Masalah Kemiskinan – Sekeluarga Tinggal di ‘Kandang Kambing’

Satu keluarga terdiri atas lima warga Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, selama 15 tahun terakhir tinggal di rumah papan kecil dekat dengan kandang kambing milik warga.

Adalah Husni (50) alias Jaidup dan empat anaknya, Ega (20), Nurhalimah (13), Aliatas (10) dan si bungsu Daud (8), yang tinggal berdesak-desakan di rumah berukuran 2 x 1,5 meter, sekaligus bertetangga dengan kambing.

93356579a4b0b97adcdc89dd1905b094404b2ca Masalah Kemiskinan Sekeluarga Tinggal di ‘Kandang Kambing’
Rumah papan kecil (kiri) yang ditempati Husni dan empat orang anaknya di Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Madina. Di sebelahnya, tampak kandang kambing milik warga., Husni dan anak-anaknya bercengkerama di rumah papan kecil. Sejak 15 tahun terakhir mereka bertetangga dengan kambing.

Keluarganya tidak memiliki biaya untuk menyewa apalagi membangun rumah. “Untuk makan saja kami sulit, anakku hanya pemulung barang-barang bekas.Aku juga tidak mempunyai pekerjaan,” kata Husni, kepada METRO, Minggu (10/4).

Dalam sehari Husin bersama 4 anaknya hanya makan dua kali sehari, bahkan tak jarang pula sesuap nasi pun tak singgah di perut mereka. Husni mengaku sedih dengan nasib yang dialaminya. Sebab, harus membiasakan diri mencium bau taik kambing dan suara kambing mengembik. “Satu rumah papan ini aku tempati bersama dua anak laki-laki, sedangkan 1 unit dengan ukuran yang sama di sebelahnya ditempati dua anak gadisku,” tambah Husni.

Husni hidup di gubuk papan peninggalan orangtuanya tersebut selama 15 tahun terakhir. Istrinya sudah meninggal 8 tahun lalu, sejak itu juga Husni mengalami penyakit yang belum diketahui penyakit apa. Sementara, empat anaknya pernah bersekolah tetapi tak satu orang pun yang menamatkan SD. “Ada yang hanya kelas 2 dan ada yang kelas 4 sudah berhenti. Sebab, gak ada uang untuk membiayainya. Memang biaya untuk SD tak bayar namun untuk beri jajan dan beli pakaian sekolah saya tak mampu,” sebut Husin.

Baca Juga :  Sambal Tuktuk, masakan khas Tapanuli yang rasanya luar biasa

Sambil menangis Husni menceritakan, sebelumnya ia bekerja sebagai tukang deres di kebun karet milik warga sekitar. Dengan penghasilan sebesar Rp100 ribu per minggu. Tetapi sejak setahun terakhir pemilik karet menyita kembali kebunnya mengingat harga karet yang mahal. “Awalnya aku menderes di kebun milik warga sini, tetapi setelah harga karet tinggi dia tak memakai jasa penderes lagi. Untuk mencari usaha baru aku tak bisa karena penyakit saya yang terasa panas di seluruh badan,” ujarnya.

Dijelaskan Husni, akibat tak adanya uang dia tetap bertahan hidup dengan makan hanya sekali dalam sehari mengingat tak ada uang untuk beli beras. Sedangkan pekerjaannya saat ini hanya menanam ubi dan mengumpulkan kayu bakar.
“Aku tak tahu lagi bagaimana masa depan anak-anak. Soalnya aku tak bisa bekerja karena penyakit aneh ini,” keluhnya.
“Harapan kami pemerintah bisa menolong agar aku dapat pekerjaan untuk menghidupi anak-anak dan menyekolahkannya,” harapnya.

Warga setempat, Yanti, kepada METRO mengaku prihatin atas kehidupan yang dialami Husni. Sejauh ini warga hanya membantu dengan memberikan uang sekadar untuk beli makan dan itu terkadang. ”Kami bantu juga tetapi sekadarnya. Kami prihatin melihat Husni bersama anak-anaknya yang tak bersekolah,” sebutnya. Sementara itu, H Maratua Nasution, salah satu anggota DPRD Madina dari Dapil Panyabungan saat dikonfirmasi METRO mengenai kondisi Husni, mengaku, seharusnya Husni memeroleh bantuan dari Pemkab Madina dalam bentuk bantuan berkelanjutan. Dalam hal ini Maratua menyebutkan Pemkab semestinya memberikan bantuan pekerjaan. Sebab, kalau hanya bantuan finansial tak akan bisa memperbaiki kehidupan Husni yang memperihatinkan.

Baca Juga :  Mahasiswa Tabagsel Tuntut Penuntasan Kasus Century

“Kami akan survei ke lokasi dalam waktu dekat untuk mengetahui keberadaannya. Sebab, kalau masih ada warga miskin seperti itu harus dibantu. Dan bantuan yang tepat mengingat Husni tak memiliki pekerjaan adalah lowongan kerja kepadanya,” sebut praktisi politik dari PKS ini. (wan) (metrosiantar.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*