Masyarakat Madina Resah, Harga Beras Capai Rp 7.000 Per Kg

Dalam seminggu ini harga beras di tingkat pedagang sudah Rp 7.000 per kilogram yang sebelumnya masih Rp6.000 per kilogramnya. Harga beras terus merangkak naik Rp200 sampai Rp 300 perkilogram mengakibatkan kaum ibu

di Mandailing Natal resah akibat terjadinya pembengkakan pengeluaran dapur yang sudah terhitung pas-pasan dari suami.

Harga bahan pokok ini harus menjadi perhatian pemerintah sebab harga ini akan menyayat hati masyarakat di perparah saat ini musim panen yang gagal di beberapa kecamatan seperti di Siabu, Bukit Malintang, Panyabungan Utara dan Panyabungan, sebut Lasniari Nasution (56) warga Desa Mompang julu di Pusat Pasar Panyabungan, Minggu (24/10).

Diceritakannya, dalam satu hari keluarga kami mengonsumsi beras sebanyak 4 Kg, sedangkan kepala keluarga hanya mempunyai mata pencaharian buruh tani harian dengan penghasilan Rp 40.000 setiap harinya dan itulah dibagi untuk kebutuhan dapur serta kebutuhan anak-anak yang masih sekolah.

“Memang beras tersebut adalah penghasilan dari petani yang kita banggakan mempunyai harga yang luar biasa, namun kita yang tidak mempunyai lahan pertanian ini merasa sedih akibat dari berbagai kebutuhan pokok yang meningkat,” katanya.

Diakuinya, beras raskin (beras miskin) mejadi pelarian untuk kita keluarga miskin ini, namun beras raskin itu tidak datang setiap hari atau setiap minggu sebab datangnya kadang satu kali dalam satu bulan dan ada yang datang satu kali dalam dua bulan dan per kepala rumah tangga dengan jatah 15-20 Kg.

Baca Juga :  Gedung Eks Bioskop Presiden Digugat Sejak 1997

Sementara Rasoki Lubis salah seorang pedagang beras di Pasar Baru Panyabungan mengatakan, kenaikan harga terjadi karena pasokan beras berkurang, sedangkan konsumen tetap. Dia juga menambahkan, faktor lain penyebab kenaikan harga beras, yakni musim hujan, diperparah dengan banyaknya wilayah pertanian yang gagal panen akibat dari serangan hama tikus.

Kadis Perindustrian dan Perdagangan Madina, Drs Ahmad Ansyari Nasution mengakui, kenaikan harga beras tersebut diakibatkan mundurnya masa tanam yang mengakibatkan mundurnya panen, sehingga masa paceklik menjadi lebih panjang serta stok petani, penggilingan dan pedagang relatif menipis.

analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. yah.. beginilah jadinya.. asal jangan sampai seperti yang dibilang pepatah itu saja “HALEAN MOCCI / TIKUR DI LUMBUNG PADI”…
    Dari dulu..banyak orang mengetahui bahwa daerah wilayah Madina adalah salah satu Lumbung padi/sumber penghasilan beras yang bisa banyak berbicara di tingkat SUMUT atau ditingkat Nasional, jadi kalau masalah harga naik harusnya mereka senang dan kalau turun harusnya masyarakatnya sedih. Tapi kalau sampai kebalikannya, maka pihak pemda Madina/terkaid perlu mencari penyabab mengapa masyarakatnya bisa mengeluh kalau harga beras naik yang seharusnya bisa senang mengingat masyarakat pada umumnya adalah Petani.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*