Masyarakat Muara Batang Toru Tolak Limbah Tambang Mas Agincourt

159454578867330ec5fa03b881f7117266e338bb Masyarakat Muara Batang Toru Tolak Limbah Tambang Mas Agincourt
Tumpukan pipa pembangunan saluran limbah tambang mas Pt Agincourt bertaburan di kebun sawit PTPN-3

Hutaraja – AKS, Warga petani masyarakat 8 desa di Kecamatan Muara Batang Toru baru-baru ini aksi demo menolak pembangunan pipa pembuangan limbah Tambang Mas Pt. Agincourt ke hulu sungai Aek Batang Toru. Dasar penolakan karena pemukiman, perladangan, mata-pencaharian masyarakat yang berada di sepanjang hilir Aek Bt Toru akan terancam polusi dan kerusakan lingkungan.

Pada mulanya perusahaan tambang mas Pt. Agincourt membangun galian parit untuk menanam saluran pipa pembuangan limbah pas di belakang perkebunan sawit PTPN-3 Kebun Bt Toru. Sa`at pipa saluran limbah baru ditumpuk sekitar kebun PTPN-3 dan galian parit baru pada awal Maret 2012 lalu dikerjakan sepanjang 300 meter di belakang pos jaga kebun sawit PTPN-3, puluhan masyarakat Muara Bt Toru datang menyetop penggalian dan mengusir mandor dan pekerjanya.

Menanggapi pengusiran masyarakat, Pt. Agincourt ambil inisiatif untuk melakukan sosialisasi menceramahi masyarakat, dilakukan di Kantor Pemerintahan Kecamatan Muara Bt Toru di Desa Hutaraja. Pada hari Jum`at siang tgl. 30 Maret 2012 lalu rombongan perusahaan tambang Agincourt datang ke Hutaraja beserta sub-kontraktornya dikawal Kapolsek Bt Toru dan anggotanya.

Ketika masyarakat mengetahui bahwa yang diundang ikut rapat untuk diminta persetujuan hanya 4 orang warga setiap desa, masyarakat Desa Hutaraja dan Bandar Hapinis dan sejumlah warga Desa Tarapung, Ampolu, Muara Opu yng mencurigai kemungkinan adanya upaya penggiringan pendapat masyarakat, lantas bereaksi dengan datang beratus orang ke Kantor Camat Muara Bt Toru di Hutaraja. Secara koor serempak massa yang memenuhi kompleks perkantoran Kecamatan Muara Bt Toru berteriak riuh menolak pembangunan pipa saluran limbah tambang ke hulu Aek bt Toru. Serta massa mengancam akan mengusir paksa dengan kekerasan jika rombongan Pt. Agincourt beserta seluruh aparat pengawalnya tidak segera angkat kaki pergi dari Hutaraja.

Melihat gerakan massa sudah menjurus lepas kendali, rombongan Pt. Agincourt bersama Kapolsek beserta aparat pengawalnya yang ternyata tidak siap menanggung resiko dan memikul tanggungjawab keamanan, Jum`at sore itu juga buru-buru angkat-kaki bubar lari kabur dari acara pertemuan di Kantor Camat. Bahkan Camat Muara Bt Toru selaku tuan-rumah rapat pertemuan, ikut pergi meninggalkan kantor dinasnya.

Baca Juga :  Baru 59 Desa Yang Mencairkan Dana Desa Dari 303 Desa Di Kabupaten Padang Lawas Untuk Tahap Awal

Beberapa waktu kemudian, tepatnya 2 minggu setelah pengusiran paksa rombongan Pt Agincourt dari Muara Bt Toru, beredar surat undangan dari pihak yang menamakan lembaganya Forum Penyelamat Aek Bt Toru. Undangan tsb mengajak tokoh masyarakat dari Bt Toru dan Muara Bt Toru untuk hadir di pertemuan di Parsariran Desa Hapesong Baru          pada Jum`at 13 April 2012. Yang isi undangan, forum mengaku menghadirkan putra-daerah Tapsel dari Jakarta dr. Arif Sulaiman Siregar untuk jadi narasumber.

Masyarakat Muara Bt Toru yang sangsi pada dr Arif Sulaiman Siregar yang konon dir BUMN Pt. Inco (perusahaan tambang Nikel terbesar di Indonesia) serta diketahui menjabat ketua asosiasi tambang Indonesia, membuat mayoritas masyarakat Muara Bt Toru tak mau hadir bahkan menyatakan akan membuat lembaga perlawanan sendiri, yang kabarnya akan diketuai Ramli Pardede Kades Hutaraja. Sementara beberapa warga Muara Bt Toru yang hadir di pertemuan Parsariran Jum`at lalu, tetap tegas menyatakan penolakan terhadap saluran limbah tambang mas di hulu Aek Bt Toru.

