Mengikuti Jejak Kain Tenun Khas Sipirok (2)

Oleh: Budi Hutasuhut *)— Pengajar di FISIP Universitas Bandar Lampung, putra daerah asal Kecamatan Sipirok – Pemerhati masalah sosial masyarakat.

Baca Bag. Sebelumnya: Mengikuti Jejak Kain Tenun Khas Sipirok (1)

Sumarni (31) sumringah. Senyuman mengembang di wajahnya saat menggunting benang-benang katun dari peralatan tenunnya. Rabu pekan lalu adalah hari yang ditargetkannya akan menyelesaikan sehelai ulos ketika ia memulai pekerjaan pada Minggu. Sebab pada Kamis, ia akan membawa ulos itu ke Pasar Sipirok, menjualnya ke pedagang kelontong yang ada di sana.

“Uang hasil penjualan saya pakai belanja kebutuhan sehari-hari setelah membeli bahan baku,” ujar ibu tiga anak yang ditemui di rumahnya di Desa Tanjung Medan, Kecamatan Sipirok, sekitar empat km dari Pasar Sipirok.

kain 11 Mengikuti Jejak Kain Tenun Khas Sipirok (2)Ia merentangkan ulos yang baru selesai ditenunnya di atas lantai kayu rumahnya. Di sekitarnya berserakan balobas (bila bambu yang diraut tipis sepanjang satu meter), potongan benang, dan sebuah kaleng bekas biskuit yang berisi gulungan benang–semua peralatan bertenun. Diamatinya satu per satu motif pada kain tenun itu untuk memastikan tak ada satu motif pun yang pengerjaannya salah.

“Setiap motif ini merupakan simbol yang mengandung makna. Kalau salah, maknanya pun salah, dan itu akan menurunkan harganya,” ujarnya sembari menekankan bahwa ulos merupakan kain tradisional yang setiap motifnya menceritakan filosofi hidup masyarakat Batak. “Berbeda dengan motif pada ulos dari daerah lain.”

Masyarakat berbudaya Batak secara geografis menetap dan tersebar di wilayah Sumatra Utara. Masyarakat ini terdiri dari sub-budaya sesuai geografis penyebarannya. Masyarakat Batak yang menyebar di bagian Selatan dari Sumatra Utara terdiri dari Batak Angkola dan Batak Mandailing. Batak Angkola menyebar di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Paluta, dan Kabupaten Palas.

Masyarakat Batak yang menetap di wilayah Kecamatan Sipirok sering menyebut diri atau disebut Batak Angkola Sipirok. Dalam buku Adat Budaya Angkola-Sipirok yang disusun berdasarkan Musyawarah Lembaga Adat Budaya Kecamatan Sipirok pada 24-26 Oktober 1996, Bupati (waktu itu) Drs. H. Sualoon Siregar menyebut Angkola Sipirok merupakan salah satu identitas daerah sekaligus identitas bangsa yang nilai-nilainya harus dilestarikan.

kain 21 Mengikuti Jejak Kain Tenun Khas Sipirok (2)Seperti halnya masyarakat Batak lainnya, penganut kebudayaan Batak Angkola Sipirok ini memiliki kain adat yang disebut abit atau ulos. Ulos biasa dibuat secara tradisional menggunakan alat tenun gedokan. Disebut kain adat karena ulos hanya dipergunakan dalam upacara adat baik pada acara pernikahan (siriaon/berbahagia) maupun acara kemalangan (siluluton). Tanpa kehadiran ulos, prosesi acara adat tidak bisa dijalankan.

Namun, dalam perkembangan saat ini, ulos tradisional ini makin jarang dibuat. Sumarni hanya salah seorang dari sedikit penenun kain tradisional masyarakat Batak Angkola Sipirok. Di dalam rumahnya yang terbuat dari kayu, Sumarni memiliki satu perangkat alat tenun gedokan. Peralatan tenun tradisional itu berupa beberapa bilah balobas, sebatang bambu bulat, dan sebatang kayu besar. Bambu bulat itu diikatkan ke dinding rumah, di bawah jendela yang selalu terbuka, sehingga setiap orang yang melintas di depan rumah akan melihat saat Sumarni bertenun.

Baca Juga :  Istilah Koum Sisolkot

Kalau peralatan itu selesai dipakai, ia akan membungkusnya dengan kain. Ia harus hati-hati menjaga peralatan tenunnya, karena peralatan itu tidak dijual. Setiap penenun membuat sendiri peralatannya. “Dulu memang ada orang yang bisa membuat peralatan tenun gedokan, tapi sekarang tak ada lagi. Saya sendiri membuatnya setelah mencontoh peralatan yang ada,” katanya.

Sambil membungkus peralatan tenun dengan kain sarung, Sumarni mengaku tak banyak perajin ulos di Desa Tanjung Medan. Desa ini sendiri memang tak pernah dikenal sebagai sentra perajinan ulos. Karena itu, kalau pun ada perajin di desa ini seperti Sumarni, mereka merupakan pendatang di desa itu. “Saya menikah dan dibawa suami tinggal di desa ini,” ujar Sumarni seraya menjelaskan kalau ia berasal dari Desa Paranjulu, sekitar 4 km dari Desa Tanjung Medan.

