Mengenang Perjuangan Laskar dalam Peristiwa Jembatan Sigama

Oleh : Tohong Pangondian Harahap *)
Bila kita melewati jembatan sigama menuju arah siranggit, Kecamatan Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta) atau persis di jalur lintas Sumatera Gunung Tua- Padangsidimpuan, atau sebaliknya, maka kita pasti akan melewati tugu dan monumen perjuangan jembatan sigama yang terletak di atas bukit sekitar 300 meter dari jalur lintas Sumatera. Prasasti tersebut dibangun tim khusus perencanaan dan pembangunan tetengger propinsi Sumatera Utara, sedangkan tugu dibangun Pemda Tapanuli Selatan.

Para pahlawan yang diabadikan dalam tugu maupun prasasti itu adalah pahlawan dari berbagai daerah yang gugur dalam pertempuran jembatan sigama itu. Monumen dan prasasti dibangun untuk mengenang perlawanan perjuangan masyarakat sigama dalam pertempuran agresi militer tahun 1949 yang terjadi di Desa Sigama yang terjadi dua kali serangan. Para pejuang melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda hanya bermodalkan bambu runcing dan peninggalan senjata jepang.

Dalam prasasti tersebut, ada tokoh Masyarakat yang diabadikan namanya gugur dalam agresi Belanda di Sigama antara lain, Sayur Siregar dari Hajoran, Leman Lubis dari Sungai Durian dan Jabarat Harahap dari Napahalas. Setelah ketiga pejuang tersebut gugur di medan perang pada pertempuran pertama, kemudian para pejuang Sigama melakukan perlawanan dan melakukan penghambatan Kolonial Belanda.

Dengan berakhirnya pertempuran pertama disusul pertempuran di jembatan Sigama yang dikenal peristiwa jembatan Bosi untuk kedua kalinya. para pejuang yang gugur dalam peristiwa ini antara lain, Toha Daulay dari Siunggam, Bahrum Daulay dari Siunggam, Jabarat Dalimunte dari Sosopan.

Berikut informasi yang dirangkum wartawan dari berbagai sumber peristiwa yang terjadi di Jembatan Sigama. Serangan Pertama Belanda di Sigama Pasukan Belanda yang berposko di Padangsidimpuan kala itu, sedang melakukan patroli ke wilayah Sigama. Ketika ditengah perjalanan persisnya di daerah aek godang, salah seorang warga saat itu memberitahukan akan kedatangan pasukan Belanda ke wilayah sigama, agar berhati-hati dan waspada.

Setelah mendengar akan kedatangan pasukan Belanda, ada beberapa warga ditugaskan untuk melakukan pengintaian di Siparau. Siparau merupakan bukit yang paling tinggi di wilayah Siunggam. Berikut nama warga yang diutus untuk mengintai perjalanan pasukan Belanda ke wilayah Siunggam masing-masing Karo-karo berasal dari tanah Karo bertugas sebagai Komandan, Ginting berasal dari tanah karo, Dolok Siregar berasal dari desa Aek Bayur bertugas sebagai komanda regu dari Sigama, Kosim Harahap berasal dari desa Sigama dan termasuk pejuang paling muda kala itu, lalu Darim Siregar berasal dari Desa Sibatang Kayu, Suip Siregar berasal dari Desa Aek Bayur, Surip berasal dari desa Sosopan dan Bahrum Daulay berasal dari Desa Sibatang kayu.

Baca Juga :  KETERKAITAN BEBERAPA MUSIK TRADISI MANDAILING DENGAN TABU (Bagian – 3 Habis)

Mendengar suara rombongan sudah dekat, para pejuang sigama berpindah tempat ke tano ponggol dan bersembunyi di bukit-bukit yang tinggi di areal tersebut. Para pejuang Sigama berusaha menghalangi Belanda masuk ke Sigama. Sesampainya pasukan Belanda ke Tano Ponggol, terjadi baku tembak di sekitar 100 meter dari bukit tersebut. Hal ini menyebabkan empat pasukan Belanda tewas ditempat, mayat mereka giring pulang.

Setelah kejadian tersebut para pejuang Sigama menyelamatkan diri ke tor-tor sipipisan untuk bersembunyi dan dalam peristiwa tewasnya pasukan Belanda disaksikan langsung para warga, seperti anak-anak, kaum ibu, bahkan lansia.

