Mencari Pemimpin Kharismatik

presidenindonesiaselanjutnya Mencari Pemimpin KharismatikOleh: Mohammad Takdir Ilahi *)

Kontestasi Pilpres 2014 sudah semakin dekat di depan mata. Pilpres 2014 merupakan ajang pertarungan untuk mencari sosok pemimpin ideal yang menjadi harapan semua rakyat Indonesia. Mendekati pemilihan presiden Juni mendatang, Indonesia membutuhkan pemimpin ideal yang bisa diharapkan menjadi juru selamat atau ratu adil dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Dalam mencari sosok pemimpin ideal, rakyat dituntut cerdas dalam memetakan calon yang akan dipilih agar tidak salah dalam menentukan masa depan bangsa ke depan.

Ketika calon pemimpin bertarung dalam kampanye debat politik, rakyat harus bisa mencermati sosok pemimpin kharismatik yang mampu menampilkan bukti, bukan janji semata. Hal ini menjadi penting mengingat Indonesia merupakan negara yang menerapkan konsep demokrasi secara lebih baik. Kepemimpinan kharismatik di negara-negara berkembang menjadi salah satu faktor khusus yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan calon presiden.

Dalam pandangan Max Weber, konsep kharismatik (charismatic) atau kharisma (charisma) lebih ditekankan kepada kemampuan pemimpin yang memiliki kekuatan luar biasa dan mistis. Tipe kepemimpinan ini sangat menekankan akan pentingnya kekuatan dan kepekaan dalam membaca fenomena sosial yang terjadi, sehingga ia bisa diterima dengan baik oleh masyarakatnya sendiri. Setidaknya ada lima faktor yang menjadi karakter kepemimpinan kharismatik, yaitu seseorang yang memiliki bakat luar biasa, kemampuan membaca krisis sosial, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecahkan krisis tersebut, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa seseorang itu memiliki kemampuan luar biasa yang bersifat transendental dan supranatural, serta adanya bukti yang berulang bahwa apa yang dilakukan itu mengalami kesuksesan.

Kepemimpinan kharismatik didasarkan atas prilaku dan penerimaan dari pengikutnya sebagai pemimpin yang memiliki daya tarik dan pengaruh luar biasa. Dengan demikian, ada lima dimensi prilaku yang harus dimiliki seorang pemimpin kharismatik, yaitu: peduli terhadap konteks lingkungannya, memiliki strategi dan artikulasi visi, peduli terhadap kebutuhan pengikutnya, memiliki personal risk, serta memiliki prilaku yang tidak konvensional. (Paul Hersey & Kenneth H. Blanchard, 1998: 23).

Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seorang yang dikagumi oleh banyak pengikut, meskipun para pengikutnya tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara kongkrit, mengapa orang (pemimpin kharismatik) tersebut dikagumi. Mungkin seorang pemimpin yang kharismatik menggunakan gaya yang paternalistik, tetapi ia tidak kehilangan daya tariknya. Kepemimpin kharismatik sangat bergantung pada kemampuan seseorang dalam mempengaruhi pada jalan yang benar dan memberikan kesempatan kepada para pengikutnya untuk juga menikmati manisnya kesejahteraan hidup. Itulah sebabnya, pemimpin kharismatik harus mampu menampilkan sosok yang murah senyum, peduli, kasih sayang, merasakan nasib penderitaan orang lain, dan berani mengambil keputusan untuk membantu kemaslahatan rakyat.

Baca Juga :  Rancangan yang Pro-Koruptor

Gagasan tentang kepemimpinan kharismatik harus mengacu pada upaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Nilai penting yang harus dimiliki oleh pemimpin kharismatik adalah kecerdasannya dalam memanfaatkan momentum untuk menciptakan daya dan kekuatan demi terlaksananya tujuan yang akan dicapai. Pada saat itu pula, kita akan menyadari betul bahwa kepemimpinan kharismatik berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam jiwa masing-masing pemimpin yang menjadi idola dan panutan bagi semua orang.

Seorang pemimpin yang kharismatik harus memiliki karakteristik sebagai berikut: Pertama, percaya pada diri, artinya mereka benar-benar percaya akan kemampuan diri mereka sendiri. Kedua, memiliki suatu misi yang merupakan tujuan ideal yang mengajukan suatu masa depan yang lebih baik dari pada status quo. Jadi, jangan harap pemimpin kharismatik bisa mendapatkan pengaruh luar biasa, kalau tidak dilandasi dengan keyakinan yang kuat mencipta masa depan dengan semangat revolusi. Ketiga, memiliki kemampuan untuk mengungkap visi sejelas mungkin, artinya mampu memperjelas dan menyatakan visi dalam kata-kata yang dapat dipahami orang lain. Memiliki keyakinan kuat mengenai visi, artinya pemimpin kharismatik harus mempunyai komitmen yang kuat dan bersedia menanggung resiko yang tinggi, mengeluarkan biaya yang tinggi dan melibatkan dan berkorban untuk mencapai visi tersebut.

Meminjam tipologi Max Weber, kita bisa melihat tokoh-tokoh yang ada saat ini dengan memasukan ke dalam kategori kharismatik (SBY), tradisional (Megawati dan Sultan HB X), dan rasional (JK). SBY bisa diakui sebagai tokoh yang memiliki kharisma paling besar dibandingkan dengan yang lainnya. Dia memiliki bakat, pembawaan, dan kekhasannya sendiri. Daya pikatnya menjadi modal paling penting yang menarik orang-orang mengitari dirinya dan mengakui kepemimpinannya. SBY mendapatkan legitimasi kharismatik.

Baca Juga :  Merenungi Kepemimpinan Koruptif

Pemimpin kharismatik, tidak perlu prestasi luar biasa untuk mendapatkan pengikut. Yang perlu dilakukan untuk mempertahankan legitimasinya dan citra yang baik. Terserah si pemimpin sendiri apakah dia akan menggunakan kekuatan pesonanya itu untuk menggerakkan orang menjalankan program pemerintahan secara efektif atau tidak? Hanya saja, ada risiko dari seorang pemimpin kharismatis. Ia bisa dengan mudah mengarahkan dukungan pengikutnya tidak kepada rencana dan program yang harus dilaksanakan, tetapi kepada dirinya sendiri. Ada semacam hubungan persaudaraan (elective affinity) antara legitimasi kharismatis dan godaan kepada kultus individu. (Ignas: 2004).

Apa yang diperlihatkan dalam komunikasi politik Partai Demokrat selama ini, dengan selalu menyebut “Partai Demokrat bersama SBY”, sangat menunjukkan kecenderungan ke arah “pengultusan” sang tokoh ini. Dengan demikian, dalam kepemimpinan kharismatik, pola hubungan dengan pengikut menjadi kharismatik-emosional, bahkan cenderung terjadi pengultusan tokoh. Para pengikut tidak perlu mempertanyakan segala syarat kompentensi untuk jabatan tertingginya. Para pengikut akan terus “nunut-manut” dan terkagum-kagum setiap kali sang kharismatis menebar-nebar pesona.***

*) Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Jogjakarta dan Staf Riset The Mukti Ali Institute Jogjakarta.

Sumber: analisadaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*