Membeli Kucing dalam Karung

Oleh: Pandapotan Silalahi

kucing karung1 Membeli Kucing dalam KarungBesok, tepatnya 12 Mei 2010 merupakan hari bersejarah di beberapa daerah di Sumut. Kota Medan, Binjai, Sibolga, Kabupaten Serdangbedagai, Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan (Labusel), Labuhan Batu Utara (Labura), Tapsel dan Pakpak Bharat secara serentak menggelar pesta demokrasi. Diharap pemilih dapat menggunakan hak pilihnya sesuai nuraninya. Tidak justru seperti membeli ”kucing dalam karung.”

Besok masyarakat kota Medan juga akan dipersilakan mendatangi ribuan Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang sudah disiapkan panitia. Di situ, akan terpajang 10 pasangan calon (paslon) yang hendak dipilih warga. Kita sama-sama berharap agar pemilih terutama pemilih pemula yang mencapai hampir diminta agar menggunakan hak pilihnya sesuai hati nuraninya.

Setelah saya amati, beberapa hari kampanye di Kota Medan 10 pasangan calon banyak mengumbar janji-janji manis. Diantaranya, jika kelak terpilih bakal memangkas birokrasi, menumpas premanisme, meningkatkan perekonomian, menghapus angka kemiskinan dan masih banyak janji-janji politik yang dilontarkan baik melalui juru kampanye (jurkam) maupun pasangan calon itu sendiri.

Bahkan, di beberapa daerah ada yang nekat membagi-bagi uang kepada masyarakat saat kampanye terbuka. Tentu dengan harapan agar pasangan calon yang sedang berkampanye kelak dipilih masyarakatnya.

Tapi ada yang menarik dari bisik-bisik tetangga ketika suatu hari saya tak sengaja membeli sepasang sandal jepit di warung dekat rumah di kawasan Tanjungselamat Medan. Kebetulan saat itu beberapa ibu-ibu rumah tangga sedang berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Seorang ibu mengajak ibu-ibu lainnya agar pukul 2 siang itu mereka beramai-ramai menghadiri kampanye seorang calon di kawasan Mabar-Belawan. ”Lumayah loh, dua ratus ribu per orang. Tapi pencairannya sepulang dari sanalah. Mau nggak? Biar kudaftarin,” ajak seorang wanita berambut sebahu itu kepada ibu-ibu di situ.

Benar saja, dari sembilan ibu-ibu yang berkumpul di situ, hanya dua diantaranya tak bisa ikut bersama. Ibu yang satu beralasan, lantaran saat itu ada keluarganya yang bakal datang dari kampung, sedang alasan ibu lainnya pada saat jam itu akan membawa anaknya ke puskesmas untuk berobat.

Baca Juga :  GUBSU; Kalah Pilkada, Mantan Pejabat Jangan Minta Kursi Lagi ... !

Begitulah model masyarakat kita yang ikut dilibatkan kampanye. Artinya, kalau tidak dibayar, masyarakat masih ”malas” ikut ramai-ramai berkampanye.

Begitulah secara umum yang terjadi saat kampanye yang sudah berlangsung sejak beberapa hari lalu. Mereka pasti diberi uang untuk ikut berkampanye. Bahkan di kawasan Padangbulan, seorang mandur sudako sudah dikontrak dengan harapan dapat mengerahkan beberapa unit sudako sebagai transportasi massa kampanye.
Memang saat kampanye, merupakan moment mendulang rezeki bagi segelintir elemen masyarakat. Namun tidak bagi sebagian besar masyarakat terutama di kota-kota besar sekelas Medan. Faktanya, setiap kampanye, jalan raya dipastikan macet.

Janji Politik

Sungguh mengharukan ketika seorang orator kampanye berjanji kepada masyarakat jika nanti terpilih kelak dirinya akan mengabdi kepada rakyat. Hal seperti ini sudah sering kita dengar. Bahkan salah seorang kontestan nekat dan bersedia digantung jika ini dan itu. Ya, semua bisa diucapkan, semua bisa dijanjikan. Tapi masyarakat sekarang ini sudah tidak bodoh. Mereka akan terus mengikuti konsep visi dan misinya saat pencalonan.

Betapa menyesalnya warga Sumatera Utara ketika memilih Syamsul Arifin, Gubsu sekarang ini. Faktanya, program pengentasan kemiskinan di daerah ini belum mampu menekan angka penduduk miskin. Lihatlah, dari 151 kelurahan di Kota Medan, 147 di antaranya masih banyak dihuni warga miskin.

Fakta lainnya, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, April 2010, warga miskin yang berdiam di 147 kelurahan itu jumlahnya mencapai 138.230 jiwa. Jumlah ini setara 6,63% dari total jumlah penduduk 2,1 juta jiwa. Sementara warga di empat kelurahan yang tidak tergolong miskin itu persentasenya mencapai 1% hingga 2% atau setara 21 ribu jiwa hingga 42 ribu jiwa.
Begitulah kondisinya saat ini. Siapapun bisa mengobral apalagi mengumbar janji. Namun masyarakat dapat memonitor secara langsung hasil pembangunan 5 tahun di masa mendatang.

Baca Juga :  Ketua DPRD Persoalkan Pakaian Adat Pesisir Sibolga

Apa yang Dicari?

Kalau diperhatikan, Kota Medan merupakan daerah terbanyak pasangan calonnya. Sampai berjumlah 10 pasang calon, hingga terkadang sulit memilih satu diantara mereka. Melihat sepak terjang masing-masing calon seluruhnya memiliki plus minus. Pasangan Calon dengan nomor urut 6 misalnya, dikenal tegas menjalankan kesehariannya. Faktanya, para Pedagang Kaki Lima (PKL) sampai ”hubar-habir” saat ditertibkan. Begitu juga dengan Pasangan Calon nomor urut 9. Dikenal bebas dari isu maupun rumor korupsi. Tidak terkecuali dengan Pasangan Calon dengan nomor urut 10 yang dikenal sebagai tokoh pembauran. Pasangan Calon nomor urut 4 misalnya dikenal tangguh di sektor pendidikan diyakini mampu memperjuangkan pendidikan terutama masyarakat kelas bawah. Begitu juga dengan pasangan lainnya seperti nomor urut 1,  2, 3, 5, 7 dan 8. Seluruhnya memiliki plus minus di mata masyarakat.

Pertanyaannya, apa yang mereka cari? Uang, status, jabatan, harga diri? Atau adakah diantara mereka yang benar-benar ingin berbakti mengabdikan diri untuk melayani masyarakat. Untuk itu, kepada masyarakat Sumut khususnya Medan pilihlah sesuai hati nuranimu. Yang lebih memungkinkan lagi, kenali baik-baik pasangan calon yang hendak dipilih. Jangan ibarat membeli ”kucing dalam karung”. Ingatlah, penyesalan seperti datang terlambat. Semoga.

Sumber: http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=36823:membeli-kucing-dalam-karung&catid=57:gagasan&Itemid=65

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*