Memaknai Kasih dan Damai Natal

Oleh : James P. Pardede *)

Di salah satu kota kecil di daerah Sipirok, Tapanuli Selatan, sewaktu penulis masih kecil sering diajak ikut serta merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama-sama dengan saudara yang beragama Islam.

Penulis pada waktu itu dengan sekuat tenaga ikut memukul bedug dan keliling rumah family untuk mengucapkan selamat hari raya. Sebaliknya, saat kami merayakan Natal dan Tahun Baru, saudara kami yang beragama Islam datang ke rumah kakek dan nenek kami untuk mengucapkan salam Natal dan makan malam bersama. Bagaimana dengan sekarang ? Mungkin di beberapa kota atau kampung di Indonesia masih ada yang tetap menjaga kerukunan ini dengan baik.

Bulan ini, umat Kristiani di seluruh dunia merayakan Natal sekaligus dirangkai dengan Tahun Baru 2011. Di Sumatera Utara, perayaan Natal boleh jadi dilaksanakan tidak semeriah perayaan menyambut datangnya tahun baru. Saat perayaan Natal, masyarakat hanya ikut parade Natal dengan Santa Clauss, penyalaan lilin, liturgi, bernyanyi dan bersalaman sekadar mengucapkan selamat Natal kepada kerabat, teman dan saudara.

Sementara menyambut datangnya tahun baru, masyarakat mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik mulai dari kue tahun baru, cake sampai kepada minuman teristimewa menyambut berlalunya tahun 2010. Perayaan Natal sepertinya dijadikan hanya sebagai perayaan seremonial belaka tanpa mau memetik hikmah yang terkandung di dalamnya.

Lantas, apa yang salah dengan sikap kita dalam memperingati Hari Kelahiran Sang Juru Slamat Yesus Kristus ? Dia yang telah lahir ke dunia ribuan tahun lalu di kandang domba yang hina di kota kecil Betlehem menjadi perbincangan yang sangat mengganggu bagi raja Herodes. Karena, kedatangan Yesus sebagai Juru Slamat adalah menggenapi Firman Tuhan seperti tertulis dalam Alkitab Yohanes 3 : 16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Memang, belakangan ini tradisi merayakan Natal di beberapa kota besar di Indonesia kelihatannya sangat memberi kesan tersendiri. Bahkan, kalau ingat waktu masih kecil, perayaan Natal adalah kesempatan bagi kita untuk membacakan firman Tuhan secara bergiliran dengan memakai baju baru, sepatu baru dan celana baru. Pakaian yang baru tersebut menjadi pakaian kebesaran juga sewaktu menyambut datangnya tahun baru.

Akan tetapi, tulisan ini bukan untuk memperdebatkan seberapa pentingkah perayaan Natal dalam hidup saya dan Anda? Paling tidak, tulisan ini akan men coba mengupas makna apa sebenarnya yang ingin dicapai setiap kali merayakan Natal dan memperingati hari kelahiran-Nya.

Jika melihat kondisi negara kita seperti sekarang ini, ada banyak bencana yang terjadi silih berganti. Ada banyak kejahatan yang membuat masyarakat semakin takut tinggal di atas bumi ini. Ada beragam perbuatan-perbuatan tidak terpuji yang mencoba memecah belah kerukunan antar umat beragama dengan membakar gereja, menutup gereja dan melarang umat untuk menjalankan ibadahnya.

Introspeksi Diri

Kebebasan memeluk agama dan kepercayaan di negeri ini belum sepenuhnya mengacu pada sila Pertama Pancasila dan UUD 1945 dimana setiap warga negara berhak untuk menjalankan agama dan kepercayaannya. Walaupun pada kenyataannya, ada aturan-aturan dan rambu-rambu yang harus dituruti termasuk aturan pemerintah dalam hal pembangunan rumah ibadah. Pemerintah seharusnya menetapkan aturan dan memberlakukan undang-undang tidak setengah hati tapi sepenuh hati dan memberikan perlakuan yang sama terhadap semua suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

Baca Juga :  Korupsi, Penyakit Kotor Di Indonesia

Kondisi negara kita yang mengalami banyak kesulitan dalam berbagai hal perlu melakukan introspeksi diri, dimana angka pengangguran terus merangkak naik, tenaga kerja Indonesia di luar negeri banyak yang menuai masalah. Jika mereka pulang ke Indonesia, sudah pasti jumlah pengangguran semakin bertambah sementara lapangan kerja baru tidak ada. Mau dibawa kemana negeri ini ?

Menyikapi makin banyaknya bencana yang datang silih berganti di negeri ini, banyaknya kasus-kasus korupsi yang belum dituntaskan sampai hari ini, sekaranglah saatnya untuk melakukan introspeksi diri. Mari kita merenung sejenak. Kesalahan apa yang telah kita perbuat terhadap alam, terhadap sesama, terhadap bangsa dan negeri ini terlebih tehadap-Nya.