Selang beberapa menit kemudian, pasukan Belanda kembali melanjutkan patrolinya ke arah Sigama. Pejuang Sigama kembali menyusun rencana untuk memberikan perlawanan kepada Belanda. Pertempuran pun terjadi di dekat Simpang Baru, baku tembak untuk yang kedua kalinya, dua pejuang Sigama gugur dalam peristiwa tersebut yakni Surip Harahap dan Bahrum Daulay karena tertembak oleh Pasukan Belanda dan jenazahnya dimakamkan di desa kelahiran masing-masing. Hampir berbanding sama dengan pejuang Sigama, tiga orang pasukan Belanda juga ikut tewas dalam peristiwa dan mayatnya digiring dan dibawa pasukan Belanda.

Serangan Kedua Belanda di Sigama.

Berselang waktu yang cukup singkat, Belanda kembali melancarkan misinya ke Sigama, namun kedatangan Belanda diketahui penduduk sigama, maka dari itu para pejuang sigama kembali menyusun rencana perang, dalam perang kali ini, dipimpin oleh Haeran Siagian dan dibantu Darim Siregar. Kedua pejuang ini merupakan tentara Heiho, yang paling mengetahui tentang strategi-strategi dalam perang saat itu di desa Sigama. Karena sebelumnya mereka berdua ikut berperang melawan pasukan Jepang.

Baca Juga :  KETA KU SIPIROK (bag-5): PERANG PERNYATAAN

Sebelum Belanda tiba,pejuang Sigama merusak jembatan Sigama. Hal ini bertujuan untuk memperlambat jalannya truk Belanda. Setibanya Belanda di Jembatan Sigama, rencana yang disusun pejuang Sigama berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Pada saat itu truk yang ditumpangi pasukan Belanda melewati jembatan Sigama, haeran yang bersembunyi di bawah jembatan melemparkan granat kecil ke dalam truk Belanda tersebut, sehingga menewaskan empat orang pasukan Belanda. Namun Belanda tidak melakukan perlawanan, akan tetapi hanya melambungkan/melepaskan suara senjata ke arah atas. Setelah kejadian tersebut,pasukan Belanda kembali ke posko mereka yang mereka dirikan di Aek Godang dengan mencari jalan pintas melewati desa tangga-tangga hambeng.

Lebih kurang satu tahun, Belanda masih sering patroli ke desa Sigama, namun pertumpahan darah sudah tidak pernah terjadi lagi.Setelah diadakannya perundingan-perundingan yang menegaskan kepada Belanda untuk menghentikan serangannya terhadap Indonesia dan disetujui oleh pihak Belanda, maka Belanda ke kembali ke negeri mereka dan berakhirlah serangan Belanda di Sigama. Tempat ini menjadi sejarah bagi masyarakat Paluta khususnya maupun masyarakat Indonesia umumnya yang pernah terjadi di Jembatan Sigama. Siapa pun yang datang, akan merasakan betapa gigih semangat para pejuang pertahankan negeri tercinta.

Disalin dari: www.analisdaily.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

4 Komentar

  1. selamat malam bang,saya berminat mau menuliskan sejarah perjuangan yang abang maksudkan,kebetulan saya sedang menempuh pendidikan di USU jurusan ilmu sejarah,
    jadi saya rasa berketepatan sekali bang,bisa gak kira-kira dibantu bang?

  2. Saya adalah putra dari kosim harahap salah seorang pelaku sejarah dalam perjuangan tersebut,
    Dan sejarah perjuangan ini pernah juga diceritakan oleh salah seorang pelaku sejarah tersebut yaitu tulang saya sueb siregar,mohon informasi apakah para pelaku sejarah tersebut tercatat dalam perjuangan replubic yang kita cintai ini,soalnya saya pernah mengurus veteran orang tua saya yang sampe sekarang belum ada realisasinya

  3. Bbrpa hal sy tdk setuju dgn tulisan ini namun secara umum sy sgt bahagia membaca tulisan ini,,sekedar ralat saja ya..alm tulang Toha daulay awalnya di kubur di makam umum siunggam tonga namun bbrp waktu kemudian oleh pihak terkait makamnya di pindah ke tmp sibolga..slnjutnya Tulang bahrum daulay di awal tulisan berasal dr siunggam namun di akhir tulisan dia berasal dr sibatangkayu.saya berpendapat bahwa bahrum daulay yang di maksud berasal dr sibatangkayu,bgtu yg sy dengar cerita di huta siunggam tonga.dmikian

  4. Salam.

    Apakah ada terindikasi dalam pertempuran dan keberadaan tentara Belanda zaman itu di tempat atau desa sekitar itu melakukann pelanggaran ham artinya adanya rakyat sipil tak bersenjata yang ditembak atau dibunuh Belanda tanpa proses hukum yang benar. KOnteksnya apakah ada warga sipil yang jadi korban yang kita kategorikan kejahatan perang. Demikian semoga berkenan bergai info2 dengan kami.

    Salam

    Iwan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*