Manusia “Yang Terlupakan” di Luat Harangan (1)

Oleh: Budi Hutasuhut *)— Pengajar di FISIP Universitas Bandar Lampung, putra daerah asal Kecamatan Sipirok – Pemerhati masalah sosial masyarakat.

Di tengah-tengah pembangunan daerah, yang terus-menerus digeliatkan pemerintah daerah di Kabupaten Tapanuli Selatan, tak pernah terbayangkan ada kehidupan seperti yang mereka alami. Kehidupan dari “manusia yang dilupakan”, yang tak bisa menuntut haknya sebagai warga bangsa, dan berusaha beradaptasi atas situasi ketakberdayaannya.

Manusia "Yang Terlupakan" di Luat Harangan (photo:google)

 “Woi…! Pahipas saotik!” Teriakan anak kecil itu, yang berarti menyuruh bergerak lebih cepat, menyeruak pagi buta yang berembun di Desa Sihaborgoan. Suara itu milik Pardomuan (10), siswa kelas 5 di SD Negeri di Desa Pargarutan, saat mendesak salah seorang kawannya, Rustam (9), agar cepat-cepat keluar dari rumah.

Ia berdiri di ujung desa, di halaman rumah Rustam, bersama tiga anak sebayanya. Keempat anak itu hendak berangkat ke sekolah. Masing-masing mengenakan seragam sekolah SD yang kehilangan warna putihnya. Menggantung tas berisi buku di bahu kanan. Sepatu sekolah warna hitam yang dipenuhi lumpur, dijinjing di tangan kiri.

“Naleleng maho!” kembali suara anak kecil terdengar, yang menunjukkan kekesalan karena terlalu lama menunggu. Suara itu bergaungan, memantul-pantul dari satu bukit ke lain bukit. Menghasilkan gema yang sahut-bersahut. Di kejauhan, terdengar raung siamang, seolah-olah ikut memanggil anak yang belum keluar dari dalam rumahnya.

Rumah kayu tanpa cat, beratap seng warna coklat karat, berdiri agak sedikit reot. Seseorang membuka pintu rumah itu. Hamidah (34) keluar dan berteriak: “Inda sikola iya sadari on!” teriak Hamidah, ibu anak yang ditunggu, memberi tahu kalau anaknya tak sekolah hari ini.

Tak jelas alasan kenapa anak itu, Rustam, tak sekolah. Anak-anak yang menunggu tak merasa perlu bertanya kenapa. Masing-masing seolah sudah paham. Mereka menggerutu karena terlanjur menunggu, lalu melanjutkan perjalanan menuju Desa Pargarutan.

Sepanjang lengkung langit, awan bergumpal-gumpal. Matahari belum muncul. Angin dingin bertiup kencang. Daun-daun dipenuhi embun. Di hadapan anak-anak itu membentang jalan tanah yang licin, berlumpur, dan penuh genangan air. Sejak pertama kali dibuka, itu terjadi tahun 1990-an, jalan selebar empat meter itu tak pernah di-onderlag. Rumput dan perdu memenuhi permukaannya. Pada musim hujan, jalan itu seperti sungai lumpur yang tebal.

Baca Juga :  Menafsir Makna Aksi Bakar Diri di Depan Istana Negara

Desa Sihaborgoan terletak di lereng sebuah bukit gundul yang hanya ditumbuhi alang-alang dan perdu. Hutan lebat yang mengelilingi desa itu, telah berubah menjadi serakan tunggul-tunggul kayu bekas penebangan. Kayu-kayu itu berwarna hitam mengarang bekas dibakar.

Belum lama hutan-hutan di sekitar desa itu dibabat secara besar-besaran, diubah menjadi lahan budidaya karet dan sawit. Ada banyak kebun karet muncul di sana, di lereng-lereng bukit itu. Kebun-kebun itu bukan milik warga Desa Sihaborgoan, tapi milik orang-orang dari kota.