Desa Paranjulu terletak sekitar 4 km dari pusat Kota Sipirok ke arah Utara, sejak lama dikenal sebagai sentra tenun ulos di Kecamatan Sipirok. Pada era 1980-an, hampir pada setiap rumah di desa ini bisa ditemukan perajin ulos, yang pengerjaannya dilakukan secara tradisional atau gedokan. Menjadi perajin ulos bukan domain orang tua, tetapi juga dilakukan para gadis yang belajar dari orang tua mereka.

Namun, selama lima tahun terakhir, pamor Desa Paranjulu sebagai sentra tenun ulos gedokan di Kecamatan Sipirok semakin menurun. Tidak banyak lagi perajin tenun di desa itu. Penyebabnya, para orangtua tidak bisa lagi mengajarkan cara menenun kepada gadis-gadis mereka. Karena gadis-gadis terlalu sibuk untuk urusan sekolah disamping minat mereka untuk menenun sangat minim.

“Anak-anak gadis sekarang selalu beralasan sekolah, padahal menenun bisa dilakukan sepulang sekolah,” kata Sumarni.

Sedangkan para gadis penenun banyak yang sudah mampu berkarya, rata-rata menikah dengan pemuda dari desa luar. Sumarni salah seorang diantaranya. Keterampilan bertenun yang diperoleh di desanya, dibawanya ke desa dimana suaminya mengajaknya menetap. “Hasil tenun saya sangat membantu suami menghidupi keluarga,” ujar Sumarni.

Dalam sepekan Sumarni bisa menyelesaikan satu ulos. Sebetulnya ia bisa menyelesaikan dua ulos, tapi sebagian besar waktunya habis untuk membantu suami bekerja di sawah atau kebun. Bertenun ulos menjadi pekerjaan sampingan bagi Sumarni. Manakala hari Rabu, satu helai ulos selesai dikerjakan. Ulos itu dibawanya ke penampung di ibu kota Kecamatan Sipirok untuk dijual. Sebagian hasil penjualan ulos dipakainya untuk membelanjakan kebutuhan sehari-hari. Sebagian lainnya untuk membeli benang bahan baku membuat ulos baru.

“Para penampung sering hanya memberi uang setengah dari harga, setengah lainnya berupa bahan baku pembuatan ulos,” kata Sumarni.

Baca Juga :  SATU SUARA UNTUK PENGEMBANGAN SMA NEGERI 1 SIPIROK

Bahan baku pembuatan ulos berupa benang yang sudah diani. Mangani atau menata benang untuk bahan baku ulos merupakan mata pencaharian tetap bagi sebagian warga Kecamatan Sipirok. Hasil kerja mereka sangat dibutuhkan para perajin ulos, karena bahan itulah yang menentukan bentuk dasar dari tenunan ulos.

Mangani merupakan pekerjaan yang dilakukan Aryani (33) setiap hari. Warga Desa Bangurabaan, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan ini, melakoni pekerjaan ini selama 10 tahun. “Kalau saja saya punya modal untuk membeli benang, usaha ini sangat membantu ekonomi keluarga,” ujar Aryani, ibu empat orang anak, yang mengaku bekerja sebagai orang upahan pemilik benang.

Aryani diupah oleh orang lain untuk mangani benang menjadi bahan baku pembuatan ulos. Untuk satu bahan baku ulos yang sudah selesai, ia memperoleh Rp50.000. “Dari Rp50.000 itu ia hanya memperoleh Rp20.000,” katanya.

Menurut Aryani, benang yang dikasih oleh pemilik benang tidak bisa langsung diani. Benang-benang itu sebelumnya harus diurai satu per satu dari gulungannya, kemudian dikeraskan dengan cara memberi kanji berupa tepung beras yang dimasak. Setelah itu, benang harus digulung kembali dalam bentuk bulatan-bulatan kecil agar lebih mudah diani.

Untuk pekerjaan memberi kanji dan menggulung kembali benang-benang itu, Aryani tidak bisa melakukannya. Ia harus mengupah orang lain yang sehari-hari memang bekerja mengkanji benang. “Benang yang belum diberi kanji akan sulit diani  karena kusut dan menyulitkan pekerjaan,” katanya.

Sebab itu, upaha untuk mengani benang sebesar Rp50.000, dipotong Aryani untuk upah buat orang yang mengkanji dan menggulung benang. Setiap kali benang selesai diani, pemilik benang akan mendatangi ke rumah Aryani. Benang-benang hasil anian itu yang nantinya akan dijual kepada para penenun. “Benang itulah bahan baku membuat ulos,” kata Aryani. (bersambung)

budihatees 776944024 Mengikuti Jejak Kain Tenun Khas Sipirok (2)*) Budi Hutasuhut, kelahiran Sipirok, Tapanuli Selatan. staf pengajar FISIP Universitas Bandar Lampung, melakukan sejumlah penelitian antropologi budaya dan komunikasi dan telah dipublikasikan di sejumlah jurnal. Menulis cerpen, sajak, esai, novel, dan telah dipublikasikan di berbagai media cetak dan terkumpul dalam 25 buku.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*