Menantu Membantai Istri, Mertua, dan Adik Ipar Di Kab. Asahan

Hingga Minggu (20/6), peristiwa maut di Dusun III, Desa Sei Beluru, Kecamatan Meranti, Kabupaten Asahan yang menewaskan Sulaiman (55), Sunita (27), dan Sri Melani (17) yang dilakukan Sunaryo, Jumat (18/6) dini hari lalu, masih menjadi perbincangan. Spekulasi mengapa Sunaryo memilih menghabisi nyawanya sendiri tidak luput menjadi bahan perbincangan. Salah satunya, karena aksinya dipergoki dua warga yang masuk ke rumah mertuanya yang tengah dilalap api, yakni Fahrudi (35) dan Supriadi (27).

5591998c72a7126f7bc06b62428f013792bebc4 Menantu Membantai Istri, Mertua, dan Adik Ipar Di Kab. Asahan
Rafah bayi berusia 4 bulan saat ditangani petugas medis RSU HAMS Kisaran di ruang rawat inao anak, RSU HAMS Kisaran, Sabtu (19/6).

Adik ipar Sulaiman, yakni Rasidin (44), kepada METRO mengatakan, diduga, awalnya Sunaryo hendak melarikan diri setelah menghabisi nyawa mertua, istri, dan adik iparnya serta membakar rumah mertuanya, yang juga menyebabkan buah hatinya Raffa (4 bulan) mengalami luka bakar serius.

Namun sebelum ia keluar rumah, dua pria tetangga mertuanya, Fahrudi dan Supriadi keburu masuk ke rumah dan menemukan dirinya. Bahkan ia sempat melukai keduanya.

“Apalagi setelah ia (Sunaryo, red) melukai dua tetangga mertuanya, dan kobaran api sudah membumbung tinggi. Sedangkan di luar rumah, puluhan warga sudah berkerumun untuk memadamkan kobaran api. Mungkin karena takut ditangkap warga, akhirnya Sunaryo nekat untuk bunuh diri,” beber Rasidin kepada METRO, Sabtu malam (19/6) sekitar jam 21.00 usai tahlilan malam kedua.

“Mungkin bila tidak tepergok Fahrudi dan Supriadi, Sunaryo akan melarikan diri,” cetusnya.

Sedangkan istri Fahrudi, Elisa Hasaini alias Neneng (33), kata Rasidin yang juga Kepala Lingkungan III, Desa Sei Beluru, malam itu mendengar jeritan minta tolong dari arah rumah Sulaiman.

“Suara jeritan minta tolong itu diyakini Neneng merupakan suara Sunita. Seketika dirinya membangunkan Fahrudi, dan meminta suaminya melihat dan memberikan pertolongan karena ia menduga telah terjadi sesuatu kepada Sunita. Namun begitu Fahrudi keluar rumah rumah tetangganya sudah dilalap api,” ucapnya.

Begitu tiba di rumah Sulaiman, Fahrudi langsung berusaha mendobrak pintu depan. Karena terkunci, dirinya memutar ke arah pintu samping. Namun Sunaryo keburu menebaskan goloknya di leher dan bagian tubuh Fahrudi yang lain. Dalam waktu bersamaan, Supriadi yang rumahnya tepat di belakang rumah Sulaiman, ternyata sudah tiba dan berniat memadamkan api.

“Saat itu juga Sunaryo langsung menebaskan goloknya ke arah tangan kanan Supriadi dan langsung putus. Tampaknya Sunaryo juga berniat membunuh keduanya. Hal ini dapat dilihat dari luka yang diderita kedua korban,” terangnya.

Masih menurut Rasidin, kemungkinan setelah membantai mertua, istri, dan adik iparnya, Sunaryo langsung menyiramkan minyak bensin dan membakar rumah tersebut.

