Mengapa Kiper Cenderung Blunder Saat Penalti?

Penjaga gawang yang berjibaku dengan tendangan penalti membuat kesalahan yang bisa ditebak, kata peneliti.

Ada sejumlah pertandingan berujung pada adu penalti di Piala Dunia 2014. (Foto: Getty via BBC Indonesia)

Kesalahan yang dilakukan seorang penjaga gawang dalam pertandingan, khususnya saat tendangan penalti, dikaji para peneliti. Apa yang menyebabkan kiper blunder saat penalti?

Dari tayangan video pertandingan Piala Dunia dan Piala Eropa antara 1976 hingga 2012, beberapa ahli psikologi menemukan bahwa setelah tiga tendangan secara beruntun ke arah yang sama, kiper akan cenderung meluncur ke arah sebaliknya pada tendangan keempat.

Fenomena itu, sebagaimana disebutkan tim peneliti dari University College London (UCL) dalam jurnal Current Biology, dinamai ‘kesalahan penjudi’.

Salah satu contoh konkret ‘kesalahan penjudi’ ditemui pada permainan lempar koin. Jika sisi A pada satu koin muncul secara beruntun pada beberapa kali kesempatan, banyak orang mengira sisi B akan muncul begitu koin kembali dilempar.

Padahal, pada kenyataannya, setiap kali koin dilempar ada kemungkinan 50-50 sisi A maupun sisi B akan muncul, terlepas dari berapa kali sebuah sisi muncul secara beruntun.

Pada adu penalti, kesalahan atau blunder itu diulangi sejumlah kiper. “Setelah tiga kali tendangan, 69% kiper akan cenderung meluncur ke sisi yang berlawanan dari tendangan terakhir. Kemudian 31% meluncur ke arah yang sama dengan arah tiga tendangan beruntun,” kata kepala peneliti, Erman Misirlisoy.

Baca Juga :  Benitez: Terima Kasih, Inter

Contoh penelitian ini ialah ketika Inggris berhadapan dengan Portugal pada babak perempat final Piala Eropa 2004. Kala itu, kiper Inggris, David James, meluncur ke kanan setelah tiga penendang Portugal mengarahkan bola ke kiri.

James salah menebak karena penendang keempat kembali mengarahkan bola ke kiri. Portugal pun menang 6-5.

“Paling baik bagi seorang kiper ialah menebak secara acak,” kata Misirlisoy.

Namun, penelitian itu tidak membahas tentang bagian tengah gawang.

“Kami sengaja tidak mengkaji bagian tengah karena kejadiannya begitu jarang. Tendangan penalti ke tengah terjadi kurang dari 10% dan hanya 2,5% kejadian di mana kiper tetap berada di tengah. Jadi, penendang bisa saja mengeksploitasi fakta ini dengan menendang ke tengah lebih sering,” tutup Misirlisoy.

(Sumber: BBC Indonesia)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 7 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*