Lulus UN (Tidak) Sama dengan Anak Pintar

[iklan size=’kiri’]Oleh: Farman Exon, Ssos

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) 2014, merupakan UN terakhir sebelum ganti kabinet hasil Pemilu 2014.  Berdasarkan peraturan BSNP No 0022/P/ BSNP/XI/2013, pada Senin-Rabu, 14-16 April siswa kelas akhir Sekolah Menengah Atas (SMA) dan yang sederajat secara serentak mengikuti Ujian Nasional (UN) dan susulan 22-24 April. Sedangkan untuk SMP 5-8 Mei dan susulan 12-16 Mei. Ternyata, dalam UN tahun ini guru, orangtua, kepala sekolah dan siswa masih diliputi perasaan cemas, khawatir nilai UN jelek, kendati kelulusan siswa ditentukan dari akumulasi nilai UN dan Ujian Akhir Sekolah (UAS). Jika ditilik lebih lanjut, pemicunya adalah diterapkannya sistem 20 paket dan peningkatan jumlah soal yang sukar serta siswa telanjur memahami UN tahun ini tak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sehingga siswa hanya siap mengerjakan soal-soal mata pelajaran yang akan diUN-kan dan abai terhadap mata pelajaran lainnya.

Sementara itu, pantauan melalui ekspose media massa UN berjalan lancar. Meski tetap terjadi pelbagai penyimpangan/kecurangan. Selain isu bocoran soal, di Palembang guru sengaja menyebar jawaban UN melalui teknologi short message service (SMS), di Klaten, tertangkap joki UN. Beberapa daerah, ditemukan soal dalam keadaan rusak. Semangat ‘harus lulus’ menjadi spirit peserta UN mengait pada orangtua dan guru (sekolah). Sementara secara awam, tujuan UN adalah mengevaluasi tingkat keberhasilan belajar mengajar untuk menentukan apakah secara personal seorang murid memenuhi standar kompetensi. Lolos UN bisa jadi dipersepsikan sama dengan anak pintar atau sebaliknya, bisa juga dikatakan tidak sama dengan anak pintar. Pemerintah (Kemdikbud) pun memosisikan UN sebagai salah satu tolok ukur mutu pendidikan.

Catatan lain yang tak kalah penting, UN dinilai menjadi bukti pendidikan di Indonesia terlalu berpihak pada ranah kognisi. Bagi yang belajar psikologi pendidikan, pasti tak akan mengingkari bahwa pendidikan sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Teori tabularasa, menyebutkan jiwa anak bersih bagaikan sebuah plat fotografik. Tinggal bagaimana suatu system pendidikan yang ditransfer kepadanya. Jika lebih banyak kognisi, maka kognisilah yang lebih terasah. Jangan salahkan anak andai anak kurang peka ranah afeksi. Sehingga hadir generasi yang kurang memiliki olahrasa. Terbukti dengan makin banyaknya tindakan amoral oleh kalangan usia pelajar.

UN terakhir pada kabinet yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini. Tahun depan, boleh jadi akan berubah model maupun substansi terkait pergantian kabinet baru. Suatu hal yang ‘biasa’ terjadi di negeri ini. Ganti kabinet, ganti menteri, ganti kebijakan. Tentu saja akan terjadi pada pelaksanaan UN. Sementara itu, para peserta UN acapkali dilanda perasaan cemas berlebihan, sehingga stres. M Dahlan Al-Barry (1994) mengartikan stres dengan tekanan. Hans Selye (1907-1982), dokter kelahiran Vienna, membagi stres menjadi dua tipe. Pertama, Eustres atau stres yang baik. Eustres adalah stres yang menghasilkan respons atau perasaan yang positif terhadap stressor (korban) itu sendiri. Kedua, distress atau stres yang buruk. Ketika distress tidak segera diatasi, akan menimbulkan penyakit susulan yang bersifat permanen dan sudah tentu mengganggu aktivitas kita sehari-hari.

