Menu-menu Spesial, Paduan Tapanuli Selatan dan Utara

Sipirok, seperti ditakdirkan memiliki menu kuliner yang kaya rasa. Paduan masakan santan dan menu kering, dari Tapanuli Selatan dan Utara, membuat pelanggannya selalu datang lagi dan lagi.

Hari itu bertepatan dengan May Day. Udara Medan yang panas namun masih sedikit lembut, membuat selera makan bangkit.

Perut yang sedari pagi memang belum terisi, terus berontak. Beruntung, siang itu belum terlalu banyak pengunjung yang datang ke Rumah Makan Sipirok. Sendirian melangkah ke sana, membuat kikuk karena para pelanggan warung itu, rata-rata eksekutif muda.

Beruntung, saya segera mendapat tempat duduk di rumah makan yang terletak di Jalan Sunggal, Medan, ini.

Tengah hari seperti itu, pasti Yusniar Nasution, pemilik kedai, bersama suaminya, Zulfikar, baru menyiapkan menu utama di rumah makan mereka. Sup tulang iga kerbau. Saya memesan dua porsi sup, daging bakar, dan teri tawar.

Ketiganya merupakan menu utama di Rumah Makan Sipirok. Menu utama lain di tempat itu adalah sup sumsum kerbau, ikan mas asam pedas, gulai ikan sale, dan sambal pati. Semua menu tersebut biasa dihidangkan dengan berbagai macam sayuran khas daerah setempat.

Sipirok adalah sebuah daerah dataran tinggi di Tapanuli Selatan, yang dikenal memiliki tumis bunga pepaya, daun ubi tumbuk, dan rebusan daun ubi yang lezat.

Menikmati sup tulang iga kerbau di Rumah Makan Sipirok akan bertambah nikmat sambil sesekali menyantap daging bakar.

Makanan itu disajikan dalam bentuk potongan kecil daging sapi yang dibakar, lalu dikukus. Dimakan bersama saus yang berupa sambal asam. Agar rasanya lembut, daging yang dipilih hanya daging has atau bagian di antara pinggul dan paha sapi.

Potongan kecil daging bakar ini disajikan dengan taburan saus asam. Sambal asam ini juga khas Sipirok. Dibuat dari cabai merah mentah, yang digiling halus, dicampur perasaan jeruk nipis serta rajangan bawang merah.

“Rata-rata orang Tapanuli Selatan suka sambal asam, hanya penyajiannya beda-beda,” ujar Zulfikar. Belum lama menyantap sup tulang iga kerbau dan daging bakar, pengunjung mulai berdatangan.

Suasana kian ramai. Beberapa di antara mereka membawa rantang dan alat makan sendiri untuk dibawa ke tempat kerja.

Kira-kira 15 meja, termasuk dua meja panjang, di ruang berukuran 8 x 10 meter langsung terisi penuh.

Bahkan, tak jarang ada pengunjung rela antre, berdiri menunggu pengunjung sebelumnya selesai makan. Andaliman Untuk menjaga cita rasa dan aroma masakan, hanya Yusniar yang mengolah semua masakan yang disajikan, mulai dari mengiris bawang merah, hingga meracik semua menu.

Baca Juga :  WISATA KULINER van Simatohir - Batubola - Padangsidimpuan Angkola Julu

“Karena itulah, kami hanya bisa menyediakan menu makan siang. Kasihan istri saya kalau rumah makan ini buka dari pagi sampai malam.

Makanya, kalau istri sakit, terpaksa rumah makan tutup,” ujar Zulfikar. Keahlian Yusniar meracik resep makanan khas Sipirok berasal dari almarhum kedua orang tuanya yang pemilik Rumah Makan Siang Malam di Sipirok.

Hampir setiap pejabat asal Tapanuli Selatan, yang bertugas di Medan (atau Jakarta), pasti mengenal Rumah Makan Siang Malam di Sipirok itu.

Bila kurang suka dengan sup tulang iga, pengunjung bisa memesan gulai ikan sale atau ikan mas asam pedas.

