Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosna

%name Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosna
Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan

Kamis, 10 Desember 2009  – www.metrosiantar.com

Temani Suami yang Stroke dan Kuliahkan Anak dengan Modal Kerja Keras
Memang benar pesan orangtua, asal ada kemauan di situ ada jalan. Rezeki, jodoh, maut itu sudah diatur oleh Tuhan. Semakin tinggi kesungguhan seseorang untuk berusaha maka semakin tinggi hasil yang akan diperoleh. Kesungguhan berusaha bisa sebagai wujud didikan moralitas kepada anak supaya anak tahu betapa sulitnya hidup tanpa profesi yang bagus.

RIDWAN-MADINA

Warga Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Rosna (47), merupakan salah seorang yang meneladani pesan-pesan orangtua tersebut.

Selama 15 tahun hidupnya dihabiskan dengan berdagang sayuran di kaki lima Pasar Baru Panyabungan. Setiap hari Rosna bersama teman seprofesinya berangkat ke pasar dengan membawa barang dagangan berbagai jenis sayuran, seperti bayam, kacang panjang, dan lainnya yang diperoleh dari hasil kebun warga desanya.

Rosna ditemui METRO di Pasar Baru Panyabungan, mengatakan, usaha tersebut merupakan mata pencaharian pokok untuk menafkahi keluarganya. Pasalnya, pasangan hidupnya (suami) sejak 4 tahun terakhir ini mengalami stroke, sebagian tubuhnya tidak bisa difungsikan dan sebagian lagi lemah.

Dirinya menuturkan, setiap hari bersama teman seprofesinya berangkat ke pasar sekira pukul 04.00 WIB pagi dan pulang siang hari. Alasannya, karena kebutuhan rumah tangga warga banyak membeli di pagi hari dijemput langsung oleh angkutan desa langganan yang setiap hari menjemputnya ke rumahnya. Sore harinya, beragam jenis sayur tersebut dikumpulnya dari masyarakat desa, diikat, dan dikemas, sehingga pagi hari tinggal membawa dan siap jual.

Dirinya juga menyampaikan, kalau keuntungan yang diperoleh dari dagangannya hanya sedikit, semisal sayur bayam hanya memperoleh keuntungan sekira Rp200 per ikat dan total keuntungan yang diperoleh perhari hanya sekitar Rp40 ribu. “Itupun kalau semua dagangan terjual,” ujarnya, Rabu (9/12).

Setelah pulang dari pasar, lanjutnya, dirinya akan berangkat lagi ke sawah atau kebun yang ada di pinggiran desa. Disamping itu, dirinya juga menjual beras kepada warga di rumahnya. Dan beras itu diperoleh dari kilang padi meskipun modal awalnya berhutang dan dibayar setelah jemputan beras kedua kalinya.

“Anak-anak setelah pulang sekolah saya suruh untuk jaga rumah karena dirumah juga kita menjual beras sedikit dari kilang padi, itupun berhutang setelah habis baru dibayar,” ucapnya.

Rosna memiliki 6 anak. Si sulung sedang kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Padang Sumatera Barat (Sumbar), anak kedua duduk di bangku SMA, anak ketiga SMP dan tiga anak lainnya masih SD. Sejak suaminya stroke, dirinya seoranglah yang harus banting tulang untuk menafkahi kehidupan anak-anaknya.

Meskipun sendirian, Rosna tetap yakin kalau keberhasilan sebagai orang tua itu bukan saja dari nominal yang banyak, tetapi dengan kegigihan berusaha dan anak-anak yang mendukung kerja keras orangtua. “Kesungguhan berusaha bisa sebagai wujud didikan moralitas kepada anak supaya anak tahu betapa sulitnya hidup tanpa profesi yang bagus. Anak saya 6, semuanya masih sekolah dan sekarang 1 orang sudah kuliah di Padang,” pungkasnya. (***)

POST ARCHIVE: This content is 8 years old. Please, read this content keeping its age in Mind
google Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosnafacebook Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosnatwitter Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosnalinkedin Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosnaemail Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosnaprint Mengintip Perjuangan Pedagang Sayur di Pasar Panyabungan, Rosna

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*