Melihat Susy Menari Kembali

Mundurnya Susy Susanti lebih dari sepuluh tahun lalu membuat dunia bulu tangkis Indonesia kehilangan satu gaya permainan yang memukau.

Melihat Susy Susanti bermain bulu tangkis tak ubahnya melihat gerak penari Jawa di atas panggung. Dengan footwork yang enteng, ia dengan mudah menguasai lapangan bulu tangkis. Sementara ayunan tangannya dengan menggunakan raket tak ubahnya saat para penari melemparkan selendang memainkan gerak tari.

1451027p Melihat Susy Menari Kembali

Di usia 39 tahun dan telah memiliki tiga anak, Susy masih memiliki footwork dan penguasaan teknik seperti pada masa jayanya. Yang kurang hanya satu: daya tahan dan napas. Karena itulah, saat menghadapi pemain pelatnas Maria Febe dalam acara Bulu Tangkis Peduli Merapi, di Solo, Minggu (19/12/2010), Susy seperti mengajarkan stroke kepada yuniornya, tetapi kalah karena kehabisan napas. Hanya usia dan penurunan stamina yang membuat Susy harus menyerah 26-30.

“Saya tidak pernah lagi bermain di turnamen resmi,” kata Susy. “Paling bermain bersama teman-teman di Kelapa Gading,” lanjut pemain yang pada masa jayanya dikenal dengan gerak split, yaitu peregangan kaki di lantai. Susy mengaku masih bisa melakukan gerak split. “Asal pemanasan cukup dan jangan sering-sering.”

Melihat Susy bermain, kita seperti kembali ke era 1990-an, saat putra-putri Indonesia menguasai bulu tangkis dunia. Indonesia menguasai Piala Thomas 1994-2002, sedangkan Susy dkk memegang Piala Uber 1994-1996. Pada masa itu para pemain putra, seperti Alan Budikusuma, Ardy BW, Ricky/Rexy, Taufik Hidayat, dan Candra/Sigit, membuat lapangan bulu tangkis sebagai arena pertunjukan yang menyenangkan karena selalu diakhiri dengan permainan seru sebelum meraih kemenangan.

Baca Juga :  Paluta Butuh Perbaikan Infrastruktur

Salah satu “seniman” dari era jaya Indonesia adalah Eddy Hartono. Saudara kandung pemain nasional Hastomo dan Haryanto Arbi ini dikenal memiliki teknik dan stroke yang lengkap. Di GOR Manahan Solo, Eddy, yang biasa dipanggil Kempong, membuat pertandingan menjadi menarik lewat pukulan-pukulan melalui selangkangan, ataupun memukul dengan tiga gerakan berurutan. Berpasangan dengan adiknya, Haryanto, Kempong leluasa mengeluarkan semua teknik pukulannya saat menghadapi Simon Santoso.

Aksi Susy dan Kempong tak pelak membuat penonton dan para pemain kembali sadar bahwa bulu tangkis bisa menjadi suatu entertainment, sesuatu yang menghibur. Karena itulah, tak berlebihan bila seniman Butet Kertaredjasa, yang menjadi pembawa acara Bulu Tangkis Peduli Merapi, langsung mengusulkan agar dimasukkan nomor tambahan yaitu acrobatic badminton, atau bulu tangkis akrobatik yang dimainkan dengan penguasaan teknik sempurna, seperti Harlem GlobeTrotters di dunia bola basket!

Ada yang berminat? (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*