolah swasta untuk tingkat SD yang dibangun di daerah tersebut. Masyarakat di sana juga memiliki sepedamotor. Hal ini di karenakan jika dari Dusun Simaronop hendak ke Desa Pardomuan yang merupakan pusat dan ada pekannya. Di mana jaraknya jika berjalan kaki sekitar 2 jam dengan jarak sekitar 4 kilometer.

Selain itu, untuk bisa ke Desa Pardomuan harus menyeberangi Sungai Siais yang lebarnya sekitar 30 meter dengan menggunakan sampan atau getek yang jika air tidak meluap per satu kepala harus membayar Rp1.000. Jika air pasang, sampan masih bisa lewat, namun warga harus membayar Rp5 ribu per orangnya.

Pekan di Desa Pardomuan setiap hari Sabtu setiap minggunya. Biasanya pada saat itu masyarakat dari tiga dusun akan tumpah ruah ke pasar. Selain menjual hasil kebunnya seperti salak, karet, coklat, dan lainnya ke toke penampung, juga membeli persediaan kebutuhan hidup selama seminggu dengan jumlah yang besar.

Sementara itu, warga Desa Pardomuan pergi ke Kota Psp dengan menggunakan sepeda motor sekitar dua jam lamanya dengan jalan yang sebagian besar sudah aspal. (phn)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Holan na Do’a doma sian hami , hami turut berduka cita nasagodang-godang na… mudah-mudahan dilelen kelapangan didalam kubur, dohot dilehen kasobaran di naditinggalkon na….

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*