Menafsir Makna Aksi Bakar Diri di Depan Istana Negara

Oleh : Rigop Darmiko S.Pd.*)

Satu minggu sudah sang aktivis Sondang melakukan aksi bakar diri di depan istana, tetapi nampaknya kita tanpa mengamini harus menerima betapa nyawa manusia di negeri ini tidak berarti. Entah dalam kesengajaan atau tidak, aksi ini seakan terbungkam seperti kasus-kasus yang selalu diperjuangkan oleh sang aktivis itu sendiri. Mulai dari kasus Gerakan 30 September hingga kasus pembunuhan munir yang selalu menjadi perhatian dari sang aktivis. Belum terungkap secara jelas motif dasar aksi bakar diri Sondang tetapi sepertinya ada sebuah kesengajaan penggeseran arti dari aksi radikal yang dilakukan oleh Sondang. Bagaimana tidak, opini yang sepi dan pembicaraan yang tidak ramai justru diletakkan pada tindakan dari seorang Sondang bukan pada makna tindak aksi yang dilakukannya. Tidak heran akhirnya mengalir opini publik justru dalam rangka mengkritisi Sondang sebagai individu. Dan yang paling menyedihkan adalah pembicaraan seputar aksi itu hanya sebatas benar tidaknya tindakan yang dilakukannya. Dalam catatan sederhana ini mari mencoba melihat arti tindakan dari seorang Sondang Hutagalung yang dengan berani telah membakar diri di depan istana negara.

Idealisme di Tengah Arus Pragmatisme Individual

Masih sangat jelas tergambar semua kasus-kasus korupsi yang terungkap menyentuh orang-orang muda. Mulai dari kasus Gayus Halomoan Tambunan hingga yang belakangan menjadi isu hangat yakni rekening gendut PNS muda. Arus pragmatisme individual menyebabkan setiap orang mencari kesempatan sebesar-besarnya demi keuntungan diri.

Derasnya arus pragmatisme individual ini merupakan dampak dari pendidikan nasional kita yang tidak lagi menghasilkan orang-orang idealis. Pendidikan kita yang lebih sibuk dengan angka-angka kwantitas telah kehilangan arahnya yang sejatinya menghasilkan karakter bangsa. Pendidikan kita hanya berhasil menghasilkan orang-orang pragmatis yang terbiasa mencapai hasil dengan cara yang paling instan. Tidak heran akhirnya tindak korupsi merata dari angkatan tua hingga angkatan muda, dari pejabat teras hingga para bawahan. Setiap orang hanya mencari-cari kesempatan untuk mencapai kepentingan diri.

Di tengah arus pragmatisme individualis inilah sebuah aksi bakar diri Sondang dilakukan. Sebuah keputusan paling berani untuk memperjuangkan kebenaran. Ketika pergerakan-pergerakan mahasiswa saat ini di boncengi oleh berbagai kepentingan elite politik, golongan atau beraksi agar dimasukkan ke dalam lingkungan kekuasaan, adalah sebuah aksi bakar diri di depan istana merdeka yang dengan gamblang menggambarkan adanya orang muda yang berjuang dengan hati nurani untuk kepentingan orang banyak.

Ketika di negeri ini para pejabat dan elit politik sibuk mencitrakan dirinya dan masing-masing orang hanya sibuk memperjuangkan kepentingan pribadinya dengan cara-cara tidak halal sekalipun, adalah sebuah aksi bakar diri di depan istana merdeka. Tak pelak lagi, aksi ini menjadi sebuah gambaran bahwa masih ada perjuangan yang digerakkan oleh idealisme. Aksi yang memberi harapan masih adanya perjuangan bagi orang-orang yang termarginalkan dan terabaikan. Aksi yang memilih mengakhiri hidup daripada dipaksa melupa segala ketidakadilan di tengah bangsa ini.

Baca Juga :  Khianat Demokrat

Gerakan Horizontal dalam Negara Vertikal

Pemerintah senang dengan penghargaan dan apresiasi dari negara-negara luar yang memuji pertumbuhan Indonesia dan dengan berang menghadapi rakyatnya sendiri yang membeberkan fakta yang sesungguhnya. Para pemimpin dunia yang memiliki kepentingan pribadi dan negara selalu menyempatkan diri memuji atau sekedar mengapresiasi pemimpin bangsa ini. Paling tidak negara ini menjadi salah satu negara yang dianggap penting ke depan.