“Mungkin Sunaryo akan kabur setelah membakar. Namun keburu dipergoki dua tetangga. Mungkin hal itu yang menyebabkan pelaku berniat menghabisi mereka berdua. Lalu karena merasa warga sudah mengetahui perbuatannya, pelaku yang tak ingin ditangkap kembali masuk ke rumah yang sudah terbakar, dan bunuh diri dengan menusuk perutnya menggunakan golok yang dipegangnya,” jelas Rasidin.

Masih menurut Rasidin, setelah mendengar jeritan minta tolong dari para tetangga, ia keluar rumah dan berlari menuju kediaman abang iparnya.

“Rumah saya jaraknya sekitar 80 meter (dari rumah Sulaiman). Saya sangat terperanjat melihat api telah membakar kediaman kakak saya, Jumini (istri Sulaiman, red). Saat itu saya lihat api menyala di sekeliling rumah,” tuturnya.

Awalnya Rasidin menyangka rumah tersebut hanya terbakar. Saat itu tidak ada prasangka abang ipar dan dua keponakannya telah dibunuh.

“Ketika saya tiba di lokasi kejadian, listrik padam. Yang ada hanya cahaya kobaran api yang sudah melalap rumah . Tapi saya tidak menemukan Fahrudi dan Supriadi. Mungkin mereka telah dilarikan keluarganya ke klinik untuk mendapatkan pertolongan,” katanya.

“Saat itu, saya langsung mendobrak pintu depan untuk membangunkan abang ipar serta dua keponakan saya. Alangkah terkejutnya setelah saya masuk ke rumah, cahaya kobaran api membuat saya dapat melihat empat mayat terbaring dalam keadaan mengenaskan dengan posisi berbeda. Tubuh Sulaiman dalam posisi miring dengan separuh di atas kasur, berdekatan dengan Sunita yang telungkup dan menindih sebagian tubuh Raffa. Sementara Sri Melani agak terpisah dan berdekatan dengan jasad Sunaryo,” terangnya.

Dilanjutkan Rasidin, saat warga sibuk memadamkan api, ia mendengar suara tangisan Raffa. Rasidin pun langsung masuk rumah dan mencari sumber suara. Lalu Rasidin menemukan Raffa terbaring di atas tempat tidur di dekat mayat ibunya. Saat itu tempat tidur sudah terbakar dan kulit Raffa sudah dijilati api.

“Karena terdengar suara tangisan bayi, saya terlebih dahulu menyelamatkannya dan membawanya keluar untuk mendapatkan pertolongan dengan dibantu Noto (47), abang kandung saya serta Agus Naim (48).

Kami mengevakuasi korban terlebih dahulu. Saya evakuasi jenazah Sulaiman, baru Sunita, dan Sri Melani. Ketiganya berada di atas kasur yang terbakar,” ujarnya.

Sedangkan jenazah Sunaryo yang sesudahnya diketahui sebagai pelaku, dievakuasi terakhir saat api terus membakar seluruh dinding rumah. (mag-02)

Sebelum Membunuh Pelaku Nonton Jerman Vs Serbia

Ternyata sebelum melakukan aksi sadisnya membunuh istrinya Sunita (27), mertuanya Sulaiman (55), dan adik iparnya Sri Melani (17), tersangka Sunaryo menyaksikan pertandingan piala dunia yang berlangsung pada Jumat dini hari (18/6) di salah satu tempat di Dusun VII tersebut.

Baca Juga :  Swasembada Pangan 2017, Sumut Pacu Produksi Kedelai

Saat menyaksikan pertandingan bola tersebut, Sunario sempat berucap ia mau ke rumah mertuanya Sulaiman, dan berkata hendak membunuh Sulaiman dan membakar rumah Sulaiman beserta istrinya Sunita.

Awalnya warga yang nonton bersama tersangka tak curiga dengan perkataan tersangka.

“Sunario kemungkinan pergi ke Sei Beluru mendatangi kediaman mertuanya dengan mengendarai sepeda mini warna merah, ucap beberapa warga yang ikut menonton kejuaraan piala dunia bersama tersangka yang enggan namanya disebutkan.(mag-02)

Curahan Hati Mertua Tersangka

“Aku Tidak Setuju Pernikahan Mereka!”