Ketika kita merenung dengan hati yang sungguh-sungguh, mengingat semua perbuatan masa lampau. Mungkin sangat banyak kesalahan yang telah kita perbuat. Setelah merenung, perasaan bersalah akan muncul, perasaan menyesal pun ikut menyertainya. Dalam tahapan introspeksi diri tersebut sangat banyak peristiwa-peristiwa masa lampau yang terlintas di benak kita dan tiba-tiba muncul perasaan bersalah untuk tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Atau hanya sekadar introspeksi diri mengingat kesalahan masa lalu, lantas mengulanginya lagi di lain kesempatan dan waktu.

Penekanan introspeksi diri seperti diserukan banyak kalangan bukanlah sekadar introspeksi lantas berbuat lagi. Yang terpenting adalah introspeksi diri yang sungguh-sungguh. Dimana dalam perenungan tersebut muncul perasaan bersalah dan sesal. Jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, sesal akan membuat orang mengucurkan air mata. Karena sesal adalah suatu persiapan ke arah perbaikan perilaku yang sungguh-sungguh yang disertai perasaan untuk bertobat.

Seseorang baru dinyatakan bertobat jika dengan kesadaran penuh memutuskan untuk tidak lagi melakukan kesalahan atau kejahatan sejak seseorang tersebut memutuskan untuk benar-benar bertobat. Tanpa keputusan dan tekad bulat untuk tidak lagi mengulangi perbuatan masa lampau, tobat tidak akan berjalan sebagaimana diharapkan dan akan sia-sia saja (Kompas 13/3/2007).

Tuhan menciptakan manusia memiliki dua mata, dua telinga dan satu mulut. Berarti dari keadaan ini kita dituntut untuk lebih banyak membaca, mendengar dan sedikit berbicara. Membaca buku-buku yang bermanfaat untuk pengembangan diri dan mendengar nasehat orangtua demi untuk perbaikan masa depan. Menghindari banyak bicara apalagi membicarakan orang lain.

Momentum Natal

Selama ini, kita terlalu banyak membuang-buang waktu, tenaga dan pikiran untuk sesuatu yang ada di luar diri kita. Terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan kesalahan, kaburukan maupun kelalaian orang lain. Sementara diri kita yang kita anggap sebagai yang terbaik ternyata tidak efektif untuk memperbaiki apa yang kita anggap salah. Belakangan ini, banyak orang yang menginginkan orang lain berubah sesuai dengan keinginannya. Kita juga sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi pada saat yang bersamaan, ternyata keluarganya hancur-hancuran, di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Keinginan tersebut terlampau muluk-muluk.

Baca Juga :  BBM Bersubsidi Langka Siapa Bertanggung Jawab

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa mengubah sikap istri atau suami saja tidak sanggup? Mungkin salah satu jawabannya adalah karena kita tidak pernah mempunyai waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar, namun kiranya patut direnungkan baik-baik. Karena, di dalam setiap ajaran agama mana pun kita diajari untuk selalu merenung dan meminta ampun kepada Tuhan jika kita telah melakukan kesalahan dan kesilapan.

Mengubah diri dan cara hidup berarti berupaya untuk menemukan jati diri yang terbaik dalam kehidupan. Suatu proses memadu elemen pikiran dan hati agar menyatu atau bersepakat memperoleh hidup yang lebih bermakna berupa pencerahan spiritual atau pemahaman nilai-nilai moral kemanusiaan yang memberi ketenangan.

Apalagi dalam suasana seperti sekarang ini, suasana Natal yang diyakini membawa damai sejahtera bagi seluruh umat manusia, Natal penuh kasih melingkupi semua umat manusia di muka bumi ini. Saat Yesus lahir ke dunia ini ada Bintang yang dari Timur memancarkan sinar yang sangat terang. Orang Majus mengetahui keberadaan Yesus lewat petunjuk bintang. Bintang dalam hal ini mengingatkan kita akan terang dan cahaya yang dipancarkannya. Suasana Natal Tahun ini kiranya membawa terang dan semua umat menjadi terang bagi keluarganya, terang bagi masyarakat yang dipimpinnya dan terang bagi bangsa dan negara. Pemimpin yang sekaligus menjadi terang akan membawa rakyatnya ke sebuah perubahan yang luar biasa.

Kiranya momentum Natal tahun ini menjadi salah satu upaya bagi kita untuk melakukan introspeksi diri. Natal adalah saat yang sangat tepat untuk melakukan koreksi diri. Mengevaluasi diri dan melakukan perbaikan perilaku dan sikap yang membangun diri sendiri mulai hari ini maupun di kemudian hari. Kiranya Kasih dan Damai Natal hadir di tengah-tengah kita. Selamat Hari Natal !

*) Penulis adalah jurnalis tinggal di Medan.

Sumber: www.analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*