Melihat dari Dekat Shooting Film Televisi (FTV) “Ulos Simalakama”; Lagi, Cerita dari Tanah Batak Difilmkan

Oleh: Baharuddin Saputra

Deddy Mizwar, Rabu (16/6) lalu, singgah sebentar di lobby Hotel Tiara Medan. Dia melakukan perjalanan panjang ke Pulau Banyak Nanggroe Aceh Darussalam, melihat dari dekat suasana kehidupan masyarakat setempat yang unik dan membuatnya berdecak kagum.

Tiba di Medan dia disambut oleh sutradara Edward Pesta Sirait, Rubby Karno dan Caroll Filla Silvana Gultom, kru dan pemain FTV “Ulos  Simalakama” yang usai shooting di Pulau Samosir. Dalam kesempatan singkat sekitar 30 menit, Bang Deddy berkenan berbincang dengan penulis seputar ide berilliannya selaku produser sekaligus disainer produksi ”sinema 20 wajah Indonesia”.

Menurut pemeran Nagabonar itu, garapan bersama sineas ternama dan beberapa sineas muda, merupakan wujud kebersamaan. Dunia film mencoba menghadirkan sesuatu yang beragam, kekayaan budaya Indonesia .

Ketika diinformasikan, saat ini insan film di sumatera utara berusaha bangkit untuk berbuat, lebih jauh ingin mencoba memproduksi film ya ng mengangkat potensi alam dan sumber daya manusia yang ada. Deddy  antusias memberikan sugesti, hal itu harus dilakukan segera. Sebab dia banyak tahu tentang perkembangan seni peran di daerah-daerah khususnya Sumatera Utara.

Tahun 1983 saat digelar festival film Indonesia di Medan, ketika itu dia ikut mendukung film Sorta bersama Mutiara Sani. Ketika itu dia melihat potensi anak Medan yang handal. Dalam kurun waktu yang begitu panjang, mestinya sudah tumbuh sejumlah orang film yang serius mendalam dunia sinematografi.

Deddy mengungkapkan potensi lain yang membanggakan orang Medan, namun belum digarap dengan baik, yak ni pajak tontonan yang cukup tinggi. Deddy Mizwar menegaskan, di dunia ini kota Medan merupakan kota yang memiliki pajak tontonan tertinggi sampai 30 %. Jakarta saja cuma 10%. Seharusnya Medan bisa memproduksi film yang baik. Insan film Sumut diminta harus bisa menerobos dan menelusuri penggunaan hasil pajak yang besar itu. Woooww Fantastis!!!

Kembali pada wajah Indonesia yang kaya dan beragam , mestinya diangkat sebagai sebuah tontonan yang memiliki nilai edukasi dan menghibur. Program ini berupa tayangan film televisi (FTV), menawarkan konsep baru. Tidak hanya dari sisi penggarapannya, juga jalan ceritanya yang berusaha menampilkan aspek Indonesia.

Menurut Deddy Mizwar, program ini menjawab keresahan pemirsa yang disuguhi tayangan televisi yang itu ke itu saja. Akhirnya didapat ide untuk menyajikan tema yang berbicara masalah-masalah Indonesia. Ternyata Indonesia itu sangat beragam.

“Film yang dibuat tak hanya memindahkan lokasi, tapi mengangkat nilai-nilai budaya, cara berpikir dan cara mengatasi masalahnya,” kata Deddy. Berangkat dari pemikiran tersebut, sesuai dengan acara ulang tahun SCTV yang ke-20, akhirnya dicari 20 skenario menggambarkan wajah Indonesia . “Kita ingin menampilkan yang terbaik sekaligus menebus dosa insan perfilman yang selalu mengangkat tema seperti itu saja,” ujar Deddy.

Baca Juga :  Setelah Miyabi, Giliran Sora Aoi Main di Indonesia

Terkait dengan itu, SCTV, kata sangat inovatif. Dulu sepertinya tidak mungkin ada program sinetron pada Ramadhan. Karena itu, FTV yang akan ditayangkan stasiun televisi SCTV berbeda lantaran menampilkan beragam wajah Indonesia. “Kalau seragam bukan Indonesia. Indonesia adalah keberagaman,” ujarnya.

Cerita yang menarik di Tanah Batak, memiliki nilai budaya  yang sarat berbagai semangat kedaerahan untuk bangkit menunjukkan jati diri. Menjadi salah satu kekuatan untuk memperkaya budaya Bangsa Indonesia . Tim penilai telah memilih cerita Ulos Simalakama,  karya  sutradara senior Edward Pesta Sirait. “Cerita ini memiliki warna kedaerahan yang kental. Edo sangat menguasai latar belakang  budaya Tanah Batak. Saya yakin cerita ini patut dibanggakan oleh warga Sumatera Utara dan Indonesia secara umum”, kata Deddy Mizwar.

Ulos Simalakama

Ceritanya  menarik untuk disimak. Konon tersebutlah seorang lelaki bernama Togar Silalahi (diperankan oleh aktor muda Yama Carlos yang top lewat iklan rokok dengan peran “sarjana ojek”. Ketika usai  lulus SMA dia minta izin pada Ibunya untuk merantau ke Jakarta melanjutkan sekolah dan bekerja. Saat hendak pergi, sang Ibu memberinya Ulos Parompa, untuk cucu pertamanya kelak.

