Mengintip Aktivitas Kaum Ibu di Desa Manyabar, Panyabungan

Rabu, 09 Desember 2009 – www.metrosiantar.com

Mengintip Aktivitas Kaum Ibu di Desa Manyabar, Panyabungan

Isi Waktu Luang & Kumpulkan Rupiah dengan Menganyam Tikar
Seorang perempuan usia setengah abad duduk di halaman rumahnya sembari menganyam daun pandan menjadi tikar. Hal seperti ini boleh dikatakan pemandangan unik yang sulit ditemui di tengah era globalisasi yang banyak melahirkan hasil serupa (tikar,red) dengan bahan yang berbeda.

RIDWAN-MADINA

Namun, pemandangan yang tergolong unik ini masih gampang ditemui di Desa Manyabar, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Hampir setengah kaum ibu-ibu di sana menganyam tikar dengan bahan baku daun pandan.

Eliarni (50) misalnya. Perempuan ini mengaku, pekerjaan menganyam tikar sudah dilakukannya sejak puluhan tahun silam. Dan akitivitas menganyam dilakukan pada waktu luang atau kalau pekerjaan pokok mereka (bertani) lagi kosong. Bahkan, tak jarang pula menganyam juga dilakukan pada malam hari.

“Sejak puluhan tahun silam saya bersama ibu rumah tangga yang lain melakoni pekerjaan ini. Di samping bisa menambah penghasilan keluarga, menganyam ini juga sudah menjadi hobi kami untuk mengisi waktu luang apalagi pekerjaan tani lagi kosong semisal selesai menanam padi atau yang lain,” terangnya kepada METRO, Selasa (8/12).

Eliarni menambahkan, hasil anyamannya bisa mencapai 3 tikar dalam 1 minggu dan kalau lagi banyak pekerjaan hanya 1-2 tikar saja. Hasil anyaman akan dijual kepada pengumpul, selanjutnya pengumpul biasanya datang setiap hari Rabu.

Baca Juga :  CPNS di Madina Jangan Jadi Ajang KKN

Sedangkan untuk nominal harga yang dikenakan, terang Eliarni, harga 1 tikar biasa yang dipakai untuk tidur dijual seharga Rp25-30 ribu dengan ukuran 1,5 meter, sedangkan harga tikar anyaman pandan yang dipakai untuk pesta atau disebut amak (tikar) lampisan yang dibuat dari tikar anyaman biasa tetapi memiliki hiasan atau amak terawang harganya bisa mencapai Rp500-700 ribu, bahkan bisa Rp1 juta.

“Sekarang saja saya sedang mengerjakan amak lampisan pesanan warga yang ingin melaksanakan pesta pernikahan. Untuk pernikahan adat orang Mandailing, amak lampisan itu harus ada,” sebutnya.

Adapun beda tikar anyaman biasa, lanjutnya, dengan amak lampisan dilihat dari mode dan gaya anyamannya. Tikar biasa hanya dengan cara anyaman biasa dan tidak memiliki keistimewaan sedangkan amak lampisan adalah tikar yang dianyam dengan bentuk yang disebut dengan terawang, yang bisa dlihat di tengah-tengah tikar dan juga pinggir di sekeliling tikar.

Anyaman tikar produk warga ini, bahannya diambil dari rumpun pandan yang ada di desa itu juga dengan cara pandan itu dieluskan dekat dengan api kemudian dibelah-belah seukuran 1 cm dengan menggunakan alat yang disebut warga jangka, selanjutnya pandan yang telah terbelah kecil itu direndam 1 malam di sungai atau direndam di dalam ember. “Kalau ingin tikar warna kita hanya menambahkan pewarna pada saat direndam,” tambahnya.

Harga amak lampisan bisa mencapai Rp1 juta, bila amak lampisan ditambahi dengan semacam kertas penghias yang dijahit ke dalam terawang yang yang dibuat penganyam.
“Itu bukan kami lagi yang mengerjakan, bukan kami tidak bisa tetapi itu sudah pekerjaan para pengumpul,” pungkasnya. (***)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Satu Unit Rumah Terbakar di Sidimpuan

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*