Masyarakat Kopi Sipirok Beri Petani Kopi Pelatihan Marketing

Oleh : By Budi Hatees *)

Kelompok sedang mencoba menjual produknya

Robinson (45), petani kopi asal Desa Pahae Aek Sagala, berjalan perlahan menuju sekumpulan orang yang sedang duduk. Ditemani tiga rekannya, satu diantara mereka membawa cangkir berisi kopi yang baru diseduh, Robinson yang  menjadi juru bicara kelompoknya mulai menyusun strategi untuk menjual kopi seduhan yang diberi nama “Kopi Dangdut”.

Bak tim marketing professional,  kelompok itu menciptakan motto “Kopi Dangdut” berbunyi: Sekali  Diminum Lidah Bergoyang.  Itulah keunggulan Kopi Dangdut yang dikomunikasikan Robinson kepada calon konsumen. Selain itu, Robinson juga menuturkan bahan-bahan baku dasar pembuatan kopi, dan khasiat dari minuman yang menyegarkan itu.

Sayangnya, si calon konsumen yang berasal dari kelompok lain, tak bisa diyakinkan untuk membeli Kopi Dangdut. Alasannya, kopi hasil seduhan itu  kurang sedap untuk diminum.  Robinson dan kelompoknya tak jera,  mereka kembali melangkah menemui kelompok-kelompok lain.

mks5 Masyarakat Kopi Sipirok Beri Petani Kopi Pelatihan Marketing
MKS dan HM Sampurna Padangsidempun berfoto
dengan petani kopi peserta pelatihan

Begitu terus-menerus, mereka mendatangi enam kelompok hingga Kopi Dangdut akhirnya terjual. Meskipun, dari enam kelompok calon konsumen,  hanya dua kelompok yang bisa diyakinkan untuk membeli Kopi Dangdut.

Adegan itu berlangsung dalam Pelatihan Marketing yang digelar Masyarakat Kopi Sipirok (MKS) dan Ovata Indonesia di Desa Kampung Purbasinomba, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, pada September 2014 lalu. Dihadiri sebanyak 60 petani kopi dari berbagai desa di wilayah Kecamatan Sipirok, pelatihan itu digelar bekerja sama dengan PT HM Sampoerna Kota Padangsidempuan.

Baca Juga :  Messi Raih Ballon d'Or 2010

Ketua Masyarakat Kopi Sipirok (MKS), Muhammad Yunus Hutasuhut,  mengatakan pelatihan marketing untuk memberdayakan petani kopi di Sipirok agar mereka paham cara menjual hasil budidayanya. Dengan memahami marketing, petani diharapkan punya posisi tawar di hadapan para pedagang pengumpul yang selama ini mengatur tata niaga kopi hasil budidaya.

“Petani bisa menentukan harga kopi. Kalau pengumpul tak bersedia membeli seharga yang ditawarkan petani, petani bisa mencari pembeli lain yang bersedia membeli sesuai harga yang ditawarkan,” katanya.

mks2 Masyarakat Kopi Sipirok Beri Petani Kopi Pelatihan Marketing
Erwisyah Siregar dari Ovata Indonesia (kiri), Budi Hutasuhut (tengah), dan Muhmmad Yunus dari Masyarakt Kopi Sipirok

Selain pengetahuan tentang marketing, Yunus mengatakan MKS juga memfasilitiasi petani-petani kopi yang ada di Kecamatan Sipirok, Angkola Timur, Arse, Simangambat, Biru, dan sebagainya agar bisa menghasilkan kopi yang berkualitas. Untuk itu dibutuhkan proses yang benar dari menanam hingga menjadi biji kopi.

“MKS meningkatkan pengetahuan petani kopi tentang memilih bibit unggul, menanam,dan memproses kopi yang lebih baik. Hasil kopi yang berkualitas akan berimbas pada nilai jual kopi itu sendiri,” katanya.

MKS tidak hanya memberikan pemahaman kepada petani kopi tentang budidaya kopi, tapi juga mempromosikan kopi dan membuka pasar bagi mereka agar produksi dan kualitas bisa meningkat.

“MKS juga bekerja mengumpulkan semua elemen, dari petani kopi,petani pembibit kopi, pengusaha, pemerintah, UKM, hingga masyarakat penikmat kopi. Pada akhirnya, MKS berniat mempromosikan kopi Sipirok ke kancah nasional dan internasional,” katanya. / http://suaratabagsel.blogspot.com

Baca Juga :  Tuntut Perpindahan Ibukota Tapsel - Massa Bakar Dua Alat Berat dan Rusak Rumah Wakil Bupati

budihatees 776944024 Masyarakat Kopi Sipirok Beri Petani Kopi Pelatihan Marketing

*) Budi Hatees, Penulis adalah peneliti di Matakata Institut – lahir dengan nama Budi Hutasuhut, 3 Juni 1972 di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara. Pengajar komunikasi di Fisipol Universitas Bandar Lampung (UBL) ini banyak menulis masalah komunikasi di berbagai media dan jurnal. Tahun 2009, memutuskan berhenti mengajar dan bekerja sebagai Direktur Program untuk MatakaInstitute, lembaga konsultasi komunikasi dan pencitraan yang terlibat dalam program peningkatan citra di lingkungan Divisi Propam Mabes Polri.

Budi Hatees dapat dihubungi lewat Email: budi.hatees@gmail.com.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*