Medan Darurat Narkoba

Oleh: Suadi *)

Cukup mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan ketika membaca salah satu berita di Koran Analisa Medan tanggal 6 November 2014 berjudul, “Medan Pangsa Pasar Peredaran Narkoba”. Kota Medan sebelumnya hanya sebatas transit peredaran narkoba, kini menjadi salah satu pangsa pasar narkoba. Tentu, kondisi ini merupakan darurat yang amat serius dan harus secepatnya diberantas karena sangat berbahaya merusak masa depan generasi bangsa.

Lebih mengkhawatirkan lagi, menurut data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumut menunjukkan bahwa dari 13,2 juta penduduk Sumatera Utara, 228.246 orang adalah pengguna narkoba dan 97.269 orang diantaranya adalah pelajar dan total biaya belanja narkoba dalam setahun mencapai Rp.3.116.997.611.148 atau dibulatkan sekitar Rp.3,1 triliun (Sumut pos, 4/4/14).

Narkoba sangat jelas begitu berbahaya. Tidak hanya merusak tubuh penggunanya, tetapi juga merusak masa depan dan menghabiskan banyak uang secara sia-sia. Seharusnya uang bisa dimanfaatkan untuk pendidikan, biaya hidup, atau membuka usaha, malah digunakan untuk membeli barang haram yang merusak tubuh, membunuh secara pelan-pelan dan menyebabkan banyak kejahatan. Pengguna yang sudah kecanduan bila tidak memiliki uang ketika ‘sakaw’, maka rela dan nekat melakukan apapun meskipun harus berbuat kriminal dan berbahaya untuk mendapatkan uang dan membeli narkoba.

Darurat Narkoba

Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan bahan adiktif lainnya. Seperti opium, morfin, heroin, kokain, ganja, mariyuana, ekstasi dan lain-lain yang berbentuk pil, cairan, bubuk maupun daun-daun kering. Penggunanya biasa mengkonsumsinya dengan cara menelan, menghirup atau melalui suntikan di pembuluh intravena. Efeknya, selain merusak saraf otak, merusak tubuh juga merusak pikiran seperti depresi, terus-menerus dihantui mimpi buruk serta merusak mental karena penggunanya terpaksa melakukan apapun demi mendapatkan uang untuk membeli narkoba seperti mencuri, merampok, menjambret dan lain-lain.

Baca Juga :  Kepentingan Di Atas Kepentingan

Intinya, menggunakan narkoba tidak ada manfaatnya samasekali, kecuali penggunaan terbatas dan pengawasan ketat dalam dunia kedokteran dan penelitian seperti penggunaan bius untuk operasi bagian tubuh akibat kecelakaan parah.

Menurut data dari BNN pada 2013, Provinsi Sumut merupakan surga peredaran narkoba nomor 3 di Indonesia setelah Jakarta dan Kepulauan Riau. Tingginya permintaan narkoba karena banyak narkoba yang dijual dalam bentuk kemasan kecil seperti sabu-sabu yang dijual dalam paket kecil seharga Rp.40 ribu sampai Rp.50 ribu dan menyasar pengguna remaja, pelajar dan warga kelas menengah ke bawah dengan tingkat ekonomi rendah. Bahkan menurut prediksi BNN, angka pengguna narkoba di Indonesia pada tahun 2015 nanti akan mencapai 5,6 juta orang atau 2,8 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Beberapa waktu lalu Polresta Medan juga memusnahkan barang bukti narkoba yang disita dari 27 tersangka sejak 19 Agustus sampai 25 September 2014 yaitu 667 kilogram ganja, 27,7 kilogram sabu, 34.850 butir ekstasi dengan nilai nominal sekitar Rp.45 milyar. Itu masih yang tertangkap, bagaimana pula yang masih berkeliaran dan beroperasi secara diam-diam di luar pantauan pihak kepolisian.

Peredaran narkoba yang semakin marak dan masif tidak terlepas dari banyak faktor. Diantaranya faktor posisi Sumatera Utara, khususnya Kota Medan yang strategis, di ambang perairan Selat Malaka, di antara negara yang terkenal sindikat narkobanya Myanmar, Vietnam dan Thailand (Golden Triangle), banyaknya pelabuhan-pelabuhan tikus (pelabuhan kecil) sebagai akses selundupan, pemanfaatan teknologi informasi yang kian canggih, rendahnya peran serta kepala daerah, kurangnya partisipasi masyarakat untuk melaporkan tindak peredaran narkoba serta rendahnya pendidikan moral dan agama.

Baca Juga :  Marsuo Di Tongan Dalan

Faktor-faktor tersebut mempercepat peredaran narkoba masuk ke daerah-daerah sampai pedalaman. Apalagi kota besar seperti Medan dengan jumlah pengguna dan angka permintaan yang tinggi, tentu menjadi peluang bagi sindikat narkoba internasional dan lokal untuk semakin pintar mendistribusikan narkoba dan menangguk untung.

Kerjasama pihak kepolisian dengan masyarakat menjadi keniscayaan. Karena, gerak-gerik mencurigakan terkait narkoba, pengguna dan pelaku akan dengan mudah terendus dan dikejar bila informasi dari masyarakat disampaikan secara langsung dan cepat kepada pihak kepolisian dan pihak kepolisian langsung menindak cepat di lapangan.

Namun, akan membutuhkan waktu relatif lebih lama bila hanya pihak kepolisian yang bergerak, tanpa partisipasi masyarakat. Karena baik pengedar maupun konsumen narkoba bersembunyi di pemukiman warga. Bisa jadi pengedar ataupun pecandu narkoba itu adalah saudara, tetangga, kenalan, teman bahkan anggota keluarga.Untuk itu, peran masyarakat sangat penting untuk ikut memberantas narkoba.

Peran Semua Pihak

Narkoba termasuk kejahatan serius dan dipandang sebagai kejahatan sama berbahayanya dengan teroris. Sehingga pelakunya mendapatkan hukuman berat baik penjara seumur hidup maupun hukuman mati. Sikap tegas hukum diperlukan agar pelaku, pecandu maupun masyarakat mengambil pelajaran dan menjadi shock terapi untuk tidak coba-coba mengedarkan, mengkonsumsi maupun terlibat dalam sindikat narkoba.

Peran polisi, pemerintah daerah, masyarakat, sekolah hingga unit-unit terkecil keluarga harus bersatu padu melawan narkoba. Pemberian arahan dan pelajaran betapa berbahayanya narkoba di sekolah dan kampus sangat perlu, kedua orangtua mengarahkan anak-anaknya agar menjauhi narkoba dan partisipasi masyarakat memberikan laporan kepada kepolisian atas tiap gerak-gerik peredaran maupun aktivitas pecandu narkoba agar bisa ditindak secara cepat.

Baca Juga :  Saatnya Memilih

Pendidikan moral dan agama juga sangat ditekankan baik di lingkungan keluarga maupun sekolah untuk menjauhi narkoba baik sebagai barang haram yang dilarang agama, berbahaya merusak tubuh, fikiran dan merusak masa depan juga ancaman penjara.

Tentu, kita tidak ingin generasi muda terjerumus ke dalam narkoba. Angka-angka statistik yang diperlihatkan dalam laporan BNN menjadi pelajaran sekaligus peringatan bahwa narkoba sudah merajalela di sekitar kita dan kita patut waspada menjaga diri, keluarga, teman-teman dan masyarakat sekitar kita untuk tidak terjebak ke dalam aktivitas narkoba, karena narkoba sangat berbahaya dan merusak masa depan. ***/analisadaily.com

*) Penulis alumnus UMSU Medan.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*