Melirik Oleh-oleh Khas Kabupaten Tapanuli Selatan

Kamis, 26 November 2009 – www.metrosiantar.com

Salak Khas Dari Tapanuli Selatan

Berbagai Olahan Salak Dapat Dijadikan Pilihan
Ilmu pengetahuan memang penting dalam pengembangan kreativitas seseorang dalam melirik aneka peluang. Siapa sangka, salak juga bisa diolah menjadi dodol.

Berawal dari pengalaman belajar di IPB (Institut Pertanian Bogor), Gulma si perantau pun pulang ke kampungnya—Tapanuli Selatan—setelah berhasil melahirkan inovasi baru dari buah bersisik berwarna coklat yang selama ini dikonsumsi kebanyakan orang secara langsung, setelah dikupas.

Setelah mendapat dukungan dari bupati Tapanuli Selatan (Ir Ongku P Hasibuan), maka dibentuklah sebuah koperasi di bawah pimpinan Mariana Ongku (Ketua Dekranasda). Koperasi Agrina inilah yang akhirnya menangani pengolahan buah salak menjadi aneka makanan dan minuman yang saat ini terkenal menjadi oleh-oleh khas Tapanuli Selatan. Untuk dalam negeri, pemasarannya pun sudah memasuki wilayah Batam, Bali dan Medan. Sedang untuk pemasaran luar negeri, baru sampai ke Malaysia.

“Saya terpikir untuk mengolah salak (salacca edulis) ini agar daya tahannya lebih lama dan awet. Selama ini untuk buah salak segar biasanya hanya bisa bertahan dan dapat disimpan selama kira-kira 1-7 hari saja.” Kata Gulma yang sudah membuktikan salak olahannya bisa bertahan sampai delapan bulanan lebih.
Menurut Gulma, pada saat musim panen raya/panen besar di Tapanuli Selatan, biasanya harga salak di pasaran akan lebih murah, hingga para petani banyak yang rugi. Karena itulah maka timbul ide untuk mengolah salak ini agar punya nilai jual dan bisa bertahan di pasaran.

Baca Juga :  DPRD Kecam Aksi 'Cowboy' Brimob di Madina

Aneka olahan salak hasil karya Gulma, di antaranya, makanan dan minuman seperti dodol salak, keripik salak, madu salak, sirup salak, agar-agar, kurma salak, manisan salak, energi drink dan lain-lain yang semuanya berbahan baku buah salak.

“Saat ini tidak ada lagi limbah tersisa dari buah salak, bahkan untuk kulit dan bijinya pun kami dari koperasi Agrina sudah mengolahnya menjadi berbagai hiasan berupa souvenir yang laku dijual,” kata Gulma yang sudah berhasil menafkahi para karyawan selama usahanya berjalan.

Untuk jenis dodol, saat ini Gulma sudah memproduksi 5.000 kotak dalam sebulan, karena pesanan makin banyak.

“Beberapa teman dari Bogor juga pernah menguji dan berhasil menyimpulkan bahwa suatu saat dodol salak ini bisa jadi alternatif pengganti nasi.

Kenapa bisa? Karena dalam 100 gram salak yang sudah diolah itu adalah berasal dari 1 Kg salak murni. Jadi kemudian menyusut dan padat.

Makanya bisa mengenyangkan. Teman saya itu bisa tahan tidak makan nasi sampai sore setelah mengkonsumsi 3 potong dodol salak pada saat sarapan pagi.

Di samping itu, olahan salak ini juga bisa dijadikan sebagai makanan yang dikonsumsi untuk yang mau diet” tutur Gulma yang optimis kelak permintaan dodol salaknya makin meningkat. (pmo/int)

PostLink: https://apakabarsidimpuan.com/2009/11/melirik-oleh-oleh-khas-kabupaten-tapanuli-selatan/

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Warga desa Hulu Batang Pane, kec. Padang Bolak Butuh Jembatan Secepatnya

2 Komentar

  1. ini yang disebut anak muda kreatif…saya suka karya dan inovasinya..tinggal peluang untuk memasarkannya harus lebih diperluas. Kira-kira dimana ya alamat koperasi ini? saya tertarik untuk mejalin bisnis dengan beliau

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*