“Menantuku biadab! Tega membunuh membunuh suami dan kedua anakku!”

Itulah ucapan yang tecetus dari mulut Jumini (48), yang selama ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia, saat baru kembali ke tanah air, Sabtu (19/6). Kemarin, Jumini berada di ruang rawat inap RSUD HAMS Kisaran dan menjaga Raffa, cucunya.

“Dari pertama aku sudah tidak setuju dengan pernikahan mereka. Sebab aku sering mendengar calon suami anakku itu kejam dan sering menyakiti istrinya kalau marah. Makanya aku terus menentang saat laki-laki biadab itu mau melamar anakku,” terang Jumini sambil terus menangis.

Dikatakan Jumini, di awal pernikahan anaknya, Sunita dengan Sunaryo, sudah menunjukkan tanda-tanda ketidakharmonisan. Salah satu bukti, saat awal berhubungan dengan Sunita, Sunaryo mengaku sebagai duda dengan 2 anak. Namun setelah dicek ke kampung tempat tinggalnya, ternyata Sunaryo memiliki 5 anak dari pernikahan pertamanya.

Setelah mengetahui Sunaryo memiliki 5 anak, Jumini dan keluarganya tidak suka. Mereka pun berusaha menolak hubungan Sunita dan Sunaryo. Apalagi ia sering mendengar kabar dari beberapa tetangga yang menyebutkan calon menantunya itu kejam dan sering memukul istrinya kalau sedang bertengkar. Namun mereka tidak dapat memaksakan kehendak, sebab Sunita tetap bersikeras ingin menikah dengan Sunaryo. Akhirnya, dengan berat hati, keluarga menikahkan keduanya.

“Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini. Aku sedih, tapi aku tidak tahu apa yang aku sedihkan. Kalau mendengar keterangan tetanggaku, sungguh biadab dia (Sunaryo, red) sanggup mencincang suami serta anak-anakku bagaikan mencincang ayam. Lalu membakar mereka serta cucuku hingga seperti ini. Biadab kali dia itu!” geram Jumini.

Mimpi Air Merah

Lebih jauh wanita yang bekerja di Malaysia dan pulang kampung sebulan sekali itu menuturkan, tiga malam sebelum kejadian maut itu, ia bermimpi melihat air berwarna merah mengalir deras. Sepertinya air itu keluar dari kran. Meski sempat merasakan mimpinya itu berarti kurang baik, namun ia membuang jauh-jauh perasaan buruknya itu.

“Aku tidak akan kembali lagi ke Malaysia sebelum cucuku ini sembuh benar. Dan kalau dia sudah sembuh nanti, aku bertekad akan melakukan apapun untuk membesarkannya agar menjadi bisa menjadi orang yang berguna,” tekadnya.

Sementara abang kandung Sunita, Supriady (30) yang juga baru kembali dari Malaysia, mengatakan, sebulan sebelum kejadian ia mendapat kabar dari adik perempuannya yang lain, Sri Melany (salah satu korban tewas yang dibantai Sunaryo), yang menyebutkan Sunita merantau ke Mahato, perbatasan Labuhan Batu dan Pekan Baru, dibawa suaminya. Mendengar kabar itu, Supriady berusaha menghubungi tersangka berkali-kali melalui handphone untuk menanyakan alasan dia membawa keluarganya ke Mahato. Soalnya sebelumnya mereka telah berembuk akan menggelar hajatan atas kelahiran anak mereka. Namun telepon dari Supriady tidak pernah diangkat. Bahkan SMS pun tidak pernah dibalas.