Baca Juga :  DEMOKRASI (bag-5): Pelajaran Dari Tirai Bambu

Sebenarnya, banyak cara untuk mengatasi stres. Itu semua tergantung dengan orangnya (stressor). Ada yang mengatasi dengan istirahat atau tidur, mendengarkan musik, sekadar jalan-jalan untuk menghirup udara segar, makan dan lainnya. Hal yang terpenting ketika menghadapi stres adalah selama kita masih mampu menanggapinya dengan berpikir positif, perasaan stres itu dengan sendirinya tak akan mengganggu aktivitas ataupun membahayakan kesehatan kita. Dalam UN tahun ini, diperkirakan banyak siswa mengalami stres yang kadangkala berlebihan. Dalam kondisi demikian, ada dua tipe siswa dalam menyikapi situasi tersebut. Pertama, siswa yang mampu mengatasi stres tersebut dengan cara yang baik (eustres).

Mengukur Kompetensi

Dalam tipe ini, mereka berpendapat, UN dijadikan sebagai pemetaan dan alat untuk mengukur kompetensi tenaga guru dan kemampuan siswa, kelebihan dan kekurangan tingkat satuan pendidikan. Dalam hal ini, kita bisa belajar pada Amerika Serikat, Malaysia, Singapura dan negara-negara Eropa yang memberlakukan UN dipakai untuk mengarahkan siswa studi ke jenjang yang lebih tinggi dan menentukan status satuan pendidikan atau sekolah.

Selain itu, mereka yang mampu mengatasi stres dengan cara yang baik akan membuat mereka lebih rajin dalam belajar, salat lima waktu dan berdoa. Menurut Karyana dan Priyono (2001), kegiatan berdoa bersifat memicu aktivitas gelombang-gelombang elektromagnetik dalam otak yang akan memunculkan ide-ide kreatif serta jika salat lima waktu dilaksanakan dengan niat ikhlas, tulus dan tumakninah, salat dapat merelaksasikan pikiran dan otot yang tegang, sehingga tingkat stressor dapat berkurang.

Kedua, siswa yang tidak mampu mengatasi stres dengan baik (distress). Siswa tipe ini akan merasa panik dan tegang berlebihan, yang mengakibatkan mereka tidak dapat fokus dalam belajar dan bahkan menghalalkan segala cara demi lulus di UN. Seperti beberapa hari belakangan sebelum UN, jual beli jawaban UN SMA sudah berseliweran di mana-mana, mulai dari yang harganya Rp 70.000 hingga jutaan rupiah dan para siswa sudah menyusun strategi agar di kelas bisa membawa HP dan contekan lainnya. Perlu diingat, kecemasan dan ketegangan berlebihan melanggengkan kegagalan. Hasil penelitian yang dilakukan Sarason dan kawan-kawan yang dikumpulkan Spielberger (1996), membuktikan, siswa yang mempunyai tingkat kecemasan rendah mempunyai prestasi lebih baik daripada siswa yang mempunyai tingkat kecemasan tinggi. Rasa cemas berlebihan pada guru dan kepala sekolah juga menjauhkan mereka dari target yang ditetapkan pemerintah.

Baca Juga :  Obral Remisi untuk Koruptor

Kita tinggal berharap, pendidikan di negeri ini, semakin baik membuat konsep pendidikan dan mengimplementasikan dengan benar. Untuk itu, harus selalu sinkron antara konsep pendidikan dari Ki Hadjar Dewantara tentang keseimbangan cipta, rasa, karsa, karya dengan tujuan pendidikan dari UNESCO, yakni: (1) learning to know (belajar untuk mengetahui), (2) (learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) dalam hal ini kita dituntut untuk terampil dalam melakukan sesuatu, (3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan (4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama). Sekadar mengingat, misi pendidikan adalah mewariskan ilmu dari generasi ke generasi. Ilmu yang dimaksud antara lain: pengetahuan, tradisi, dan nilai-nilai budaya (keberadaban). Apakah hal ini terpecahkan dengan dilaksanakannya UN?

Bangsa ini membutuhkan pendidikan yang ‘menuntun’ secara benar menjadi generasi yang beradab. Generasi yang di masa depan memiliki integritas dan moralitas tinggi. Bukan yang penuh nafsu kuasa dan korupsi menindas yang lemah. UN merupakan penyelenggaraan pendidikan sentralistik. Keputusan birokrasi menyentuh semua aspek sekolah, yang acap tidak sesuai dengan kondisi sekolah yang memang berbeda karena geografis. Akibatnya, sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan inisiatif mengembangkan lembaga. Akankah problem-problem itu dikoreksi oleh kabinet baru. Kita lihat saja nantinya.***

Penulis adalah Analis Senior Bidang Politik LemPoRa Medan.

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*