Mahasiswa Makassar Sering Tutup Jalan, Tukang Becak dan Sopir Angkot Menjerit

Muhammad Nur Abdurrahman – detikNews

Makassar – Aksi penutupan jalan sepertinya sudah menjadi ‘adat istiadat’ mahasiswa Makassar saat berunjuk rasa. Padahal, hal itu sering membuat rakyat kecil, seperti sopir angkot dan tukang becak menjerit karena pendapatannya berkurang.

Daeng Andi (30), tukang becak yang mangkal di depan kantor Telkom atau sekitar 150 meter dari Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Jl AP Pettarani, Makassar, mengaku senang hari ini tidak ada demo. Sebab selama 3 hari kemarin, rezekinya jauh berkurang akibat aksi penutupan jalan oleh Mahasiswa.

Menurut Andi, pelanggannya adalah penumpang angkot trayek kampus Unhas-Pettarani atau Sentral-IKIP, yang turun di dekat pangkalannya. Penutupan jalan yang dilakukan mahasiwa otomatis membuat angkot tidak bisa melintas. Itu sama artinya tidak ada pelanggan becak Andi.

“Mahasiswa selalu bilang demo untuk kepentingan rakyat miskin seperti kami. Tapi kenyataannya mereka malah mengganggu  kami yang mencari nafkah untuk anak-istri kami di rumah,” ujar ayah 3 anak ini.

Pernyataan Andi diamini oleh Ridwam, tukang becak lainnya. Pria asal Kabupaten Jeneponto, Sulsel, mengaku dirinya mendukung demonstrasi mahasiswa asalkan tidak menutup jalan. “Mahasiswa selalu bawa-bawa suara rakyat, padahal mereka tidak pernah mendengar suara-suara kami sebagai tukang becak yang selalu terganggu atas ulah mereka,” tandas Ridwan.

Penyesalan atas penutupan jalan yang dilakukan para mahasiswa di Makassar juga diungkapkan Syarif. Pria yang bekerja sebagai sopir sebuah bank swasta ini mengaku aksi penutupan jalan sangat merugikannya. Tak jarang Syarif tidak dapat melakukan tugas yang diberikan kantor akibat demo mahasiswa yang berakhir dengan kericuhan.

Baca Juga :  Rekening Gendut - Polri Tidak Bisa Jawab Semua Kemauan Publik

“Setiap hari saya mengantar petugas bagian marketing ke rumah-rumah nasabah atau ke tempat lainnya. Kami sering tidak bisa bertugas jika jalanan sudah ditutup. Kalau sudah begitu, kami hanya bisa mohon maaf dan meminta pengertian nasabah,” ungkap Syarif.

Tak jauh beda dengan Syarif, Mustafa, seorang sopir angkot jurusan Central-Pabaengbaeng, juga sangat berharap mahasiswa tidak melakukan penutupan jalan. Sebab penutupan jalan sama dengan menutup rezekinya pada hari itu.

“Jika Jl Sultan Alaudin ditutup mahasiswa saya terpaksa mencari jalan alternatif. Jaraknya jadi lebih jauh, risikonya butuh bensin lebih banyak. Dan ini artinya mengurangi pendapatan kita,” tutur Mustafa.

Mustafa mengungkapkan, sehari dia harus membayar setoran kepada pemilik angkot sedikitnya Rp 75.000. Target tersebut sering tidak tercapai jika tiba-tiba mahasiswa demo dan melakukan penutupan jalan.

“Tapi untungnya bos saya baik. Dia sering kasih keringanan karena tahu jalanan macet akibat demo mahasiswa,” tukas Mustafa. (mna/djo)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*