Menderita Penyakit Menular, Terpaksa Tinggal di Pondok

Panyabungan, Saparuddin Lubis (32) warga asal Desa Roburan Dolok Kecamatan Panyabungan Selatan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) hidup sebatang kara. Dia menderita penyakit yang terus mengerogotinya. Dia memilih untuk tinggal sendirian di pinggir pedesaan karena penyakit yang dideritanya menimbulkan bau yang tidak sedap.

Dikatakan keluarganya, Habib Lubis (28), sewaktu abangnya itu tinggal di Jakarta mengalami sakit yang tidak tahu jenis  penyakitnya.

Segala upaya telah dilakukan baik berobat ke dokter dan dukun kampung. Sehingga penghasilan yang dikumpulkanya selama di Jakarta habis untuk biaya berobat.

Karena kehabisan biaya dengan terpaksa abang saya pulang ke Desa Roburan Dolok sejak enam tahun terakhir ini. Upaya penyembuhan masih terus dilakukan namun tidak ada perubahan.

Satu-demi satu jari-jari kakinya putus begitu saja akibat penyakit yang bersarang pada bagian kakinya. Hingga saat ini penyakit tersebut masih terus menyerang Saparuddin hingga jari-jari kaki kanannya habis dan masih terus merasakan sakit.

Oleh pihak keluarga terpaksa mengungsikan Saparuddin ke pinggir pedesaan dan atas kemauannya sendiri karena merasa malu kepada masyarakat yang setiap harinya mencium bau yang tidak sedap. Bahkan dari kaki yang sakit tersebut sering keluar belatung,dan menjijikkan.

Namun, satu bulan terakhir ini sakit yang diderita Saparuddin pindah ke kaki kirinya dan terus menggerogoti dan membuat jari kaki kelingkingnya sudah putus. Dia sekarang hidup dengan belas kasihan warga setempat karena dia tidak mampu untuk mencari nafkah kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga :  Honor Kades di Kab Tapsel Naik Rp200 Ribu

Saparuddin yang tinggal di sebuah gubuk di pinggiran desa yang berukuran 1 x 2 meter, hanya dapat pasrah dan menunggu belas kasihan warga. Dia berharap kiranya ada orang yang kasihan dan mau membantu untuk pengobatan penyakit yang dideritanya sudah 8 tahun ini.

Semenjak tinggal di Desa Roburan Dolok penyakit yang dideritanya tidak pernah dibawa berobat ke puskesmas dan RSU karena ketiadaan biaya hanya menonsumsi obat dari warung untuk meeritanya.

“Kiranya penyakit yang saya derita dapat segera sembuh dan berharap kerendahan hati dermawan yang mau kiranya membantu derita yang saya alami untuk berobat karena saya tidak ada biaya untuk berobat ke RSU Panyabungan. Penyakit saya ini masih terus menyerang pada bagian kaki dan merasakan sakit serta menimbulkan bau yang tidak sedap,” ucapnya. (man)

/ (Analisa).

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*