Mentan: keuntungan petani lebih kecil dibandingkan pedagang

Seorang petani memikul bibit padi di Kab Gowa. FOTO SINDO/MAMAN SUKIRMAN

Jakarta, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai bahwa keuntungan yang diperoleh petani dari penjualan gabah jauh lebih kecil jika dibandingkan harga jual di pedagang.

“Jika harga gabah Rp3.500, diproses dengan rendemen 62 atau 65 maka harga beras Rp5.000/kilogram. Harga di tingkat pedagang atau kota Rp10.000. Artinya apa? Ada keuntungan Rp5.000 di pengusaha,” kata Andi di Jakarta, Rabu.

Ketika ditemui dalam acara musyawarah perencanaan pembangunan pertanian nasional (musrenbangtannas), ia menilai berdasarkan perhitungan tersebut maka keuntungan yang diperoleh petani hanya sekitar 10-20 persen.

Ia memaparkan, harga gabah di lapangan sekitar Rp3.500-Rp4.000, tetapi jika melihat fakta yang ada maka ada ketimpangan antara komoditas yang dijual petani dan pedagang atau pengusaha.

“Jika harga beras Rp12.000/kilogram, maka harga gabah Rp5.000/kilogram. Kalau harga gabah turun jadi Rp3.500 artinya turun 30 persen, tapi berdasarkan data BPS harga beras cuma turun tiga persen,” tutur Andi.

Ia pun berasumsi bahwa permasalahan di sektor pertanian, khususnya beras, bukan terjadi di bagian produksi melainkan pada bagian distribusi yang belum sempurna.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa permasalah tersebut menjadi salah satu pokok yang harus dibenahi dalam rencana strategis kementerian pertanian 2015-2019 yang ditetapkan melalui peraturan menteri pertanian (permentan) No.19/Permentan/HK.140/4/2015 pada 6 April 2015.

Baca Juga :  BHD Serahkan Tongkat Komando ke Timur

Permentan tersebut berisi enam sasaran strategis seperti, swasembada padi, jagung, kedelai, daging dan gula, peningkatan diversifikasi pangan, peningkatan komoditas bernilai tambah, penyediaan bahan baku bioindustri dan bioenergi.

Selanjutnya, peningkatan pendapatan keluarga petani, dan terakhir ialah akuntabilitas kinerja aparatur pemerintah yang baik, tutur Andi.


ANTARA News

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 6 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*