“Sebelum aku berangkat ke Malaysia, kami telah berembuk akan melaksanakan hajatan kelahiran anak mereka, dan mereka sudah setuju. Tapi baru beberapa hari aku di negeri jiran, adik perempuanku yang paling kecil menghubungi aku, dan mengatakan mereka (Sunita dan Sunaryo, red) telah ke Mahato. Setelah kuhubungi, dia nggak mau ngangkat HP-nya dan SMS-ku pun tidak dibalasnya. Lalu aku diamkan karena kuanggap mungkin mereka hanya sebentar di sana,” terangnya.

Namun beberapa hari kemudian, ia menerima SMS dari seorang tetangga adiknya di Mahato. Isinya, adiknya selalu mendapat perlakuan kasar, bahkan sering disiksa oleh suaminya. Mendengar itu, Supriadi langsung menghubungi Sunaryo. Namun lagi-lagi HP-nya tidak diangkat. Hingga suatu hari, Sunita menghubunginya. Sambil menangis, Sunita minta tolong agar dirinya dijemput dari Mahato, karena tidak tahan disiksa suaminya. (mag-02)2 Jari Diamputasi & Urat Tangan Putus

Satu dari dua pria yang menjadi korban pembantaian Sunaryo (45) di Desa Beluru, Lorong III, Kecamatan Meranti, Kabupaten Asahan, yakni Fahrudi (35) menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum (RSU) Pirngadi Medan. Akibat bacokan Sunaryo, dua jari tangan kirinya putus, yakni ibu jari dan telunjuk. Selain itu, satu urat tangan Fahrudi putus dan menurut dokter bisa menyebabkan tangannya lumpuh.

Jumat (18/6) sekira pukul 16.00 WIB, Fahrudi masuk RSU Pirngadi Medan didampingi istri dan keluarganya. Malamnya sekira pukul 21.00 WIB Fahrudi dioperasi. Operasi selesai sekira pukul pukul 22.30 WIB. Kulit pahanya diambil dan ditempelkan ke tangan kirinya. Sedangkan luka bacok di bahu kanannya terpaksa dijahit hingga 30 jahitan. Menurut dr Suhelmi SPpd, salah satu urat tangan Fahrudi putus dan bisa mengakibatkan tangannya lumpuh.

Baca Juga :  Quick Count Kota Medan (IndoBarometer & MetroTV) Data 100% - Eldin-Akhyar Menang

Hingga Minggu (20/6), Fahrudi dirawat di lantai V kamar 519 RSU Pirngadi Medan, dengan status pasien umum dan seluruh biaya pengobatan ditanggung keluarga.

Menurut istrinya, Elisa Hasaini, pihak keluarga tidak menggunakan Asuransi Keluarga Miskin karena takut tidak dipedulikan pihak rumah sakit.

Fahrudi, yang selama ini bekerja sebagai petani tidak menyimpan dendam kepada Sunaryo. Ia hanya berharap cepat sembuh, dan bisa menjalani hari-harinya ke depan.

Elisa, istri Fahrudi menambahkan, mereka tiba di RSU Pirngadi Medan, Jumat sore. Setelah diperiksa, dokter menganjurkan jari telunjuk dan ibu jari suaminya diamputasi karena kondisinya tidak memungkinkan untuk disambung kembali.

“Karena nggak mungkin lagi disambung, dan ditakutkan membusuk, suami saya akhirnya harus menjalani operasi untuk menjahit bahu dan melakukan amputasi jarinya,” ucapnya.

Kepada POSMETRO (grup METRO) kemarin, Fahrudi membeberkan peristiwa pembantaian yang dilakukan Sunaryo, hingga menewaskan istri, ayah mertua, dan adik iparnya. Selain itu, buah hatinya sendiri, Raffa mengalami luka bakar serius. Sebab setelah membantai ketiga korban, Sunaryo membakar rumah mertuanya. Dan selanjutnya ia bunuh diri dan ikut terbakar. Selain Fahrudi, tetangga yang turut terkena bacokan Sunaryo adalah Supriadi (27). Tangan kanan pria ini putus dan dirawat di Rumah Sakit (RS) Kartini Kisaran.

