Mengunjungi SD Santa Fransiskus di Tapsel – Didik Murid dengan Terapkan Disiplin Waktu dan Pengembangan Diri

Untuk mempersiapkan generasi bangsa yang tangguh, terampil, beriman, berbudi pekerti dan berwawasan nasional, butuh proses. Dan salah satu kunci utama kesuksesan tersebut adalah penerapan disiplin, baik guru maupun anak didik, serta pengembangan diri anak.

Dan keberhasilan suatu pendidikan juga tak lepas dari kemampuan para guru dalam menjalankan roda pendidikan yang merupakan tanggung jawab moral bagi mereka dalam upaya mentransfer ilmu pengetahuan dengan tepat.

Hal tersebut lah yang diterapkan di SD Santa Fransiskus, Jalan Simangambat, Kelurahan Pasar Sipirok, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). Sekolah ini merupakan salah satu sekolah di Tapsel yang menerapkan disiplin tinggi baik untuk guru maupun anak didik dalam pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM).

Di samping itu, untuk meningkatkan semangat belajar bagi anak didik di sekolah swata milik Yayasan Budi Bakti tersebut juga menerapkan pengembangan diri bagi anak didik sehingga tercipta suasana pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning).

Kepala SD Santa Fransiskus, Suster Katharina, kepada METRO Sabtu (24/10) lalu mengatakan, sekolah yang berdiri pada tahun 1990-an tersebut selalu mengutamakan disiplin waktu dalam pelaksanaan PBM. Untuk jam masuk pukul 07.45 WIB dan jam keluar adalah pukul 13.10 WIB.

Selain itu, setiap hari Sabtu, anak didik akan mengikuti pengembangan diri yang di antaranya mempelajari komputer, drum band, alat musik kulintang, alat musik angklung, paduan suara, olah raga dan lainnya.

Baca Juga :  Mobil Dinas Bappeda Palas Punya Nomor Polisi "Rahasia"

“Sejak berdiri memang guru dan anak didik harus mematuhi disiplin yang ada, seperti jam masuk harus ditepati, dan pulang sekolah pukul 13.10 WIB selalu diterapkan. Sehingga jam belajar anak didik lebih maksimal, sedangkan khusus hari Sabtu anak didik diterapkan pengembangan diri,” terangnya.

Disampaikannya, sekolah yang dipimpinnya memang merupakan sekolah yang didirikan agama Katolik, namun dalam menerima anak didik ditegaskannya pihak sekolah sangat terbuka tidak ada batasan terhadap berbagai perbedaan baik agama, suku dan lainnya.

“Tidak ada batasan, 120 anak didik saat ini saja bukan Katolik semuanya, ini sama seperti sekolah lainnya di Tapsel, baik pelajaran yang diterapkan,” terangnya.

Amatan METRO, sekolah yang saat ini memiliki 120 anak didik dengan 8 guru tersebut memang aktif dalam berbagai kegiatan maupun lomba selama ini dan kerab menjadi yang terbaik. Dan kemampuan muridnya cukup merata, hal ini tentu karena penerapan disiplin selama ini dan kesadaran akan tanggung jawab.

Sumber: http://metrosiantar.com/Metro_Tabagsel/Mengunjungi_SD_Santa_Fransiskus_di_Tapsel

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*