Sipirok yang terletak di antara Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara seperti ditakdirkan memiliki menu makanan yang terpengaruh dua daerah tersebut.

Jika Tapanuli Selatan yang agak berdekatan dengan Sumatra Barat lebih senang dengan masakan bersantan kental, Tapanuli Utara seleranya justru agak kering.

Sipirok berada di tengah-tengah di antara dua daerah itu. Untuk gulai ikan sale, misalnya, menurut Yusniar, dia tidak membuat kuah terlalu kental.

Sedangkan untuk ikan mas asam pedas, Yusniar tetap memakai andaliman, rempah khas Batak yang rasanya getir, meski jumlahnya tak terlalu banyak.

Ini berbeda dengan menu ikan mas yang disajikan di Tapanuli Utara yang banyak memakai andaliman. “Makanya saya suka bilang orang Batak lidahnya tebal karena tahan makan andaliman banyak-banyak,” tutur Yusniar.

Sebenarnya ada menu lain yang juga disajikan di Rumah Makan Sipirok, yakni sambal tuktuk, namun tak setiap waktu pengunjung bisa menikmati sambal terkenal khas Sipirok ini.

Sambal tuktuk terbuat dari cabai merah yang ditumbuk dengan ikan gedapang, jenis ikan air tawar di sungai-sungai Tapanuli Selatan. Sebelum ditumbuk, ikan gedapang ini dibakar atau dipanggang.

Setelah kering, daging ikan dipisahkan dari durinya. Daging ikan yang kering ini kemudian ditumbuk bersama cabai merah dan diberi perasan jeruk nipis. Biasanya sambal tuktuk ini dimakan bersama lalapan seperti daun ubi.

“Menu ini jarang disajikan karena ikannya sulit didapat di Medan. Paling dalam setahun kami cuma bisa dua kali mendapat ikan gedapang.

Sambal ini baunya menyengat, tetapi rasanya luar biasa enak,” kata Zulfi kar. Pasangan suami-istri itu baru tiga tahun membuka rumah makan mereka. “Tepatnya akhir tahun 2002, tetapi ramainya baru sekitar tahun 2003.

Baca Juga :  Sipirok, Kota Tenun dan Penghasil Dodol

Istri saya dulu bilang, kalau mau buka rumah makan seperti di kampung, saya harus tahan capai. Dan ternyata betul, capainya luar biasa.

Terutama istri saya yang harus bertanggung jawab terhadap semua urusan dapur,” kata Zulfikar yang tiap hari menyediakan 40 kilogram iga. Soal harga makanan, Zulfi kar tak mau kaku.

Untuk satu menu lengkap seperti sup tulang iga, ikan bakar, sambal teri tawar, plus es teh manis, pengunjung cukup membayar 20.000 rupiah.

Gulai ikan sale satu porsi dihargai 7.000 rupiah, sementara untuk satu porsi ikan mas pengunjung cukup membayar 6.000 rupiah.

Tetapi, bila uang yang ada 15.000 rupiah pun Zulfikar tetap menyediakan nasi, sup, dan teh manis. Meski punya banyak pelanggan, tempat itu bertahan hanya menyediakan makan siang.

Rumah Makan Sipirok mulai buka sejak pukul 09.00, tetapi baru lengkap menunya sekitar pukul 11.00. Hari-hari biasa warung tutup pukul 15.30, sementara hari Sabtu dan Minggu tutup sekitar pukul 16.00.

Dinda, seorang pengunjung yang datang bersama teman-temannya untuk menyantap sup iga di rumah makan itu, mengakui bahwa Sipirok merupakan rumah makan yang masih sangat sederhana namun memiliki cita rasa yang terbilang langka.

“Tidak banyak rumah makan khas daerah seperti ini. Walaupun sebelum rumah makan ini berdiri telah ada rumah makan yang sama, yang di Jalan Sunggal ini terbilang cukup mudah dijangkau dan masakannya sangat menyelerakan,” paparnya.

Sumber:

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. bah,,,tabo nai katua……!!!
    kapan2 pulang ke medan dulu mau mencicipi ini sambil pulang ke Sipirok akh…!!!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*