Mengintip Desa Terisolasi di Kecamatan Sipirok

Minggu, 22 November 2009 – www.metrosiantar.com

Minim Fasilitas Kesehatan, Warga Andalkan Pengobatan Tradisional
AMRAN POHAN-SIPIROK; Desa Ampolu, setelah penerapan Perda Nomor 5 tahun 2008, digabung dengan Desa Tapus dan Sabungan menjadi Desa Dolok Sordang, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Desa yang berjarak sekitar 30 kilometer dari ibukota kecamatan ini, merupakan salah satu desa terisolir. Pasalnya, fasilitas di desa yang ditempati 45 kepala keluarga atau KK ini sangat minim.

Keterbatasan fasilitas dari sarana umum yang dirasakan warga desa akan lebih terasa jika menyempatkan diri mengunjungi desa tersebut. Sebab, untuk tiba di desa tersebut dibutuhkan waktu sekitar 2,5 hingga 3 jam perjalanan dengan menggunakan sepedamotor. Perjalanan yang begitu banyak memakan waktu tersebut diakibatkan sarana transportasi yang sangat sulit untuk menuju desa tersebut. Belum lagi jalanan yang harus dilalui masih belum diaspal.

Di bidang kesehatan, ternyata sebagian besar warga masih mengandalkan pengobatan tradisional, karena tenaga kesehatan belum ada di desa tersebut. Bahkan, di dua desa tetangga sekalipun, yakni Sabungan berjarak sekitar 2 kilomter, Tapus berjarak sekitar 4 kilometer dan Barnang Koling sekitar 8 kilometer, hanya memiliki bangunan Puskesmas pembantu di Desa Sabungan kendatipun tanpa petugas.

Di bidang pendidikan, sedikit lumayan, mengingat di desa tetangga yaitu Tapus masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sekitar 15 menit menuju sekolah dasar negeri (SDN) melalui lahan pertanian, meski jumlah guru berstatus negeri masih minim, yaitu 2 orang sedangkan untuk lanjutan atas anak-anak sekolah terpaksa indekos di Siprok atau tempat lainnya.

Baca Juga :  Pilkada Sidimpuan: Andar-Isnandar Unggul sementara

Hal yang menarik dari Desa Ampolu, desa tersebut berada di lereng arah Timur Dolok Sordang, dan sumber perekonomian masyarakat mengandalkan hasil komoditi pertanian seperti kakao, karet dan hasil hutan lainnya. Uniknya, dengan kondisi pertapakan  perumahan warga yang tidak rata dan harus ditata menyerupai tangga yang lumrah bagi desa yang berada di lereng bukit tersebut.

Namun, yang paling menyedihkan ketika musim hujan tiba. Desa akan menjadi aliran air karena air hujan yang tumpah ke tanah akan mengalir deras dari hulu melalui jalan yang tak memiliki saluran air menuju desa. Tentu saja setelah hujan reda, lokasi yang digenangi air bisa saja  menjadi tempat berbagai sumber penyakit.

Baringin siregar (40) warga Desa Ampolu mengatakan, memang jika hujan tiba air akan mengalir deras hal ini karena jalan menuju desa dari atas bukit menjadi sarana mengalirkan air hujan tersebut karena jalan tersebut tidak memiliki saluran air.

“Jangankan saluran air, malah jalan yang menjadi saluran air dan membawa air kemari,” katanya.

Warga lain, Maloho Dasopang (26) menyebutkan akibat terus dialiri air malah sarana jalan setapak berupa rabat beton yang membelah desa dibangun dengan dana ADD beberapa tahun lalu kondisinya sudah mulai rusak. “Jalan ini akan cepat rusak jika terus dialiri air,” sebutnya.

Keduanya mengungkapkan, sebenarnya air bisa diminimalisir agar jangan keseluruhan masuk ke desa melalui jalan setapak tersebut, yakni dengan mengupayakan penggalian parit aliran air.

Baca Juga :  DPRD Sumut Sepakat Lakukan Pemekaran Mandailing Natal

“Sebenarnya bisa saja air dialihkan agar jangan masuk ke desa dengan cara memfungsikan saluran air di jalan menuju desa dan membuangnya kearah lain,” pungkas keduanya mengakhiri. (***)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*