Mengenal Keluarga Khadafi Dan Bisnis Keluarga Khadfi

Selama 42 tahun berkuasa, Muammar Khadafi membuat Libya menjadi negara kaya. Minyak dan gas diolah, dan sektor bisnis lain digenjot luar biasa. Dengan bisnis menggurita dan kekuasaan tak terhingga, kita sulit membedakan mana uang Khadafi dan mana uang Libya.

Muammar Khadafi

Rakyat Libya di satu sisi mendapatkan pemerintahan yang otoriter di tangan Khadafi. Namun di sisi lain, Khadafi juga yang membuat Libya menjadi salah satu negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di benua Afrika.

Lantas bagaimana Khadafi mengelola uang Libya? Seperti dilansir Allbusiness.com, edisi Senin 18 Juli 2005, Bank Sentral Libya mengatur Libyan Arab Foreign Bank (LAFB) yang memutar uang Libya. LAFB ini memiliki anak perusahaan Libyan Arab Foreign Investment Co (Lafico) yang trengginas dalam berbisnis.

Uang hasil minyak bumi yang memperkaya Libya adalah dari National Oil Company (NOC) di mana Lafico dan LAFB juga memegang saham minoritasnya. Urusan bisnis perbankan, itu adalah pegangan LAFB.

LAFB membangun Arab Banking Corp (ABC) bersama rekanan dari Kuwait dan Abu Dhabi. ABC menjadi bank internasional paling besar di Timur Tengah dengan jaringan di seluruh dunia. LAFB juga memegang 5 persen saham Banca di Roma, bank komersial besar di Italia.

Lafico lebih perkasa lagi menjadi penanam modal di berbagai negara, terutama di Italia. Pada Februari 2002, Lafico membeli lagi 2% saham Fiat senilai US$ 112 juta atau sekitar Rp 1,008 triliun. Lafico juga memiliki saham 7,5 persen saham klub sepakbola Juventus. Perusahaan ini juga punya investasi besar di bidang perhotelan dengan menguasai 47% saham Corinthia Group.

Baca Juga :  Mengaku Raja Minyak, Pria Ini Sekap dan Hamili 10 Model

Nah, yang kemudian terjadi adalah semakin sulit membedakan mana uang Libya dan mana uang Khadafi, karena besarnya peran kolonel itu dalam membela kepentingan bisnisnya secara langsung dan tidak langsung. Bloomberg misalnya, pada Rabu (23/2/2011) saat mengulas soal nasib saham Lafico di Juventus terkait krisis Libya, lebih suka menyebut Lafico sebagai milik pemimpin Libya Muamar Khadafi.

Anak-anak pemimpin Libya, Muammar Khadafi, memanfaatkan kekuasaan sang ayah untuk mendirikan kerajaan bisnis. Bisnis mereka beragam mulai dari minuman ringan sampai industri film.

Muhammad Khadafi

Seperti dilansir Guardian, dalam edisi Senin 21 Februari 2011, anak-anak Khadafi sangat menikmati uang dari hasil penjualan minyak. Namun mereka juga punya kerajaan bisnis masing-masing. Seperti diketahui, Khadafi miliki 8 anak dari dua kali pernikahan.

Putra pertama Khadafi adalah Muhammad Khadafi. Kepala Komite Olimpiade Libya ini menguasai 40% saham Libyan Beverage Company. Perusahaan ini adalah pemegang lisensi Coca-Cola di Libya. Muhammad juga pemilik General Post and Telecom Company, operator ponsel dan komunikasi satelit.

Putra keduanya adalah Saif al Islam Khadafi. Dia tidak diketahui berbisnis. Namun Saif mengelola dana amal lewat International Charitable Khadafi Foundation.

Saadi Khadafi adalah putra ketiga Muammar Khadafi. Sempat ingin menjadi pemain bola di Liga Italia Seri A namun karirnya jeblok. Dia kini menjadi ketua Libya Football Federation, PSSI-nya Libya. Untuk bisnisnya, dia memiliki usaha produksi film dengan nilai investasi US$ 100 juta atau sekitar Rp 900 miliar dan memegang saham signifikan klub sepakbola Libya, Al Ahli. Saadi juga punya tentara sendiri yang dengan curangnya dia pakai untuk mengamankan deal dengan rekan bisnis.

Baca Juga :  Indonesia Berikan Bebas Visa Kunjungan ke 45 Negara ini

Anak keempat Khadafi, Muttassim Khadafi, sempat berbisnis pada 2001-2005 sebelum akhirnya diambil alih saudara-saudaranya. Pria yang pernah berniat mengkudeta ayah sendiri ini, kini menjadi Penasihat Keamanan Nasional Libya dan punya tentara di bawah kendalinya.

Di bawah Muttassim ada Hannibal Khadafi. Hannibal lebih dikenal sebagai anak bengal yang hidup berfoya-foya dan banyak tersangkut masalah hukum di benua Eropa. Sedangkan putra keenamnya adalah Saif al-Arab Khadafi juga tidak banyak tersorot media, selain hidup mewah sambil kuliah di Munich, Jerman. Saif terakhir malah disebut bergabung dengan demonstran anti Khadafi.

Putra ketujuh Khadafi, Khamis Khadafi, memilih karir di kepolisian dan moncer sebagai komandan Batalion 32 yang menghadapi para demonstran di Benghazi.

Nah, bisnis baru digeluti lagi oleh anak bungsu Khadafi, Ayesha Khadafi. Perempuan yang juga pengacara ini memiliki bisnis berupa klinik swasta di Tripoli. Klinik miliknya diakui mumpuni dalam memberikan layanan kesehatan yang tidak bisa diberikan fasilitas kesehatan umum lainnya. (detik.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 12 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*