Meningkatkan Ekonomi Kerakyatan di Sipirok

Membumidayakan Aren Dibutuhkan Peran Pemerintah

Aren adalah tumbuhan  anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada ummat manusia dan mahluk hidup di alam kita ini. Banyak manfaat yang dihasilkan dari tanaman Aren yang biasa tumbuh secara sembarangan ini.

Tanaman Aren menghasilkan nira dari tandanan buah yang dapat menghasilkan gula aren, kolang kaling dari buahnya. Lidi dihasilkan dari tulang daunnya dan ijuk yang sangat bermanfaat untuk sapu dan kerajinan lainnya bahkan sampai-sampai digunakan untuk galangan kapal.

Dengan begitu banyaknya manfaat tanaman Aren dalam kehidupan yang juga mampu menyokong dan mendorng sumber pereknomian warga tetapi pada hakikatnya budidaya tanaman tersebut belum terlihat menyentuh dalam menbingkatkan pendapatan warga kendatipun peluang itu sangat besar yang berimbas pada peningkatan PAD, pasalnya sebahagaian besar tanaman yang tumbuh bukan hasil budidaya melainkan tumbuh sembarang secara liar.

Seperti kita ketahui, Sipirok adalah daerah penghasil gula aren, begitu juga dengan Marancar Arse dan Saipar Dolok Hole di Kabupaten Tapsel tentunya kedepan harus ada dorongan eksekutip dalam membudidayakan tanaman tersebut ditengah masyarakat dengan sasaran yang tepat.

Selama ini, ada yang tersirat dalam hati masyarakat Sipirok yang bekerja sebagai penyadap nira (paragat) dimana mereka selalu diberi toleran oleh masyarakat dalam setiap acara baik adat maupn lainnya, dimana sering didengar kata-kata oleh hatobangon di parsahutaon (pemangku adat Desa) agar  memberikan peluang melaksanakan tugas para paragat kendati sesibik apapun urusan dikampung itu. dengan istilah “ mangan ma paragat parjolo” (penyadap nira agar makan lebih dahulu).

Ternyata setelah di artikan kenapa disetiap pesta atau acara adat itu sering di ungkapkan kalimat itu,
Ada beberapa alasan yang menjawab di antaranya, 1. Pekerjaan paragat memerlukan tenaga yang kuat karena disana perlu tenaga untuk memanjat aren dengan tangga bambu (sige) yang hanya bertumpu pada kekuatan satu jempol kaki untuk menaikinya, 2. Pekerjaan paragat memiliki 2 waktu kegiatan yang tidak bisa di tolelir yaitu menyadap aren pagi dan sore hari. 3. Pekerjaan maragat membutuhkan kayu bakar yang keras dan tahan lamadan supaya memiliki arang, karena kalau kurang kayu bakar akan membuat nira jadi masam dan akan menjadi cokar (nira tidak dapat menggumpal jadi gula).
Setiap tahun masyarakat mendapat hasil yang melimpah dari buahnya untuk dijadikan kolang-kaling sayangnya pohon aren tidak berbuah setiap tahun hanya 1 kali saja untuk seumur hidup. Demikian halnya lidi dan ijuk yang dihasilkan hanya untuk satu kali panen saja.

Baca Juga :  Mahasiswa Minta Direktur RSUD Sibuhuan Dicopot

Pohon aren menghasilkan nira dari malai atau buah semu setelah buah kolang-kaling. Setiap batangnya dapat meproduksi nira selama kurang lebih 6 tahun dan akhirnya pohon aren mengalami kematian. Tanpa di sadap pohon aren tidak bisa di tawar untuk hidup dalam waktu yang lama. Dia tetap akan mati berbeda dengan tanaman pohon lain semakin tua dia semakin besar dan kokoh dan bisa diambil hasilnya setiap tahun (contohnya durian, karet, mangga, maggis dan lainnya).
Banyak petani aren atau paragat tidak memiliki pensiunan karena umurnya yang sudah diporsir sekian tahun dan akhirnya sudah tua hanya bisa istirahat dengan kesengsaraan, karena semasa hidupnya dia hanya bergelut di aren, semasa itu dia tidak bisa bagi waktunya untuk mengelola kebun dan sawah, sedangkan untuk sawah hanya bisa ditangani oleh kaum ibu dan anaknya sepulang dari sekolah.

Banyak saudara kita di sipirok sebagai paragat kadang senang rasanya menerima hasil 100 kg/minggu artinya di berpenghasilan Rp 1.200.000/minggu jika harganya 12.000/kg. Dengan penghasilan seperti tenaga, waktu dan kayu bakar yang dibutuhkannya berbanding lurus juga dengan apa yang dihasilkan. Tetapi apakah pendapatan seperti itu bisa bertahan setiap hari? Tentu tidak karena panen nira ada masanya yaitu masa keluar nira dan masa tumbuh malai (gualon). Penghasilan seperti itu lebing sering di alami selama 3 bulan dalam setahun. Dan normalnya 40 kg /minggu dan itu pun sudah amat payah di sipirok.

Baca Juga :  Gerrard Patah Hati Ditinggal Torres

Sangat prihatin mendengar para ahli di dinas kabupaten bahwa masyarakat sipirok amat sulit untuk bangkit karena identik dengan pemalas. Tapi itulah kondisinya sebenarnya merekasangat gigih dan kuat hanya saja  terkekang dengan tanaman aren yang niranya sangat manis.

Berdasarkan kondisi potensi aren yang cukup bagus tentunya kedepan pemerintah harus membuat program yang eklusip dalam membudidayakan tanaman aren tersebut demi terbukanya peluang dan lapangan kerja didaerah sehingga imbasnya dapat meningkatkan kesejahteraan warga. (ran)

Sumber: AMRAN POHAN – metrosiantar.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*