MARKUSIP

Ditulis oleh Mr. Tanjung panyabungan.
http://panyabungan.page.tl/Adat-Mandailing.htm

MARKUSIP

Keadaan sudah jauh berubah di tanah Mandailing. Dahulu kala, hingga tahun 70an, cara berpacaran antara pemuda dan gadis adalah dengan cara markusip. Semua orang Mandailing tahu cerita markusip ini.

Caranya si pemuda akan datang ke sebelah rumah si gadis, ataupun ke kolong rumah si gadis pada malam hari. Waktunya, tentu setelah diperkirakan ayah si gadis telah tertidur.

Pada malam hari itu, si pemuda akan memanggil nama si gadis dengan berbisik. Si gadispun akan menjawab dengan berbisik pula. Bila telah berlanjut perkenalan ini, si pemuda akan tahan berbisik-bisik dengan si gadis ini sepanjang malam. Begitulah sistem bercinta di Mandailing pada zaman dahulu. Sejak hati mereka bertaut, si pemuda tak akan bosan-bosannya datang untuk markusip ke rumah si gadis ini pada malam hari. Ada pemuda yang datang setiap malam. Ada yang lima kali seminggu. Tergantung berapa rindu si laki-laki. Cara markusip ini cuma sampai berbisik-bisik. Tak lebih dari itu. Yang paling lucu, bila si pemuda ada di kolong rumah si gadis. Dia akan tetap  Berada di situ hingga pembicaraan mereka tuntas, atau mereka saling dapat mengobati rasa rindu mereka dengan pertemuan markusip itu.

Terkadang orang yang markusip akan saling mengenal setelah mereka membuat perjanjian untuk saling melihat. Bukan saling berjumpa. Sebab untuk berjumpa seorang gadis dan seorang pemuda, adalah sesuatu yang tabu di Mandailing pada zaman dulu. Jadi mereka cuma saling bertatapan dari jarak jauh. Dan malamnya markusip kembali. Si gadis tetap di dalam rumah. Dan si pemuda di kolong rumah. Begitulah cara markusip. Dalam acara markusip ini, biasanya akan membicarakan masalah percintaan atau masalah perkawinan mereka.

Baca Juga :  Kampung Setia yang Setia Melestarikan Nungneng

Si ayah atau si ibu tak pernah melihat gadis mereka bertemu lelaki. Tapi banyak di antara  mereka telah punya hubungan cinta dengan cara bisik-bisik atau dinamakan markusip di tanah Mandailing. Begitulah yang dirasakan si pemuda kalau mau memadu kasih. Dia mesti mau ke kolong rumah si gadis di gelapnya malam. Tak perduli ada ular atau lipan di situ. Sementara si gadis di dalam rumah. Begitulah cara markusip. Tapi semua ini sudah tinggal cerita. Tak ada lagi masyarakat yang melakukan markusip si zaman sekarang ini.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Saya ingin tahu apakah semasa markusip mesti menggunakan pantun? Adakah juga pasaangan yg markusip itu menggunakan kata pertuturanbiasa?

  2. Markusip…si doli tidak selalu dikolong rumah tetapi bisa berdiri di samping dinding yang sudah dilobangi sedikit agar aliran husip lebih terdengar, biasanya disisipi dengan bebagai pantun dan sepertinya sampai tahun 1980an masih ada sisitem berpacaran seperti itu, namun disamping acara markusip…sekalian membuat janji untuk bermain bersama secara bertemu langsung…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*