Menuduh TNI Terlibat di Lapas Sleman, Sama Dengan Memperkeruh Situasi

Petugas membukakan pintu akses utama LP Cebongan di Desa Sumberadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (25/3/2013). Berbagai aktivitas di lapas tersebut telah berangsur normal pascapenyerbuan gerombolan bersenjata api tiga hari sebelumnya yang mengakibatkan empat tahanan tewas.

JAKARTA, KOMPAS.com — Semua pihak diminta menahan diri sampai rampungnya investigasi kepolisian terhadap penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta. Diharapkan publik tidak langsung menuduh ada keterlibatan oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam peristiwa tersebut.

“Jangan terlalu pagi menuduh institusi tertentu di balik peristiwa itu. Tuduhan itu akan memperkeruh situasi dan menambah keresahan,” kata anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Didi Irawadi Syamsuddin, melalui pesan singkat, Selasa (27/3/2013).

Didi mengatakan, kepolisian harus secepatnya mengungkap dan menangkap seluruh pelaku. Siapa pun pelakunya, kata dia, harus diproses secara hukum dan dihukum berat.

“Aksi ala mafia yang menyerbu lapas baru pertama kali terjadi. Aksi gaya hukum rimba itu jelas sangat serius dan amat meresahkan. Biarlah proses hukum yang menyelesaikan persoalan ini,” kata politisi Partai Demokrat itu.

Seperti diberitakan, gerombolan bersenjata api laras panjang, pistol, dan granat menyerang lapas. Awalnya, mereka mengaku dari Polda DI Yogyakarta sambil menunjukkan surat berkop Polda. Mereka mengaku ingin membawa empat tersangka kasus pembunuhan Sersan Satu Santosa, anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Hugo’s Cafe, Selasa lalu.

Baca Juga :  Polri Beberkan Nama Buron Teroris

Mereka mengancam meledakkan lapas ketika permintaan ditolak pihak lapas. Akhirnya, petugas membukakan pintu dan belasan orang memakai penutup mata masuk. Mereka menyeret petugas lapas menunjukkan empat tahanan yang dicari.

Empat tahanan tersebut akhirnya ditembak mati. Mereka adalah Gameliel Yermiyanto Rohi Riwu, Adrianus Candra Galaja, Hendrik Angel Sahetapi alias Deki, dan Yohanes Juan Manbait. Sebelum kabur, mereka juga membawa rekaman CCTV. Aksi itu hanya berlangsung 15 menit.

Awalnya, keempat tersangka ditahan di Polres Sleman, lalu dipindahkan ke Polda DI Yogyakarta tanggal 20 Maret. Pada Jumat 22 Maret, mereka dipindahkan ke Lapas Cebongan. Sabtu dini hari eksekusi terjadi.

Kasus itu masih dalam penyelidikan kepolisian. Hanya, Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayor Jenderal Hardiono Saroso sudah membantah penembakan dilakukan anggota Kopassus. Kepala Seksi Intelijen Kopassus Grup-2 Kapten (Inf) Wahyu Yuniartoto juga membantah.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menginstruksikan kepolisian harus dapat menangkap seluruh pelaku. Presiden menilai peristiwa itu sebagai serangan langsung terhadap kewibawaan negara. Selain telah menghasilkan ancaman serius terhadap rasa aman publik, Presiden menyatakan serangan itu juga menghancurkan kepercayaan publik terhadap supremasi hukum.

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  Prabowo vs KPU

1 Komentar

  1. SBY kok retorika sih? Emang udah lama publik dah hilang kepercayaan pada supremasi hukum, faktanya polri era reformasi nggak becus kok membasmi premanisme, malah kini tentara pun jadi korban preman. Kok ente baru nyaho?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*