Membangun Nias Dengan Cinta

Posko Delasiga bekerjasama dengan Kreasi Media Solusi menggelar pameran foto bertajuk Solidaritas Untuk Nias, 6 tahun pascaTsunami, di Cambridge City Square, Selasa (4/12/2011). Pameran ini menjadi puncak Lomba Foto Gambara Nias Bangkit 2010 yang berlangsung sejak 18 Oktober 2010.

Kegiatan akhir dari lomba akan dilangsungkan di Nias dengan mengirimkan 20 fotografer yang telah lolos babak kualifikasi. Para finalis akan memperebutkan 5 gelar juara yaitu Gambara 2010 winners, Oegroseno Prize, Best of Photo Jurnalistik, Best of Landscape dan Best of People.

Pameran foto akan memamerkan 71 karya foto  dari 20 finalis lomba dan tiga wartawan yang meliput kejadian tsunami 2004 dan gempa besar 2005. Dirangkaikan dengan peluncuran buku berjudul Jejak Cerita Rakyat Nias karya Victor Sebua dan kamus Li Niha (Nias Indonesia) karya Apolonius Lase.

Pameran makin semarak  oleh musik tradisional penyanyi ayu Nias Tice Halawa, pertunjukan tarian Nias dan simulasi lompat batu. Budayawan dan sastrawan, Putu Wijaya juga hadir menyampaikan refleksi kondisi Nias dalam narasi. Dan di penghujung pameran akan diadakan dialog perihal realitas sosial yang terjadi di Nias saat ini.

Fona Marundrury, Penanggung jawab Posko Delasiga  menyebutkan Gambara  Nias Bangkit merupakan manifestasi kecintaan terhadap Nias. Tsunami dan Gempa pada 2004 dan 2006 telah meluluhlantakkan kota Nias. Kesedihan mendalam masyarakat Nias menjadi ekspresi wajar dan alamiah merespon tragedi tersebut.

Baca Juga :  Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor Rugikan Rakyat Sumatera Utara Rp200 Miliar

“Namun tidaklah baik larut dan terpuruk dalam kondisi itu. Nias harus bangkit, membangun kembali Nias dengan rasa cinta,” ujar Fona.

Fotografi, kata Fona menjadi alat komunikasi yang polos dan lugu. Sebab  fotografi merekam kejadian apa adanya, tidak bisa menghilangkan fakta, menyajikan situasi tanpa mark up. Sehingga diharapkan Gambara Nias yang menguntai situasi Nias yang sarat emosional, humanisme dan kecintaan menjadi even berkelanjutan. Kesinambungan itu pula yang diharapkan mengkristal menjadi budaya.

Kapolda Irjen Oegroseno mengatakan Gambara Nias telah menjadi saluran mengekspresikan budaya lokal. Dokumentasi foto para fotografer handal merekam jejak Nias dalam situasi keterpurukan bencana. Tetapi menjadi pemantik yang menyerukan segera bangkitn berbenah dan mengenalkan Nias seutuhnya kepada publik nasional dan internasional.

“Pameran Gambara menambah kekayaan budaya dan pengetahuan kita semua. Saya berpikir ini menjadi Nias Herritage  dikemas sebaik dan semenarik mungkin,” kata Oegroseno. Ia menambahkan, kegiatan unik dan pertama di Indonesia ini akan membuat banyak turis lokal dan mancanegara menjejakkan kaki di pulau Nias nan indah.

Putu Wijaya dalam monolognya menarasikan seorang anak Nias yang mengharapkan belas kasih dalam keterpurukan akibat bencana. Ia membutuhakan cinta yang jauh lebih berarti dari material dan kefanaan dunia. Monolog itu berujung pada pemberian cinta kasih oleh segenap elemen, masyarakat dan pemerintah. Monolog itu mampu mnghipnotis ratusan pengunjung yang terpaku menatap Putu, dan mengikuti setiap untaian kata kata sang budayawan nasional ini. (tribun-medan.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Kapolda Sumut Mensinyalir Rusuh Pilkada Kab. Samosir Akibat Provokasi Oknum DPRD Setempat

1 Komentar

  1. Maju terus Nias-ku, kami di rantau selalu berdoa dan mencintai kampung kelahiran kami, tetapi saat ini kami sedang meradang karena Penyakit KORUPSI sedang parah …

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*