Menuntut Lahan Plasma yang belum diberikan Perusahaan

Ratusan Warga Luat Pinarik saat menduduki kantor PT. PHS Kebun Papaso, Rabu (4/3/2015).

Ratusan warga dari 14 Desa yang tergabung dalam Masyarakat Luat Pinarik, Kecamatan Batang Lubu Sutam (Batam), Kabupaten Padang Lawas (Palas) kembali mendatangi dan menduduki kantor PT. Permata Hijau Sawit (PT. PHS) Kebun Papaso. Kedatangan warga, Rabu (4/3/2015) ketiga kalinya untuk menuntut perusahaan agar segera memberikan plasma yang menjadi hak masyarakat luat Pinarik sesuai perjanjian.

Yang menjadi dasar tuntutan warga yakni surat perjanjian pembagian plasma yang tertuang tanggal 16 Desember 1992 lalu antara Perusahaan dengan Masyarakat hingga sekarang belum terealisasi. Warga yang hadir juga menuntut dan mempertanyakan jangka waktu Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan serta luas pasti areal perkebunan.

Sayangnya, kedatangan warga tidak diterima oleh manager karena berdalih sedang ada urusan. Padahal, kedatangan tersebut telah disepakati dua minggu sebelumnya. Karena tidak dihadiri manager, membuat warga geram dan berjanji apabila sepekan kedepan belum ada  respon oleh pihak perusahaan, warga berencana akan segera menduduki lahan.

“Kita telah melayangkan surat pernyataan keberatan tertanggal 9 Februari 2015 kemarin. Sudah dua kali kita kemari. Hingga sekarang surat itu belum dijawab. Kita seperti dipermainkan, manager pihak perusahaan saja tidak ada,” kesal salah seorang warga Pinarik, Ahd. Sarmadi Nasution

Kita menduga, lanjut Sarmadi, luasan kebun yang dikelola PT. PHS Papaso hampir dapat dipastikan tidak sesuai HGU. Kalau memang pihak perusahaan berkeras, kita meminta agar dilakukan pengukuran ulang terhadap seluruh kebun itu supaya jelas. Begitu juga dengan CSR yang sampai sekarang sama sekali tidak pernah disalurkan

Baca Juga :  74,4 Persen Warga Madina Ikut Pilkada

“Untuk mendapatkan kepastian soal status lahan terutama terkait izin prinsip dan izin peruntukannya, kita akan menyurati Kemenhut. Serta untuk mengetahui apakah lahan yang dikelola  sesuai dengan Hak Guna Usaha (HGU) atau tidak, kita juga akan menyurati Badan Pertahanan Nasional (BPN) Pusat, perjuangan kita takkan berakhir tanpa hasil,” tegasnya

Dari data yang dihimpun, luas lahan yang dikelola PT. PHS selama ini antara lain kebun Bukit Udang dan Papaso masing-masing seluas 3.500 hektare (ha), Aliaga (5.000 ha), Sosa Indah (3.000 ha), Mondang (900 ha), dan Nagargar (2.000 ha). Namun yang menjadi tuntutan warga luat Pinarik adalah lahan kebun papaso yang masuk wilayah Kecamatan Batang Lubu Sutam sesuai perjanjian yang ada.

Terpisah, tokoh masyarakat desa botung, Hasan Siregar juga mengungkapkan bahwa diduga telah banyak janji-janji perusahaan yang di ingkari. “Tahun 2000, sudah ada kesepakatan dengan tim sembilan dari Pemda. Tapanuli Selatan (Tapsel)  dengan warga kecamatan sosa (sekarang dimekarkan menjadi tiga kecamatan) dan pihak perusahaan, namun selalu seperti ini, warga selalu terkesan dibohongi dan haknya dirampas,” Celotehnya.

Hasan juga meminta kepada Presiden RI Joko Widodo, agar dapat melihat penderitaan warga yang dirampas hak nya oleh sebagian oknum tanpa belas kasihan. “Kepada Bapak Jokowi, tolong lihat penderitaan kami, bela kami rakyat kecil ini.

Ratusan Warga Luat Pinarik saat menduduki kantor PT. PHS Kebun Papaso, Rabu (4/3/2015). Ratusan Warga Luat Pinarik saat menduduki kantor PT. PHS Kebun Papaso, Rabu (4/3/2015).
Baca Juga :  Warga Korban Banjir Butuh Bantuan

/di

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 4 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*