Medan Ranking 4 Kekerasan Seksual Anak-Anak

MEDAN – Kota Medan menduduki ranking ke-4 terbanyak dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak setelah setelah Jakarta, Makassar dan Jawa Barat.

Menurut Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait di Medan, akhir pekan data terbaru yang mereka peroleh setiap tahunnya menunjukkan, dari sejumlah 21 juta anak di Indonesia, Medan menduduki peringkat keempat kasus kekerasan seksual, dengan sekitar 62 persen pelakunya oleh orang terdekat korban.

Memang, kata dia, faktor tingginya kasus kekerasan anak, umumnya dikarenakan kemiskinan serta hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dengan anak, sehingga tanpa disadari kedekatan terhadap kekerasan anak terbangun dengan sendirinya.

Selama ini, lanjutnya, kasus kekerasan seksual yang dialami anak tidak dapat tuntas ditangani oleh aparat, karena terbentur alat bukti yang tidak mencukupi. Padahal, untuk menjerat pelaku, cukup dengan alat bukti berupa keterangan korban atau melalui psikolog serta observasi medis berupa hasil visum.

Untuk itu ujarnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumatera Utara (Sumut) belum bekerja secara maksimal dalam memberikan perlindungan untuk melawan segala bentuk kekerasan terhadap anak di wilayah tersebut.

Bukti lemahnya kinerja KPAID Sumut, kata Arist, perilaku perbuatan seks bebas yang terjadi di kalangan anak-anak usia remaja di Kabupaten Toba Samosir yang jaraknya hanya sekitar 248 kilometer dari Medan, kini  merupakan ancaman sangat serius dan perlu mendapat perhatian besar, agar para remaja tunas bangsa tersebut tidak menjadi korban sia-sia.

Baca Juga :  Berkas lengkap, Gatot dan Evy segera disidang

“Dari sejumlah 423 anak remaja SMP dan SMA yang diteliti pertengahan tahun 2011, sebanyak 68,7 persen responden mengaku pernah melakukan kontak seksual dengan teman sebaya, pacar dan orang dewasa hidung belang,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, 93 persen responden yang diteliti melalui wawancara mendalam (indept interview) mengaku pernah menonton tayangan pornografi dan 12,2 persen dari 423 responden tersebut mengaku pernah melakukan aborsi.

Dikatakannya, faktor penyebab yang mendominasi, di antaranya, penggunaan situs jejaring internet yang digunakan secara tidak sehat dan pemahaman tentang alat-alat reproduksi dan pendidikan seksualitas yang rendah, baik di dalam lingkungan rumah maupun sekolah.

Berdasarkan pengamatan yang mereka lakukan, kata dia, di Kabupaten berpenduduk sekitar  175.277 jiwa itu, terdapat tiga titik pusat peredaran Narkoba yang perlu diwaspadai, agar penyebarannya tidak semakin meluas, yakni di Kota Balige, Laguboti dan Porsea.

Menurut Arist, KPAID Sumut bersama Pemerintah Kabupaten setempat telah lalai, sehingga kasus kekerasan dan perilaku seks bebas bisa menunjukkan angka yang sedemikian menakutkan di daerah tersebut.

“Segala bentuk kekerasan, eksploitasi ekonomi dan ekspolitasi seksual serta penjualan dan penculikan anak untuk tujuan adopsi illegal, perdagangan anak untuk tujuan eksploitasi seksual komersial dan korban Narkoba harus segera dihentikan,” sebutnya.

Sumber: waspada.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Maling Bobol BRI Unit Pinang Sori, Rp 1 M raib

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*