Seorang tokoh masyarakat Muara Bt Toru asal Hutaraja, Fauzi Pulungan tegas menyatakan, “Kami rakyat kecil orang bodoh, pengusaha dan penguasa tak usah sok pintar coba kelabui kami dengan `menjual` segala macam teori manipulasi. Selaku masyarakat terkena dampak limbah tambang, sesuai aturan dan kenyataan kami tidak pernah tahu ada rencana buat saluran pembuangan limbah tambang Agincourt ke hulu Aek Bt Toru. Justru itu kami yang bermukim dan bermata-pencaharian di sepanjang Aek Bt Toru, selaku masyarakat terkena dampak limbah buangan tambang berhak untuk tidak mau terima pembangunan saluran pipa limbah tambang di daerah kami”, pungkas Fauzi Pulungan pada pers.

Baca Juga :  Peringatan Tsunami untuk Aceh dan Sekitarnya Diperpanjang

Hingga kini masih belum jelas kelanjutan pelaksanaan pembuatan parit guna penanaman pipa saluran limbah tambang ke hulu Aek Bt Toru. Konfirmasi ke pihak-pihak terkait semuanya nihil. Mulai dari Camat Muara Bt Toru, Ibrahim Lubis, Kadistam Tapsel, Baduaman Siregar, Asisten-2/Ekbang, Saulian Situmorang tak bisa dihubungi.

Menanggapi kemacetan situasi tsb seorang aktifis lingkungan dari lsm Alarm di Tabagsel, Ryzach Morniff Hutasuhut berkomentar, “Perencanaan pembuatan saluran pipa pembuangan limbah tambang Agincourt yang dulu diizinkan Bupati Ongku Hasibuan, terkesan prosesnya sengaja ditutupi dari pengetahuan masyarakat. Padahal peraturan pemerintah mengatur bahwa masyarakat terkena dampak lingkungan akibat kegiatan yang membuang limbah berhak mengetahui sejak dimulai perencanaan, terus ke penilaian sampai ke pengawasan. Kini terserah Bupati (baru) Syahrul Pasaribu untuk meluruskan kecurigaan masyarakat terhadap indikasi manipulasi perizinan limbah tambang Agincourt”. ( arm-h )

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

7 Komentar

  1. pemerintah daerah seharunya bisa lebih bijaksana….bupati syahrul pasaribu dengan bapeldada atau bapeldasu…menteri lingkungan hidup….ada permen yang mengatur tata cara pembuangan limbah industri logam….buka mata…buka telinga…pergunakan akal sehat…..diasahan ada pabrik alumanium…pt.inalum…bisa dijadikan contoh…..pembuangan limbahnya tidak mencemari lingkungan..dan keberadaan pabrik memberikan kontribusi peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar…..pengusaha dan kepala daerah jangan terlalu ego…karena pemerintahan ada disebabkan rakyatnya ada…..negara ini adalah milik rakyat….jadilah pemimpin yg amanah…wassalam

  2. lebih baik mati sekarang, daripada mati secara perlahan akibat limbah MU…..
    bukankah ada program pemerintah peduli lingkungan, baik air darat dan laut, tp menagapa limbah di buang ke lingkungan sungai di muara batang toru yang notaben dari sungai itu adalah sebagai sumber kehidupan masyarakat muara batang toru, khususnya HUTARAJA

  3. PT.Agincourt Resources,tdk bijak dalam membangun saluran untuk tailing.Perusahaan yg terlalu serakah.Harusnya Pemda setempat&DPRD Sumut,beserta jajarannyaharus evaluasi kegiatan eksplorasiini.Jangandikelabui dengan janji2 muluk mereka!!PT.AGC terlalu serakah memang.

  4. HARGA MATI UNTUK LIMBAH TAMBANG EMAS PT. AGINCOURT RESOURCES YANG TIDAK TAU MERUGIKAN MANUSIA YANG BODOH INI.!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. Kami menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat yang menunjukkan sikapnya, dan itu perlu sepanjang tidak ada sosialisasi dan penjelasan yang detail tentang amdalnya. Yang menjadi pertanyaannya, kenapa perusahaan ini dapai ijin dari Bupati sebelumnya tanpa ada persetujuan dari masyarakat ? Tambah emas memang sangat menggiurkan dan menjanjikan kehidupan yang lebih baik namun masa depan masyarakat lokal tidaklah dapat dinilai walau dengan berjuta ton emas sekalipun.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*