Awal 2007 lalu, warga Desa Siharborgoan menggelar rapat bersama seorang ahli waris panusunan bulung (pembuka kampung) yang sejak lama menetap di Kota Padangsidempuan. Rapat itu memutuskan, mereka akan menjual seluruh lahan milik warga desa. Lahan-lahan yang merupakan tanah ulayat dan masih berupa hutan heterogen itu, akan dijual kepada siapa saja. Uang hasil penjualannya akan dipergunakan untuk memboyong seluruh warga meninggalkan desa yang terpencil itu.

Tapi, tanah-tanah ulayat itu belum laku. Padahal, harganya sangat murah, hanya Rp. 5 juta per hektare. Jika ada investor yang berminat membuka agrobisnis berupa budidaya tanaman keras dengan luas lahan ratusan hektare, mereka bisa datang menemui warga Desa Sihaborgoan. Lahan tanah ulayat milik warga desa itu mencapai ribuan hektare, seluas mata memandang, bentuknya bukit-bukit gundul ditumbuhi semak belukar dan alang-alang.

Mereka tak menggarap lahan-lahan itu karena ingin meninggalkan desanya. Kehidupan di desa itu hanya mengandalkan hasil berkebun holtikultura, yang hasilnya tak cukup untuk makan. Kehidupan itu memaksa para laki-laki meninggalkan desanya dan bekerja di Kota Padangsidempuan. Mereka bekerja apa saja, mulai dari buka bengkel tambal ban sampai menjadi sopir angkutan umum. Pulang sekali dalam sebulan untuk melihat keluarga.

Ditinggal suami pergi bekerja, para istri menjadi tulang punggung keluarga. Bekerja sebagai petani di ladang-ladang, mengurus anak dan orang-orang tua yang sudah uzur. Anak-anak yang tak semuanya bersekolah, karena di desa itu tak ada sekolah. Satu-satunya sekolah cuma di Desa Pargarutan, sekitar 10 km berjalan kaki melewati tiga bukit.

“Sering kami tak sekolah karena capai,” kata Pardomuan.

“Capai” adalah kata yang selalu mereka pakai selain kata “malu” karena selalu datang terlambat di sekolah. Jalan kaki dari Desa Sihaborgoan ke sekolah di Desa Pargarutan, melintasi tiga bukit yang menanjak dan menurun, juga dipenuhi lumpur, memaksa mereka harus sering beristirahat di tengah-tengah perjalanan.

Baca Juga :  Cedera Berat Pilkada Mandailing Natal

Mereka bisa saja berangkat lebih cepat ketika hari masih gelap, tapi tak semua anak-anak dari Desa Sihaborgoan itu punya keinginan untuk berangkat cepat-cepat. Sering juga, setelah menunggu salah seorang, ternyata anak itu tidak berangkat ke sekolah. Tapi, mustahil juga berangkat sendiri atau pergi tanpa menunggu kawan-kawan lainnya.

“Kasihan anak-anak dari Desa Sihaborgoan,” kata Marwan (45), warga Desa Pargarutan, pemilik warung yang berdiri di pinggir desa. Begitu tiba, anak-anak dari Desa Sihaborgoan langsung ke warungnya, ke sebuah tong berisi air yang ada di halaman warung. Setelah mencuci kaki yang berlumpur dan mengenakan sepatu, anak-anak itu berlarian ke sekolah.

Tak jarang, sesampai di sekolah, ternyata guru yang mengajar tak datang. Apalagi pada hari Kamis, bertepatan dengan hari pasar di ibu kota Kecamatan sipirok, sekitar 40 km dari Desa Pargarutan. “Jangan berharap guru-guru akan ada di sekolah saat hari pasar,” kata Marwan. (bersambung)

*) Budi Hutasuhut, kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan. staf pengajar FISIP Universitas Bandar Lampung, melakukan sejumlah penelitian antropologi budaya dan komunikasi dan telah dipublikasikan di sejumlah jurnal. Menulis cerpen, sajak, esai, novel, dan telah dipublikasikan di berbagai media cetak dan terkumpul dalam 25 buku.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*