Diceritakan Fahrudi, Jumat (18/6) dini hari, ia dan istrinya tidur di rumah mereka, yang berjarak sekira 200 meter dari kediaman mertua Sunaryo, yakni Sulaiman. Tiba-tiba, istri Fahrudi, Elisa (33), mendengar teriakan minta tolong. Elisa terbangun dan mengenali suara teriakan itu merupakan suara Sunita, tetangga mereka.

Lalu ibu dua anak ini membangunkan Fahrudi, dan meminta suaminya melihat apa yang terjadi di rumah tetangganya. Namun Fahrudi menolak permintaan sang istri. Sebab selama ini ia tahu suami Sunita, Sunaryo suka mabuk-mabukan dan memukuli istrinya. Sehingga Fahrudi merasa tidak enak mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Fahrudi pun kembali tidur. Namun kemudian dibangunkan lagi oleh istrinya, dan diminta melihat apa yang terjadi di rumah Sunita.

Fahrudi pun bangun. Bersama dengan adik iparnya, Fahrudi menuju kediaman Sunita. Ia menyuruh adik iparnya menunggu di luar rumah, sedangkan Fahrudi masuk dari pintu belakang rumah. Di dalam rumah, ia melihat banyak asap dari dapur. Fahrudi terus masuk dan melihat kepulan asap. Saat itu Fahrudi heran karena tidak ada penghuni rumah yang terbangun, padahal seisi rumah sudah dipenuhi asap.

Fahrudi terus menuju ruang tamu. Ia berniat membangunkan penghuni rumah. Saat itu, ia melihat sepedamotor Ninja belum terbakar di dalam rumah. Fahrudi pun berusaha mengeluarkan sepedamotor tersebut.

Namun tiba-tiba Fahrudi me lihat Sunaryo keluar dari persembunyian di bawah meja di ruang tamu. Mata Fahrudi dan Sunaryo sempat bertatapan. Segera saja, Sunaryo yang memegang parang mengejar Fahrudi dan menyerangnya membabi buta. Sunaryo membacok bahu kanan dan tangan kiri Fahrudi. Saat akan membacok lagi, Sunaryo terjatuh. Fahrudi pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menyelamatkan diri. Dengan luka bacok dan berdarah-darah, Fahrudi berlari ke rumahnya dan meminta tolong kepada istrinya. Saat itu, dua jari tangan kirinya sudah menggantung nyaris putus.

“Tanganku mau putus,” tutur Fahrudi kepada sang istri. Melihat suaminya berdarah-darah, Elisa segera membawa Fahrudi ke Klinik Lela. (fatimah/pmg/mag-21/smg) Sri Melani Minta Baju Lebaran

Suasana duka masih terasa mendalam bagi keluarga Sulaiman (55), Sunita, dan Sri Melani. Supriady (30) abang kandung Sunita kepada METRO, Minggu (20/6) mengatakan, ia tak menyangka kalau ayahnya, dan kedua adiknya tewas dengan cara menggenaskan karena dibunuh Sunaryo yang merupakan suami dari adiknya Sunita.

Menurutnya, Sunita dan Sri merupakan sosok adik yang ceria, terutama Sri Melani. Setengah bulan yang lalu Sri menelepon Supriady meminta dibelikan baju untuk lebaran. “Dia ada telepon saya saat itu danmengatakan, bang, kalau pulang jangan lupa belikan aku pakaian untuk berlebaran,” ucapnya menirukan perkataan Sri Melani. Supriady menambahkan, Sri merupakan anak yang pintar dan ia selalu mendapat bea siswa di sekolahnya. Rencananya, setelah lulus sekolah, nantinya Sri akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

“Oleh karenanya aku mempunyai tekad menyekolahkan dirinya hingga keperguruan tinggi,” tuturnya. (mag-02)

Sumber: http://metrosiantar.com/Berita_Foto/Seputar_Menantu_Bantai_Istri_Mertua_dan_Adik_Ipar

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 11 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*