Medan (Harus) Jadi Simbol Kerukunan Umat Beragama

Oleh : Eka Azwin Lubis *)
Konflik horizontal yang diakibatkan perbedaan agama dan keyakinan kerap kali terjadi di Indonesia. Setelah beberapa tahun lalu isu Ahmadiyah begitu hangat diperbincangkan karena menimbulkan konflik diberbagai daerah hingga tak jarang berujung pada jatuhnya korban jiwa, kini muncul kasus baru yang cukup menghentak hati kita karena berakibat pada pembantaian dan pembakaran kampung kaum islam syiah di Sampang Madura yang kembali berakhir pada melayangnya nyawa manusia.

Hal ini menjadi bukti bahwa bangsa kita memang masih sangat intoleran jika bersentuhan dengan isu perbedaan agama dan keyakinan. Padahal sama-sama kita sadari bahwa meskipun Indonesia terdiri dari mayoritas penduduk yang beragama Islam, namun bukan berarti negara ini merupakan negara Islam. Sebab ada beberapa agama lain yang juga dianut oleh penduduk Indonesia, dan bahkan agama Islam itu sendiri juga memiliki beberapa golongan layaknya agama lain yang juga dianut oleh penduduk Indonesia. Sehingga harusnya tidak ada pihak yang merasa paling berhak akan negara ini.

Dari situ dapat kita nilai bahwa konflik yang diakibatkan oleh perbedaan sudut pandang yang berkaitan dengan kaidah agama, merupakan sesuatu hal yang naif karena terjadi di negara yang plural ini. Apalagi kelompok-kelompok yang bersengketa tersebut telah ada di Indonesia jauh sebelum negara ini merdeka, sehingga para pembawa ajaran setiap kepercayaan dan agama tersebut juga memiliki andil dalam hal memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Oleh sebab itu harus kita akui bahwa negara ini lahir tidak hanya berkat perjuangan dari golongan tertentu, namun negara ini dapat merdeka karena persatuan yang digalang oleh berbagai elemen masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang berbeda-beda baik itu suku, agama, keyakinan, dan kita semua harusnya sadar bahwa meskipun kita memiliki keyakinan dan kepercayaan yang berbeda, namun kita semua memiliki hak-hak yang sama didalam menjalankan kehidupan bernegara terutama dalam hal beragama dan berkeyakinan.

Tidak jelas apa yang menjadi penyebab begitu gampangnya masyarakat kita untuk terprovokasi isu-isu yang berkaitan dengan agama dan mengambil langkah represif dalam menyelesaikannya. Padahal jika kita jernih berfikir, semua agama yang ada didunia ini senantiasa mengajarkan kebaikan dan mencintai perdamaian, sehingga umat yang mengaku beragama juga harus mengamalkan ajaran agama tersebut yang sangat tidak toleran terhadap kekerasan apalagi berujung pada melayangnya nyawa orang secara sia-sia.

Peran pemerintah dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama juga agaknya berjalan nihil sebab konflik demi konflik terus bermunculan silih berganti diberbagai tempat yang dipicu oleh masalah kaidah agama. Andainya selama ini peme rintah bertindak netral terhadap semua masyarakat tanpa melihat latar belakang agama dan keyakinannya, dapat dipastikan konflik seperti ini tidak akan terjadi atau setidaknya dapat diminimalisir.

Baca Juga :  Menyoal Sertifikasi Guru

Namun hal ini tidak berlaku, pemerintah sejauh ini justru pro terhadap kaum mayoritas dan terkesan mengenyampingkan hak-hak kaum minoritas sehingga secara gamblang mereka yang merasa ada dibalik pemerintah terus bertindak sesuka hatinya untuk menyingkirkan hak-hak kaum minoritas. Peran menteri agama yang harusnya menjadi fasilitator semua pihak yang bertikai untuk menemui satu titik kesepakatan agar dapat hidup rukun juga tidak terlihat sama sekali. Menteri agama justru senantiasa mengeluarkan kebijakan kontroversi mengenai perbedaan keyakinan antar umat beragama yang tidak jarang semakin memperkeruh suasana karena ada pihak yang merasa jumawa karena golongannya dianggap benar sementara yang lain dipersalahkan. Ini jelas merupakan bentuk kegagalan pemerintah dalam membina kerukunan umat beragama di Indonesia. Jika hal ini terus menerus dibiarkan, bukan tidak mungkin konflik-konflik antara sesama masyarakat Indonesia yang dipicu oleh isu agama dan keyakinan akan berjalan silih berganti yang nantinya akan menyebabkan perpecahan antara sesama kita.

