Melihat Tradisi Kaum Bapak di Acara Pesta

Minggu, 25 Oktober 2009 – www.metrosiantar.com

KAUM BAPAK- Kaum bapak sedang memasak nasi di salahsatu pesta pernikahan di Desa Parau Sorat

AMRAN POHAN-SIPIROK

Di Sipirok yang merupakan bagian dari rumpun budaya Angkola (Tabagsel) misalnya, memiliki kebiasaan yang unik dalam melaksanakan berbagai aktivitas, salah satu contohnya di acara pesta. Sebagian besar di wilayah Sipirok, Kabupaten Tapsel, sifat gotong-royong tanpa mengharapkan imbalan masih terjaga dengan baik, semisal acara pernikahan, proses persediaan kebutuhan pesta, mulai pemasangan tenda, memasak konsumsi pesta, melayani tamu hingga proses adat masih dijalankan warga setempat secara suka rela tanpa mengharap imbalan jasa.

Seperti di salah satu pesta pernikahan warga di Kelurahan Parau Sorat, Kecamatan Sipirok, Minggu (18/10) lalu, rasa kebersamaan dan kegotong-royongan warga setempat masih kental dalam mengikuti dan menghadiri hajatan, mulai dari proses penyediaan bahan sayur pesta yaitu nangka dan lainnya, menyediakan tempat memasak, menyediakan lokasi acara bahkan memasak hingga acara selesai dikerjakan secara bersama tanpa diberi imbalan sama sekali.

“ini merupakan suatu kebiasaan yang dibawa secara turun-temurun, dan kiranya akan tetap dipertahankan oleh generasi mendatang,” kata salah seorang tokoh masyarakat Parau Sorat, Ali Akbar Pane (72) pada METRO seminggu lalu saat acara berlangsung.

Uniknya, dalam acara pesta tersebut yang menjadi tukang masak mulai dari nasi hingga seluruh lauk-pauk untuk keperluan pesta dilaksanakan oleh kaum bapak (laki-laki).

“Kalau tidak salah kebiasaan memasak nasi dan lauk ini mulai dilaksanakan kaum bapak sejak 1975. Sebelumnya yang memasak adalah kaum ibu dengan menggunakan belanga, namun dengan perhitungan memasak dengan belanga menimbulkan banyak makanan yang terbuang karena tiap belanga ada kerak, ditambah waktu luang kaum ibu lebih sedikit dengan kaum bapak akhirnya dialihkan memasak dengan dandang oleh kaum bapak di dapur umum dan hasilnya memang lebih epektif dan efisien,” katanya.

Baca Juga :  Mengapa Orang Batak Temperamental?

Ditambahkannya, yang berperan dalam proses memasak di dapur umum merupakan keluarga dekat yang punya hajatan dari pihak perempuan (anak boru) di bantu warga setempat, remaja (naposo nauli bulung).

“Di wilayah ini, rata-rata kaum bapak mulai dari yang muda hingga tua sudah mengetahui cara memasak nasi dengan dandang,” ungkap Ali Akbar.

Warga Desa Parau Sorat yang lain, Nasruddin dan Ramli Pohan, dalam proses memasak nasi dalam suatu pesta sudah dimulai sejak pukul 07.30 hingga pukul11.30 WIB dan dengan empat orang yang dipercayakan menangani langsung dengan dua unit dandang bisa memasak beras menjadi nasi sebanyak 15 kaleng (240 kilogram. “Satu dandang dimasukkan sekitar 13 kilogram beras, akan masak sekitar 35 menit, dengan dua kali di siram air mendidih,” rinci keduanya.

Sedangkan untuk memasak lauk-pauk, menurut keduanya relatif lebih cepat, dimana untuk memasak lauk lebih cepat karena hanya berlangsung sekali secara serentak, kalaupun ada yang dua kali masak, tapi dalam satu tungku,” jelas keduanya mengakhiri. (***)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*