Menanti Selesai Garapan Film Mursala di Tapteng – Bupati Ikut Adu Akting, Kemiskinan Jangan Ditutupi

LangkahBupati Tapteng Bonaran Situmeang mendukung pembuatan film layar lebar ‘Mursala’ tak hanya sekedar memberi kemudahan izin maupun support dukungan semata.

Bonaran memastikan ikut bermain dalam film yang mengambil lokasi shooting di Pulau Mursala dan sejumlah tempat di Tapteng itu.

“Ya saya diminta ikut bermain. Saya jawab iya. Karena bagi saya film ini penting untuk mempromosikan Tapteng. Tapi berperan sebagai apa, saya belum tahu,” ungkapnya beberapa waktu lalu kepada koran ini.

Meski belum tahu akan berperan sebagai apa, Bonaran memastikan dirinya akan lebih fokus memerhatikan dari sisi adat yang tentunya akan banyak dimuat. Sebab, meski film ini banyak mengekspos keindahan Tapteng, namun di dalamnya juga tidak akan melupakan pelestarian adat budaya Batak.

Apalagi menariknya, imbuh Bonaran, jalan ceritanya berkisah seputar seorang pengacara yang sukses merantau, namun ditentang menikah dengan kekasihnya karena persamaan marga.

“Jadi pesta adatnya dalam film ini nanti akan benar-benar kita lakukan. Tidak hanya seperti film kebanyakan yang hanya sekedar sebagai pelengkap penderita. Saya juga ingin budaya Batak itu dapat semakin dilestarikan,” terang bupati yang selalu memelihara kumisnya ini.

Menariknya meski bertujuan untuk mempromosikan Tapteng, Bonaran ingin nantinya dalam shooting tidak hanya diarahkan pada tempat-tempat yang eksotis yang memang benar-benar indah. Tapi juga harus memuat secara jujur seperti apa kemiskinan yang ada, kerusakan jalan maupun hal-hal lainnya yang memang masih perlu banyak dibenahi.

“Jadi saya tidak mau menutup-nutupi. Silahkan juga shooting kampung nelayan dengan segala kondisinya yang ada. Sehingga film ini benar-benar terlihat begitu orisinil,” ungkap pria yang kembali menyatakan lewat film ia yakin masyarakat Tapteng akan dapat lebih maju. Apalagi mayoritas dalam perekrutan pemain sengaja diutamakan penduduk lokal.

“Kalau banyak terlibat, mereka merasa memiliki. Dan lagi yang utama, rasa percaya diri itu juga tumbuh. Karena ternyata untuk main film tidak hanya bisa dilakukan orang Jakarta,” ungkapnya.

Film Mursala yang sedang digarap adalah sebuah film berlatar budaya Batak yang rencananya selesai digarap bulan April.

Baca Juga :  Tingkatkan Pengamanan, AP 2 MoU dengan Poldasu

Adalah rumah produksi Raj’s Production yang akan menggelontorkan biaya produksi film yang penggarapannya dipercayakan pada sutradara Viva Westy. Menurut Viva Westy, film nasional bertema kedaerahan memerlukan ‘penangangan’ yang optimal agar menarik ditonton.

“Oleh karena itu, persiapan kamera yang akan kami gunakan adalah kamera 16 mm bukan digital,” kata Viva Westy, saat berlangsung pre launching film Mursala di Plaza Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (4/2).

Westy mengharapkan, film yang menghadirkan pemain antaranya Titi Sjuman dan Rio Dewanto itu dapat membawa pesan tentang kearifan budaya lokal dan menjadi alat promosi pariwisata di Tapanuli, Sumatera Utara.

“Film ini bergenre drama romantis dengan para pemain utama dari ibukota, dan didukung sejumlah pemeran dari daerah Batak,” kata Westy, yang akan dibantu Ipung sebagai kameraman.

Anna Sinaga selaku eksekutif produser sekaligus pemain, mengaku produksi film ini didedikasikan kepada tanah leluhur dan profesinya sebagai pengacara. “Film ini merupakan ungkapan terimakasih saya terhadap dunia kepengacaraan dan tanah leluhur sekaligus saya ingin memberikan kontribusi bagi perfilman nasional,” kata Anna Sinaga, yang kini aktif sebagai pengacara.

Menurut rencana, film Mursala mulai syuting sekitar bulan Maret-April 2012, mengambil lokasi di Tapanuli dan Jakarta. “Beruntung saya mendapatkan keleluasaan untuk syuting selama 30 hari. Waktu syuting ini memang lebih panjang dibandingkan syuting film umumnya yang hanya 2-3 minggu. Saya ingin hasil terbaik maka butuh waktu lebih lapang,” kata Viva Westy.

Selain kru dan pemain, acara pre launching film Mursala juga dihadiri Bupati Tapteng Bonaran Situmeang. “Saya sangat mendukung sepenuhnya produksi film ini, karena berharap film ini dapat mengangkat pariwisata di Tapanuli yang tidak kalah menariknya dengan kawasan wisata lain di Indonesia,” kata Bonaran Situmeang.

Dikatakan Bonaran, kawasan Tapteng terutama di Mursala (nama air terjun-red) pernah diabadikan para pembuat film Hollywood dalam film King Kong. “Sineas Hollywood saja sudah pernah pakai untuk syuting film King Kong, maka saya dukung kalau sineas Indonesia syuting di sana,” ujarnya.

Baca Juga :  Terkait Kecelakaan Yang Menewaskan Istri-nya - Saipul Jamil Akan Diperiksa Polisi

Kendati demikian, Bonaran mengaku tidak mengeluarkan anggaran khusus untuk membantu produksi film Mursala. “Saya yakin rumah produksi yang membuat Mursala sudah tidak perlu dukungan finansial. Saya mendukung dalam bentuk memberi kemudahan fasilitas saja. Tentu saya nanti membantu promosi film ini lewat jalur pemda dengan berbagai cara,” kata Bonaran Situmeang.

**Sinopsis
Kisah Mursala diawali dengan tekad seorang pemuda Batak bernama Anggiat Saragi yang merantau dari kampungnya Sorkam Tapteng ke Jakarta. Dia sukses menjadi pengacara dan dibanggakan orangtua, namun itu belum sempurna karena ibunya Inang Romauli dan ayahnya Amung Hotman mengharapkan Anggiat menikah dengan paribannya (sodara sepupu).

Hal itu tidak mudah, karena di Jakarta Anggiat telah memilih wanita batak lain yang dicintainya yakni Clarisa Turnip seorang presenter televisi.

Persoalan muncul karena perbedaan marga keduanya, ternyata masuk ke dalam larangan adat yang tidak memungkinkan keduanya untuk menikah kecuali keluar dari adat marganya masing-masing. Meskipun Anggiat bertekad untuk mempertahankan hubungan mereka.

Di tengah kegalauan, Anggiat bertemu kembali dengan Bonatiur Sinaga pariban yang ternyata adalah teman masa kecilnya di Pulau Mursala dulu. Tiur gadis yang diceritakan sebagai pecinta alam biota laut ini juga beberapa kali gagal menjalin cinta. (***)

Sumber: metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*