Medan Harus Menjadi Contoh

Medan sebagai ibukota provinsi Sumatera Utara dan merupakan kota nomor tiga terbesar di Indonesia juga dihuni oleh masyarakat yang beragam latar belakang baik itu suku, agama, maupun budaya layaknya kota-kota lain di Indonesia. Stereotipe yang menyatakan Medan adalah kotanya orang Batak juga kerap diyakini terutama bagi mereka yang berada diluar pulau Sumatera. Sementara Batak yang mereka pahami juga hanya satu yakni Batak Toba sebagai Batak yang memiliki marga paling banyak diantara Batak lainnya.

Padahal Medan sendiri didirikan oleh orang Batak Karo yang bernama Guru Patimpus Sembiring Pelawi. Kerajaan yang ada di Medan juga bukan kerajaan Batak, namun kerajaan Melayu yang dikenal sebagai Kesultanan Deli yang konon dipimpin oleh raja-raja keturunan Mandailing. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada suku atau kebudayaan yang memiliki dominasi paling banyak di kota Medan karena semuanya punya sejarah masing-masing yang panjang di kota ini.

Hingga saat ini, tidak hanya suku bangsa saja yang beraneka ragam mewarnai kehidupan masyarakat Medan. Namun berbagai agama dan kepercayaan juga tumbuh subur dan hidup damai disini. Islam tetap menjadi agama mayoritas di Medan, namun Kristen baik itu Katholik maupun Protestan juga memiliki penganut yang banyak dan bebas menjalankan syariat agamanya. Selain itu umat Budha dan Konghuchu juga mendapat hak yang sama dalam menjalankan ajaran agamanya dan bebas beribadah sesuai tuntutan agama mereka tanpa ada intervensi apalagi intimidasi dari pihak-pihak lain yang mengganggu kenyamanan mereka dalam beribadah.

Baca Juga :  Nazaruddin Mulai Melempar Granat

Bahkan umat Hindu di kota Medan ini meskipun jumlahnya tidak sebanyak agama yang lainnya, juga mendapat toleransi dari agama lain yang luar biasa hebat sehingga mereka bisa mendirikan kampung yang dikenal dengan nama Kampung Keling sebagai basis komunitas agama tersebut. Selain itu belakangan kita juga mengenal aliran agama Sikh yang muncul dari pecahan agama Hindu dan juga terdapat di kota Medan. Mereka hidup dengan damai dan bebas menjalankan ajaran agamanya dan semua pihak tetap menghormati dan menjaga hak-hak mereka dalam beragama dan berkeyakinan.

Selain itu berbagai golongan yang ada didalam masing-masing agama tersebut juga terdapat di kota Medan. Tentu mereka juga memiliki komunitas yang rutin menjalankan ibadahnya sesuai kepercayaannya, namun satu hal yang perlu mendapat apresiasi adalah mereka tidak pernah merasa terganggu apalagi punya niat untuk mengganggu golongan atau agama lain yang menjalankan syariat agama atau kepercayaannya masing-masing meskipun berbeda dari golongan lainnya. Ini menjadi bukti bahwa Medan harus bisa menjadi contoh dan simbol dari kota yang tetap mengedepankan kerukunan umat beragama karena memiliki masyarakat yang mempunyai nilai toleransi yang cukup tinggi.*** (analisadaily.com)

*)Penulis adalah mahasiswa PKN Unimed dan staf Pusham Unimed.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*