Marsialapari Budaya Mandailing yang Layak Dicontoh

Sadi Rangkuti

Oleh: Sadi Rangkuti *)

Setiap daerah mempunyai adat dan budaya nya sendiri,seperti halnya di Mandailing, Mandailing yang saya maksud adalah jika didaerah tersebut masih menggunakan bahasa Mandailing maka disitu juga akan mengikuti tradisi /budaya Mandailing , terlepas mereka menggunakan budaya Mandailing sedikit atau banyak . Mandailing adalah salah satu daerah di Sumatera Utara ,daerah Mandailing dulunya adalah daerah Kabupaten Tapanuli Selatan,tetapi setelah pemekaran Daerah Mandailing menyebar menjadi beberapa Kabupaten / Kota madya. yaitu Kab.Mandailing Natal (Madina)Kota Padang Sidimpuan,Kab.Tapanuli Selatan,Kab: Padang Lawas (Palas) Kab: Padang Lawas Utara (Paluta).

DiMandailing ada tradisi Marsalapari, Marsalapari merupakan budaya atau kearifan lokal Mandailing, Marsalapari berasal dari dua suku kata yaitu alap (jemput/ambil) dan ari (hari), kemudian ditambah kata awalan mar yang berarti saling, sementara si adalah kata sambung  jadilah kata marsialap ari (saling menjemput /mengambil hari ) , jadi menurut bahasa Marsialapari adalah saling menjemput hari. Marsialapari menurut istilah adalah suatu kegiatan tolong menolong  dan gotong-royong yang dilakukan masyarakat mandailing secara sukarela dengan rasa gembira dan ber harap ketika kita pergi menolong/membantu  saudara kita yang membutuhkan maka kita juga dapat bantuan yang sama disaat kita membutuhkan ,biasanya dilakukan disawah atau kebun. jadi Marsialapari adalah kegiatan menolong orang lain secara bersama-sama  dengan rasa gembira dengan harapan orang lain tersebut menolong kita diwaktu lain ketika kita membutuhkan. Jumlah harinya juga dihitung berapa hari kita kesawah si A  maka si A juga akan datang kesawah kita dengan jumlah hari yang sama.

Baca Juga :  Laskar ‘Pelangi’ Sipirok, Letnan Sahala Muda Pakpahan dan Benteng Huraba di Padang Sidempuan: Lahirnya Tokoh-Tokoh Militer dari Tapanuli Bagian Selatan

seiring berjalannya waktu dan orang Indonesia biasanya melakukan penyederhanaan ucapan,maka marsialap ari,berubah kata menjadi satu kata yang dapat diucapkan  dengan sederhana menjadi Marsalapari.

Marsalapari adalah konsep tolong menolong yang saling menguntungkan,Marsialapari ini adalah kegiatan rakyat yang sudah turun temurun dilakukan,penulis sendiri melihat dan merasakan bagaimana kegembiraan dan nikmatnya ketika kita Marsalapari, Marsalapari dilakukan semua kelompok umur baik yang tua maupun yang muda (naposo-nauli bulung), saat manyuan eme(menanam padi) misalnya kita bisa mengajak enam hingga sepuluh orang baik teman atau keluarga,baik yang muda ataupun yang tua Marsalapari tusabanta (kesawah kita). Dalam satu hari bisa selesai manyuan , karena kita bekerja bersama,marsikojar-kojaran toap (saling mengejar hasil kerja),saat manyuan kita juga bisa mangecek (ngomong/bercerita) dengan teman kita yang lain,saling menyahut antara satu dengan yang lain, biasanya cerita yang paling menarik itu cerita muda-mudi (naposo –nauli bulung),atau cerita umak-umak(ibu-ibu ) yang hadir pada saat itu tentang masa lalu saat saat indah kehidupannya, ada juga cerita motivasi sukses dari orang-orang yang berhasil. biasanya ada yang memulai satu cerita maka kemudian bersahutan saling menimpali.

Bekerja bersama sambil bercerita dan menyambung antara satu dengan yang lain,tidak ada yang tidak bersuara semua akan kebagian,tak terbayangkan bagaimana riuhnya marsalapari, bekerja dengan hati riang tanpa terasa hari sedah mulai siang kerjapun sudah separohnya selesai. disawah tidak ada jam hanya dengan mengandalkan terik matahari kita sudah tau kalau waktu sudah zuhur atau  siang.maka satu orang akan mengatakan op..maradian ma ita?(op bagaimana apakah kita istirahat?)

Baca Juga :  Saro Mandailing, Bahasa Ibu Kita Dulu, Kini dan Esok

Pas istirahat biasanya semua yang hadir bersih-bersih dan solat Zuhur,dan kemudian sonob sudah menanti (sonob adalah kolak pisang).

Begitulah senangnya marsalapari, dan puncaknya yang paling ditunggu-tunggu ketika kita marsalapari adalah ketika manyabi (panen),dimandailing kalau manyabi harus dilaksanakan satu hari,beda Dengan manyuan atau manajak boleh beberapa hari tapi untuk manyabi hanya satu hari agar hasil panen langsung kelihatan.

Saat manyabi sudah pasti marsalapari ,manyabi itu bagaikan pesta yang dilakukan disawah. saat manyabi adalah saat yang paling ditunggu-tunggu baik oleh peserta marsalapari maupun anak anak.manyabi penuh kenangan dan sangat membahagiakan,dilain waktu penulis akan menulis khusus tentang kebahagiaan saat manyabi.

Setelah kita marsalapari ketempat yang lain maka pas digiliran kesawah kita orang lain yang datang, kita juga akan mendapatkan hal yang sama,berapa hari kita ketempat si A maka si A juga dengan jumlah hari yang sama akan datang ketempat kita,begitu juga si  B berapa hari si  B kesawah kita, kita akan datang marsalapari ke sawahnya dengan jumlah hari yang sama.

Dengan marsalapari pekerjaan yang sulit jadi ringan,mengerjakan sawah yang luas tidak perlu mengeluarkan uang.cukup dengan marsalapari.semoga budaya marsalapari ini terus berkembang di Mandailing dan dapat dicontoh oleh daerah lain,mari saling berbagi dan member solusi untuk negeri ini.

Terimakasih semoga bermanfaaat

Tulisan ini adalah ungkapan kerinduan yang sangat mendalam ke kampong halaman Mandailing.

Baca Juga :  Gordang: Alat Musik Prasejarah Mandailing

ancit ni namandurung

Sada-sada incor di batu

ancit ni namalungun

Sada-sada ilu madabu.


*) Sadi Rangkuti
www.kompasiana.com/bangsadi

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*