Menjual Uang untuk Meraup Uang

oleh: Aris Prasetyo

Edi Santoso menunjukkan uang kertas baru yang ia jual di komplek Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, pada Selasa (23/8). Setiap hari, rata-rata ia bisa menjual uang kertas baru hingga Rp 3 juta. Setiap Rp 1 juta yang terjual, ia mendapat laba Rp 10.000. Modal uang kertas baru itu milik orang lain yang ia sebut sebagai juragan.

Aneka cara dilakukan orang agar bisa mudik ke kampung halaman. Berjualan adalah salah satu cara mengumpulkan rupiah untuk bekal pulang kampung. Edi Santoso (37) menempuh cara itu dengan berjualan lembaran uang di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Sehari-hari, Edi bekerja sebagai kondektur bus kota di area Jakarta Timur. Menjelang Lebaran tahun ini, ia banting setir bekerja sebagai penjual lembaran uang baru di komplek Terminal Kampung Rambutan. Ini adalah pekerjaan musiman yang ia lakukan setiap menjelang Lebaran.

“Sudah 10 tahun ini saya menjual jasa penukaran uang kertas baru. Untuk saat ini, sudah 10 hari saya berjualan,” tutur Edi yang kampung halamannya ada di Batang, Jawa Tengah.

Alasan Edi alih profesi adalah jumlah penumpang bus kota dipastikan menurun karena sebagian besar penumpang adalah pemudik Lebaran yang meninggalkan ibu kota Jakarta. Agar uang tetap mengisi dompetnya, ia memilih bekerja sebagai penjual uang kertas baru. Istrinya, Novi Panjaitan (35), juga memilih profesi serupa menjelang Lebaran ini.

Setiap hari, Edi membawa uang kertas baru pecahan Rp 1.000, Rp 2.000, Rp 5.000, Rp 10.000, dan Rp 20.000, dengan jumlah keseluruhan Rp 10 juta. Masing-masing pecahan masih terbungkus rapi dalam plastik dan diikat kertas bertuliskan Bank Indonesia dengan jumlah 100 lembar pada setiap pecahan.

Baca Juga :  Aksi Pong Harjatmo Jadi Pembicaraan Hangat

Selain pecahan Rp 1.000, harga jual masing-masing pecahan lebih mahal Rp 10.000. Misalnya, pecahan Rp 2.000 sebanyak 100 lembar dijual seharga Rp 210.000. Khusus pecahan Rp 1.000 sebanyak 100 lembar dijual dengan selisih Rp 15.000. Alasannya, pecahan Rp 1.000 lebih langka ketimbang yang lainnya.

“Modal uang ini milik juragan saya. Saya kenal baik dengan juragan. Setiap sore saya menyetor hasil penjualan sekaligus mengambil uang baru untuk dijual keesokan harinya,” kata Edi yang meninggalkan identitas KTP kepada si juragan.

Edi menambahkan, setiap Rp 1 juta uang yang laku terjual, ia mendapat untung Rp 10.000. Rata-rata saat ini ia bisa menjual uang sebanyak Rp 3 juta. Artinya, Edi mendapat laba Rp 30.000 setiap hari. Semakin mendekati Lebaran, harga jual uang kertas baru semakin mahal. Untuk 100 lembar pecahan Rp 1.000 dijual seharga Rp 125.000. Untuk setiap 100 lembar pecahan lainnya dijual dengan selisih 20.000.

“Kalau mendekati Lebaran, biasanya semakin banyak uang kertas yang terjual. Biasanya bisa sampai Rp 8 juta atau bahkan ludes terjual semua Rp 10 juta sejak pagi hingga sore,” tutur Edi.

Bagi Edi, setiap lembar rupiah keuntungan yang ia dapat sangat berharga untuk bekal pulang kampung. Selain dirinya, ada 40-an orang yang bekerja sebagai penjual uang kertas baru di Terminal Kampung Rambutan. Setiap lembar rupiah yang dikumpulkan akan mewujudkan hasratnya pulang ke kampung halaman layaknya jutaan pendatang di ibu kota Jakarta.

Baca Juga :  Hakim Syarifuddin Diduga Terlibat Mafia

Sumber: Kompas.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 8 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*