Mace-mace Penyelam Kaimana

Ibu-ibu dari Desa Kayu Merah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, beberapa waktu lalu, sepulang memanen teripang, lola (kerang), dan batulaga serta hasil perkebunan, seperti pisang dan kelapa, seusai buka sasi di salah satu kawasan teluk di desa tersebut. Selama bertahun-tahun, kaum perempuan pulau-pulau kecil di Kaimana mahir menyelam tanpa alat bantu apa pun untuk memanen biota laut. —  KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM

LAUT menjadi bagian hidup Mira Waria (55) sejak belia. Kini, di usia yang tak lagi muda, perempuan yang telah bercucu itu masih rajin menyelam setiap ada buka sasi di desanya. Ingatannya merekam perubahan pesisir yang selama ini menjadi ladang penghidupannya.

Sore itu, akhir Februari lalu, Mira bersama Rosita Amerbae (29) dan Fatma Nusran (25) sedang memasak di tenda sementara di sebuah teluk kecil di Desa Kayu Merah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Sekelompok anak meramaikan pantai berpasir putih di sekeliling tenda itu dengan permainan mereka. Di gubuk sebelah tenda, kaum pria tengah tenggelam dalam perbincangan.

Memasak bersama adalah rutinitas para mace (sapaan untuk kaum perempuan) seusai menyelam. Dari pagi hingga tengah hari, mereka bersama suami menyelam untuk mengumpulkan teripang dan beragam kerang, seperti lola dan batulaga.

Kehidupan warga pulau kecil di Kaimana terbentuk oleh lingkungannya yang dikelilingi laut. Tidak hanya kaum pria, kaum perempuan pun mahir menyelam tanpa mengenakan alat bantu. Mace-mace itu hanya mengenakan pakaian harian untuk menyelam hingga kedalaman 10 meter. Anak-anak mereka pun, yang baru berusia belasan tahun, turut membantu.

Mira menuturkan, sudah dua pekan rombongan empat keluarga itu meninggalkan rumah mereka di Desa Kayu Merah untuk mengikuti buka sasi di teluk itu. ”Mungkin beberapa hari lagi kami pulang karena sudah lama di sini,” ujar dia.

Dua tenda besar dari terpal biru didirikan di pantai. Di tengah tenda terlihat tungku kayu dengan kuali di atasnya. Di sanalah mereka ramai-ramai tidur dan memasak selama mengikuti buka sasi.

Setiap pagi, saat gelombang surut dan pantai menjadi dangkal, mereka memulai aktivitas menyelam. Sekali menyelam, mereka mampu menahan napas sekitar tiga menit. Arus kuat Laut Arafuru kerap menjadi tantangan menyelam di kawasan itu. Setiap napas habis, mereka naik ke atas untuk menghirup udara dan menyelam lagi. Aktivitas yang membutuhkan stamina tinggi itu dilakukan sekitar tiga jam dalam sehari. Menjelang tengah hari, gelombang kembali pasang sehingga tidak memungkinkan menyelam lagi.

Baca Juga :  Sri Mulyani Kembali Masuk Daftar Wanita Berpengaruh Di Dunia Versi Forbes

Fatma mengatakan, kali pertama ia menyelam untuk mencari teripang dan lola adalah saat berusia 11 tahun. ”Tidak ada yang memberi pelajaran menyelam. Saya hanya ikut orangtua,” kata Fatma. Ibu dan neneknya pun mahir menyelam.

Selain memanen hasil laut, selama di teluk itu mereka juga berkebun serta memanen pisang dan kelapa yang banyak terdapat di sekitar teluk dan pulau kecil di sekitarnya. Kelapa langsung dijemur untuk dijadikan kopra. Dengan segala upaya, mereka berusaha memanfaatkan buka sasi ini sebaik-baiknya. Masa ini ibarat panen di tengah masa paceklik karena ikan sulit diperoleh.

Buka sasi merupakan bagian dari kearifan lokal pesisir Papua Barat. Sasi nggama atau larangan memanen sejumlah hasil laut sebagai upaya melindungi dari kepunahan. Biota laut yang dilindungi dalam sasi nggama merupakan hasil laut yang harganya tinggi, yaitu teripang, lola, dan batulaga.

