Merindukan Orde Baru?

Oleh : Jeffrie Geovanie *)

Isu kerinduan terhadap Orde Baru sudah lama muncul, terutama sejak masyarakat merasakan bahwa gerakan reformasi yang dimulai sejak 1998 dianggap tak memberikan manfaat apa-apa, kecuali sekadar euforia politik. Sekadar hiruk-pikuk, terutama dalam setiap arena pergantian kepemimpinan, seperti yang baru-baru ini terjadi dalam Kongres PARFI dan PSSI.

Kebebasan yang dirasakan masyarakat juga dianggap semu karena tidak berimplikasi secara langsung dengan kesejahteraan. Hidup lebih bebas tapi buat apa jika lebih susah? Bicara demokrasi dalam keadaan perut tak terisi apa gunanya? Kenapa reformasi identik dengan ”repotnasi”? Dan, banyak lagi pertanyaan yang membuat banyak kalangan bernostalgia lalu cepat-cepat menyimpulkan, masa lalu lebih baik dari masa sekarang.

Baru-baru ini, kerinduan terhadap Orde Baru bukan lagi menjadi isu, tapi merupakan fakta yang ditujukan oleh hasil survei.
Menurut survei Indo Barometer, hanya satu dari tiga responden yang menganggap situasi saat ini lebih baik dari 13 tahun lalu. Artinya, mayoritas rakyat merasakan era Orde Baru lebih baik dari sekarang.

Banyak kalangan meragukan hasil survei ini; mempertanyakan metodologinya; siapa saja respondennya? Dan seperti apa pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya? Jika respondennya anak-anak muda yang baru lulus kuliah, sangat mungkin merasakan era Orde Baru lebih enak, karena pada saat itu mereka masih dalam tanggungan orangtua, sementara sekarang mereka dituntut untuk mencari kerja. Begitupun bila respondennya orang-orang yang pada era Orde Baru sudah mapan.

Terlepas dari perdebatan apakah survei Indo Barometer itu bisa dipertanggungjawabkan secara akademis atau tidak, toh secara kasat mata kita bisa melihat betapa kondisi saat ini memang memprihatinkan. Pengangguran terus meningkat walaupun pemerintah mengklaim menurun dari tahun ke tahun. Begitupun kemiskinan, yang kita lihat jumlah rakyat miskin terus bertambah dari waktu ke waktu meskipun (lagi-lagi) pemerintah mengklaim ada penurunan.

Baca Juga :  Republik Tanpa Pahlawan

Pertanyaannya, mengapa di era yang lebih demokratis, kondisi masyarakatnya tidak lebih baik? Jawabannya sederhana, karena demokrasi tidak memberi rakyat nasi. Demokrasi hanya memberi kunci yang bernama kebebasan. Kebebasan memberikan banyak peluang yang jika mampu dimanfaatkan secara benar akan menghasilkan banyak hal.

Dalam bahasa penulis Ukrania, Leonid S Sukhorukov, ”demokrasi membuka mulut, tapi tidak mengisinya.” Untuk mengisinya dibutuhkan kerja keras, dibutuhkan kemampuan yang memadai untuk berkompetisi. Di situlah pentingnya demokrasi. Tapi, jika mulut tidak terbuka, dengan kerja sekeras apa pun, dan dengan kepintaran setinggi apa pun, akan sulit untuk mengisinya.

Salah satu ciri demokrasi adalah adanya kompetisi yang bebas. Dalam kompetisi semacam ini tentu dibutuhkan fundamen dan infrastruktur yang memadai. Ibarat kita mau mengirim utusan dalam sebuah kompetisi. Sebelum diutus, ia harus dipersiapkan dulu secara matang, dilatih dan diarahkan. Jika utusan kita kirim tanpa persiapan yang memadai, sama saja dengan membunuh, atau mempermalukannya di arena kompetisi.

Saya kira inilah kondisi Indonesia saat ini. Kita memasuki medan kompetisi tanpa persiapan yang memadai. Kita menyongsong demokratisasi hanya didasarkan pada rasa ”dendam” pada Orde Baru, tanpa platform dan tempat berpijak yang jelas. Maka, jangan heran jika pada saat dilanda badai krisis, atau bencana alam yang sulit diprediksi, kita jadi semaput, terhuyung-huyung, dan jatuh.

Kita menjadi ibarat kapal yang mengarungi ganasnya lautan lepas tanpa dilengkapi kompas dan saus. Apalagi ditambah dengan nakhoda yang tidak tegas, yang selalu mengeluh dan ragu-ragu memutuskan ke arah mana kemudi ditujukan, di mana saus harus ditambatkan. Bahkan, untuk menghukum penumpang yang berulah tak patut pun, nakhoda tak bisa melakukannya.

Baca Juga :  Memaksimalkan Penegakan Hukum dalam Kasus Kebakaran Hutan

Dalam kondisi semacam ini kiranya wajar jika ada sebagian rakyat yang merindukan kembalinya ”suasana” seperti era Orde Baru. Suatu gambaran kelam yang menjadi tantangan bagi kita semua untuk mengkaji ulang platform dan agenda reformasi. (*)

*) Jeffrie Geovanie – Anggota Komisi I DPR RI

Sumber: www.padangekspres.co.id

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*