Sebuah pencitraan yang berhasil mengangkat telinga para pengambil kebijakan di tengah bangsa ini sehingga mengalirlah para investor asing ataupun pinjaman luar negeri. Dalam semua tindakan ini maka yang paling merasakan dampaknya hanyalah para pejabat negara yang semakin menumpuk kekayaannya dan seperti tak mau kalah maka para wakil rakyat sibuk menghitung-hitung keuntungan-keuntungan serta fasilitas yang dapat diperolehnya. Sementara rakyat miskin semakin miskin dan semakin terasing di negerinya sendiri.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas kertas sedang mengalami pertumbuhan tetapi negara ini semakin bertumbuh sebagai negara vertikal. Ada jurang yang kian dalam antara orang-orang kaya dengan orang miskin. Cita-cita keadilan sosial kian terabaikan. Pemerintah cukup puas dengan program-program subsidi maupun bantuan langsung. Seakan-akan rakyat sedang mendapat bantuan pemerintah walau sesungguhnya mereka hanya mendapat sedikit saja dari haknya.

Dalam negara yang bertumbuh secara vertical, di saat penguasa dan pengusaha mengangkat dirinya sebagai pemilik negara ini, adalah aksi bakar diri di depan istana yang beberapa jam sebelumnya baru saja menyuarakan kebenaran, penegakan keadilan dan berjuang bagi orang banyak. Sebuah aksi yang menggambarkan bahwa masih adanya pergerakan dengan semangat horizontal, berjuang bagi kepentingan orang banyak.

Melawan Arus Pencitraan

Kita akan senang menyaksikan berbagai iklan yang di keluarkan oleh kantor-kantor kementrian negara. Sebuah langkah yang memilih bekerja sama dengan media daripada bermain kusing-kucingan layaknya selama ini. Tetapi marilah sedikit saja menggunakan akal sehat kita maka dengan mudah kita dapat melihat betapa semua program ini merupakan sebuah proyek akhir tahun dalam rangka menghabiskan anggaran belanja. Jika tidak mengapa mesti akhir tahun ini para pejabat kita itu mengiklankan dirinya. Program-program yang diambil para pejabat kita hanya terusan dari program pencitraan diri dari para pemimpin negara.

Baca Juga :  Selamat Datang Aliansi Politik Media

Lain lagi para wakil-wakil pilihan kita itu, mereka asik berdebat secara reaktif dan menununjukkan kepada publik betapa berkuasanya mereka. Mereka mengundang para pemimpin negara dan menununjukkan tamengnya dengan berbagai debat kusir tetapi semua hanyalah pencitraan. Mereka lebih asik menikmati fasilitas dan plesiran daripada menyelesaikan RUU yang menumpuk dari tahun ke tahun. Kalaupun ada RUU yang di bahas semua karena sudah ada kepentingan di dalamnya.

Dalam derasnya program pencitraan diri dari para elit politik dan pemimpin negara adalah sebuah aksi membakar diri di depan istana dan kita terhentak, kembali pada kesadaran diri bahwa kita tidak boleh terpesona pada pencitraan yang dangkal dan kita tidak boleh berhenti berjuang untuk menegakkan keadilan dan kebenaran sebagai cara terhormat mengangkat derajat bangsa.

Merekam Jejak Memetik Hikmat

Kita tentu tidak menyetujui keputusan mengakhiri hidup dengan alasan apapun tetapi janganlah kiranya kita berbelok dari makna perjuangan dari seorang muda yang telah bergiat dalam berbagai lembaga swadaya masyarakat ataupun perkumpulan yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran serta memperjuangkan orang-orang yang terlupakan di tengah bangsa ini. Kita tidak boleh berhenti merekam jejak dan memetik hikmat dari semua itu. Aksi Bakar diri di depan istana adalah aksi kita bersama yang akan terus mengiringi proses pemerintahan dan proses bernegara menuju kepada kesejahteran, adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.***

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial dan Kegerakan Mahasiswa.

analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*