Membangun Daerah Bebas dari Narkoba

Oleh: Muslim Pohan *)

Saat ini kondisi Indonesia marak dengan hukuman mati bagi pengguna narkoba atau pihak yang tidak bertanggungjawab (pengedar narkoba). Hal demikian dilaksanakan untuk mengorganisir masyarakat Indonesia dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), mengatakan di dunia ini ada 315 juta orang usia produktif atau berumur 15 sampai 65 tahun yang menjadi pengguna narkoba. Hal ini, berdasarkan data dari UNODC, yaitu organisasi dunia yang menangani masalah narkoba dan kriminal. Selain itu, ada 200 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya akibat narkoba.

Penulis : Muslim Pohan

Sementara, di Indonesia sendiri angka penyalahgunaan narkoba mencapai 2,2 persen atau 4,2 juta orang pada tahun 2011. Mereka terdiri dari pengguna coba pakai, teratur pakai, dan pecandu. Jumlah pengguna narkotika tercatat saat ini hampir 4 juta jiwa, hasil penelitian yang dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan Puslitkes UI pada 2011 menunjukan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, bahkan pada tahun 2015 diperkirakan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,8 juta jiwa. Tentunya angka ini tidak sedikit, angka tersebut akan semakin meningkat apabila tidak ada penanggulangan penyalahgunaan narkoba.

Penyalahgunaan narkoba yang terjadi pada masyarakat dan pelajar disebabkan pengguna tidak memahami apa sebenarnya narkoba dan bagaimana akibat dari bahaya narkoba, sehingga korban dapat dibohongi oleh oknum yang tidak bertanggungjawab, dan awalnya mau mencoba-coba lalu akhirnya kecanduan.

Di pihak lain, peran keluarga, orangtua tidak tahu atau kurang memahami hal-hal yang berhubungan dengan narkoba sehingga tidak dapat memberikan informasi atau pendidikan yang jelas kepada anak-anaknya akan bahaya narkoba, bahkan sebagian anak dengan orangtua sama-sama mengkonsumsi narkoba.

Bimbingan dan informasi di masyarakat terkait bahaya penyalahgunaan narkoba pun sanagat minim. Untuk itu penyuluhan dan tindakan edukatif harus direncanakan, diorganisir, serta dilaksanakan secara efektif dan intensif kepada masyarakat yang disampaikan dengan sarana atau media yang tepat untuk masyarakat.

Rekomendasi (Solusi Alternatif)

Fenomena tersebut peran pemerintah dalam memberantas narkoba sudah cukup besar dengan mendirikan Badan Narkotika Nasional (BNN). Masyarakat pun ikut terlibat dalam memerangi narkoba. Hal ini terlihat jelas dari keseriusan pemerintah membangun kampung bebas narkoba, yaitu didirikannya sebuah lembaga seperti Pemuda Pancasila (PP) di Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Padanglawas.

Baca Juga :  Burung Garuda, Poliklinik dan Nasionalisme Buta

Nah, untuk mendukung upaya tersebut agar berdampak secara efektif, maka kita juga perlu mewujudkan beberapa solusi alternatif atau beberapa pendekatan berikut:

Pertama, pendekatan agama. Melalui pendekatan ini, mereka yang masih bersih dari narkoba, senantiasa menanamkan ajaran agama yang mereka anut. Setiap agama apapun tidak ada yang mengajarkan pemeluknya untuk menjadi orang yang merusak dirinya, masa depannya, dan kehidupannya. Sementara, bagi mereka yang sudah masuk narkoba, hendaknya diajarkan kembali nilai-nilai agama yang terkandung dalam ajaran yang mereka percayai. Seperti pondok pesantren Al-Kodir tepatnya di Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Di pondok tersebut menerima dan membimbing bagi mereka yang sudah terlanjur masuk dalam narkoba, baik agama islam, kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain. Dengan demikian, diharapkan ajaran agama yang mereka yakini mampu menggugah jiwa mereka untuk kembali ke jalan yang benar.

Kedua, pendekatan psikologis. Melalui pendekatan ini, mereka yang belum terkena narkoba diberikan nasihat dari hati ke hati oleh orang yang dekat dengannya, sesuai dengan kepribadiannya. Di sinilah fungsi keluarga sangat penting untuk memanfaatkan kesempatan khususnya orangtua berperan memberikan nasihat-nasihat kepada anak-anaknya agar tidak terjerumus dengan bahaya narkoba. Diharapkan mereka mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati untuk menjauhi narkoba. Mengetahui kepribadian seseorang, maka melalui pendekatan ini mampu mengembalikan mereka kepada kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga :  Belajar dari Pilkada Sumut dan Jabar

Ketiga, pendekatan sosial. Dengan pendekatan sosial mereka yang belum atau sudah masuk dalam dunia narkoba, disadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dari kehidupan keluarga dan lingkungan. Tokoh sosiologi Emile Durkheim mengatakan: “manusia tidak terlepas dari kehidupan berkelompok, proses lahir manusiapun ditakdirkan lewat proses pergaulan yang dimulai dari sosial”. Dengan demikian penanaman sikap seperti ini, maka mereka akan merasa kehadirannya di tengah keluarga dan lingkungannya, sehingga mereka akan enggan merusak dirinya dengan perbuatan yang membuat mereka rusak (narkoba).

Pendekatan di atas merupakan solusi alternatif untuk mencegah dan menanggulangi penyalahgunaan narkoba yang kian berkembang. Agar upaya penanggulangan bahaya narkoba ini dapat berlangsung baik dan efektif, maka kita perlu saling komunikasi antar sesama manusia dan saling mengingatkan dalam upaya melakukan hal tersebut di atas. Dengan saling bersinergi maka kegiatan membangun daerah bebas dari narkoba akan nyata dan terwujud.


*) Muslim Pohan –
Mahasiswa asal Hadungdung Pintu Padang, Kab.Padanglawas, Prov.Sumatera Utara dan saat Kuliah di Mahasiswa Islam (LAPMI) Ushuluddin UIN Yogyakarta dan aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Ushuluddin UIN Yogyakarta.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 5 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. Saya setuju dengan solusi yg ditawarkan sdr muslim pohan. Saat ini khususnya para orang tua, sangat khawatir terhadap perkembangan narkoba, khususnya di kecamatan Aek Nabara Barumun. Mudah2an sdr Muslim Pohan senantiasa memberikan perhatian yang “lebih” terhadap gerakan anti narkoba, khususnya di Aek Nabara Barumun.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*