Mau Apa Lagi, PSSI?

Jakarta – Ketika tekanan mendera, PSSI di bawah kepemimpinan ketua umum Nurdin Halid terus berusaha memberikan bantahan-bantahan. Namun begitu hal tersebut sudah tidak berarti lagi.

Mulai tahun ini, tekanan kepada PSSI terus membesar. Keinginan masyarakat untuk adanya revolusi dengan ditandai pergantian pengurus terus mengemuka.

Bukan hanya kering prestasi yang membuat masyarakat menjadi tidak percaya lagi terhadap PSSI di bawah kepengurusan ketua umum Nurdin Halid. Pria berjuluk “Sang Puang” itu juga dianggap tidak layak karena “membelokkan” statuta FIFA sehingga dirinya terpilih lagi.

Tekanan datang, Nurdin dkk membela diri. Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X DPR, ia mengaku bahwa nyawanya terancam. Ketum PSSI sejak 2003 tersebut juga menuding statement Menpora Andi Mallarangeng memicu terjadinya demonstrasi suporter yang menuntut Nurdin mengundurkan diri.

PSSI (www.pssi-football.com) melalui situs resminya juga berusaha meng-counter segala hal yang terjadi di masyarakat. Bahkan dalam artikel yang berjudul “PSSI, Menggiurkan, Jadi Rebutan” (3/3/2011) tertulis bahwa tentara ikut bermain dalam munculnya mosi tidak percaya terhadap PSSI di bawah kepemimpinan Nurdin.

PSSI juga membantah telah melakukan kebohongan publik. Hal ini guna meng-counter pernyataan duta besar Indonesia untuk Swiss Joko Susilo yang mengatakan bahwa Nurdin Haild dan petinggi PSSI lainnya menyembunyikan isi surat FIFA tahun 2007 sehingga ia bisa tetap menjabat hingga sekarang.

Baca Juga :  Dugaan CPNS Gate Paluta, KPK harus Periksa Sekda

“PSSI panik. Mereka berusaha propaganda dan membentuk sesuatu yang kontra. PSSI selama ini memang reaktif,” ujar pengamat sepakbola Budiarto Shambazy saat dihubungi detikSport, Sabtu (5/3/2011) sore WIB.

Sikap panik ini didasari oleh sifat dasar para pengurus PSSI yang jumawa. “Mereka delapan tahun seenaknya tanpa kontrol. Kena kritik pun melengos saja. Kini ketika ada yang masuk ke wilayah mereka yakni LPI, mereka kalap, reaktif, dan cari cara untuk bertahan.”

Kepanikan membuat PSSI bingung harus bersikap seperti apa. Budiarto berpendapat bahwa tuduhan soal adanya tentara ikut bermain dalam munculnya mosi tidak percaya, bisa berisiko pada PSSI sendiri.

“Soal tuduhan kepada militer ikut bermain, itu bisa dituntut lewat pengadilan. TNI tidak urusan dengan hal-hal seperti ini. Urusan internal TNI sudah banyak, jadi ngapain mereka ikut urusin hal seperti ini. Bahwa George Toisutta mencalonkan diri, itu urusan lain,” ujar wartawan senior tersebut.

Menurut Budiarto, usaha meng-counter arus informasi yang dilakukan PSSI sudah tidak ada artinya. “Mau apa lagi? Mereka dalam situasi panik, kalap, lalu efektifkan situs resmi. Terlambat. Tidak akan efektif.”

“Masyarakat sudah tak percaya, sebab PSSI sudah tidak kredibel. Memang upaya ini wajar, upaya terakhir yakni melakukan counter. Tetapi tidak ada gunanya,” tuntas dia. (detik.c0m)
( nar / nar )

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Longsor di Dua Kecamatan di Tapanuli Selatan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*