Selama buka sasi, larangan itu dihentikan sementara. Buka sasi hanya berlangsung paling lama dua pekan setiap enam bulan sekali. Biota yang dapat diambil hanya yang sudah dewasa.

Hasil turun

Mira dan warga pulau kecil di Kaimana selalu menantikan buka sasi. Masa itu ibarat panen raya yang menjadi sumber pendapatan saat masa sulit mencari ikan. Namun, di balik itu, tebersit kegelisahan. Hasil laut terus menurun selama beberapa waktu terakhir. ”Hari ini hasilnya sedikit sekali. Hanya 10 teripang ular, 12 teripang hitam, dan beberapa lola. Padahal, dahulu biasa dapat satu karung penuh, teripang ular bisa sampai 100 ekor sehari,” ungkap Mira.

Menurunnya hasil laut itu ia rasakan setidaknya sejak 15 tahun lalu. Ia menduga, penurunan itu karena semakin banyak orang yang turut mencari hasil laut di sana. Mira memberi contoh, penghasilan selama buka sasi di teluk itu berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000. Tiga tahun lalu, ia bisa memperoleh Rp 500.000 hingga Rp 1 juta sehari. Teripang hitam dahulu lebih sering diabaikan karena harganya murah. Kini, teripang jenis itu juga diburu karena yang harganya mahal, seperti teripang merah dan putih, kian langka.

Naida Amerbae (38) dari Desa Kayu Merah mengatakan, hasil buka sasi dibagi dengan pemilik tanah ulayat. ”Dulu kami bisa dapat Rp 6 juta selama masa buka sasi. Orang yang punya sasi bisa dapat sekitar Rp 20 juta,” kata dia.

Baca Juga :  Lawan Teroris, Ansor Bentuk Densus 99
KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM Senja di pantai Pulau Triton, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, beberapa waktu lalu. Pulau ini merupakan bagian kawasan konservasi laut Kabupaten Kaimana yang kaya keanekaragaman hayati bawah laut dengan jajaran bukit karst berhias lukisan dinding kuno di sekitarnya.

Dari generasi ke generasi, warga pesisir Kaimana setia dengan cara tradisional dalam mencari ikan, seperti menyelam tanpa alat dan memancing. Selain keterbatasan biaya meningkatkan fasilitas, cara ini dinilai lebih ramah lingkungan.

Kekayaan laut Kaimana yang menggiurkan ibarat lampu yang mengundang lebih banyak laron. Saat ini, nelayan tradisional pesisir Kaimana harus bersaing dengan perusahaan ikan hingga nelayan dari luar daerah yang memakai kapal besar berteknologi jauh lebih mutakhir.

Beberapa kali mereka menemukan kapal trawl yang menggunakan pukat harimau di laut ulayat mereka. Selain dianggap mencuri hasil laut, penggunaan pukat harimau dinilai sangat merusak laut dan menghancurkan terumbu karang. Padahal, warga lokal mengenakan sanksi adat yang ketat untuk menjaga kelestarian laut itu.

”Warga Kayu Merah marah dan menangkap beberapa kapal untuk dikenai sanksi adat. Sekarang pencurian ikan jauh berkurang karena ada patroli laut oleh masyarakat,” ujar Tajudin, warga Kayu Merah yang juga petugas penyuluh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kaimana. Nelayan dari pulau kecil itu juga mengeluhkan harga yang mereka terima dari kapal pengumpul ikan lebih rendah daripada harga di pasar. Namun, Mereka tak mampu menjual sendiri ke pasar atau pabrik pengolah karena jarak yang jauh. Bukan hanya biota laut, nelayan pun perlu perlindungan. (Irene Sarwindaningrum)


Editor: I Made Asdhiana
Sumber: KOMPAS CETAK
CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. kekayaan sumber daya alam papua sungguh luar biasa…tinggal bagaimana kitong bisa jaga, jangan sampe diekploitasi secara berlebihan, sehingga mace-mace dorang bisa molo terus di laut untuk cari teripang untuk tambahan penghasilan…mace dong hebat…, ada satu lagi yang menarik dari Kaimana yaitu Senja di Kaimana…..mantap…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*