Togar merantau saat belum berumah tangga. Kepergian Togar merantau meninggalkan sanak saudara dan seorang wanita yang bernama Saida Br Sidabutar (Diperankan oleh Aktris cantik dan muda Ghe d’Syawal yang konon akan dijodohkan menjadii istrinya. Dalam perantauan saat melalukan penelitian di lokalisasi, Togar berkenalan dengan seorang Wanita malam yang dia tolong saat dianiyana oleh sekelompok begundal.

Togar berhasil menyelamatkan wanita itu. Dia mengunakan ulos pemberian ibunya, untuk menyelimuti sang wanita. Akhirnya perkenalan mereka membuahkan persahabatan sangat dekat, hingga terjadi hubungan intim. Tanpa sepengatahuan Togar, wanita itu membesarkan benih dari Togar, hingga lahir menjadi seorang Pemuda yang gagah.

Disisi lain, Togar yang memperistri wanita sekampungnya, mendapatkan seorang buah hati, gadis nan jelita. Diceritakan dalam sebuah pertemuan gadisnya dan anak lelaki yang dilahirkan wanita malam itu berkenalan. Mereka berpacaran, hingga hampir sampai kejenjang perkawinan. Alangkah terkejutnya Togar, ketika dia diberitahu, kedua pasangan itu sesungguhnya adalah darah dagingnya. Togar berontak. Dia tidak percaya pada penjelasan itu.

Dalam cerita yang dikemas dengan durasi sekitar 90 menit, penonton akan disuguhkan pada berbagai adegan menarik. Konflik bathin Togar sangat terguncang. Edo ingin membuat penonton penasaran dengan judulnya ulos simalakama. Bukankah yang pernah kita dengar, justru ungkapan buah simalakama: dimakan mati bapak, tak dimakan mati ibu?

Selain menampilkan aktor dan aktris dari Jakarta, ketika pengambilan gambar flashback di Pulau Samosir, tampil juga artis pendatang baru  Caroll Filla Silvana Gultom (Ibunya Saida) dan Betsy R Tarigan (ibunya Togar) beberapa artis Medan mendapat kesempatan bermain. Diantaranya Defi Eka Putri dan empat orang rekannya setelah ikut casting di Taman Budaya beberapa waktu lalu.

Baca Juga :  Woww... 2 Juta Orang Hadiri Pernikahan Pangeran William

Unik dan menarik

Uki Hustama, Kepala Departemen Humas SCTV mengatakan “20 Pesona Wajah Indonesia “ digarap secara serius oleh sejumlah sineas berpengalaman. Dengan teknik sinematografi handal, para penonton akan dibuat takjub oleh maha karya ini. “Lewat program ini kami mencoba menghadirkan cerita unik dan menarik dari 20 kebudayaan yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia ,”  seperti yang disiarkan media online. Beberpa judul yang sudah dan tengah digarap oleh para sineas diberbagai daerah.

Kambing Daliman, satu dari “20 Pesona Wajah Indonesia “ kini sudah digarap. Berlokasi di Desa Kedung Miri, Imogiri, Yogyakarta. Film ini berpusat pada tokoh Daliman, seorang buruh kasar asal Bantul. Dikisahkan pria yang sehari-hari bekerja di Pasar Bringharjo itu berharap banyak dari kunjungan kerja Bupati setempat bernama Bintoro.

Sebelumnya, Daliman mengenal Bintoro sebagai seorang sutradara yang pernah datang ke Desa Kedung Miri. Pada saat itu, Bintoro yang akan melakukan syuting sempat berutang seekor kambing pada Daliman. Konflik cerita mulai terjadi saat para aparat desa mencari-cari Daliman karena khawatir sang buruh akan menagih hutang pada Bupati.

Judul lain yang akan digarap adalah Wagina Berbicara. Karya Arswendo Atmowiloto yang digarap sutradara Dedi Setiadi, menceritakan seorang buruh pabrik cantik bernama Wagina. Buruh yang terus ditimpa cobaan, diceritakan melarikan diri karena panik. Gina dituduh telah menusuk suaminya sendiri yang dikenal senang melecehkan perempuan.

Selain kedua judul tersebut, “20 Pesona Wajah Indonesia” memunculkan judul unik lainnya, antara lain Ericka garapan sutradara Upi Avianto, Jalur Cianjur besutan Rako, Maafkan Saya Pak Menteri yang akan dikerjakan Imam Tantowi di Bogor, serta Sepatu Bola yang menceritakan kehidupan suku di Papua. Judul lainnya juga tengah disiapkan dengan mengusung beberapa sineas seperti Enison Sinaro, Aria Kusumadewa dan Chaerul Umam.

Penulis; Sekretaris Umum Forum Komunikasi Insan Film Sumatera Utara dan Pimpinan Lembaga Pelatihan Seni Budaya “senyum Production” Medan.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*