Militer Ambil Alih Kekuasaan di Mesir

Seorang pengunjuk Rasa Mesir mengungkapkan kegembiraannya setelah pengumuman bahwa militer mengambil alih kekuasaan di Mesir, Kamis (10/2).

Meski tidak menyebutnya sebagai kudeta, militer Mesir menyatakan ‘mengambil alih kekuasaan’ di negeri tersebut, memastikan bahwa Presiden Husni Mubarak tak lagi berkuasa. Dalam pengumumam yang disampaikan di televisi nasional, Kamis (10/2) malam, militer Mesir mengatakan langkah tersebut merupakan langkah militer untuk mewujudkan keinginan para pengunjuk rasa yang menginginkan Mubarak mundur.

“Keinginan anda sekalian terwujud,” kata Menteri Pertahanan Mesir Hussein Tantawi, yang juga sebagai Kepala Dewan Agung Militer Mesir.  Pernyataan militer ini langsung disambut dengan sorak sorai kegembiraan para pengunjuk rasa yang berkumpul di lapangan Tahrir. “Kami sangat mengharapkan Mubarak turun. Dan kini ia turun,” kata seorang pengunjuk rasa sementara ribuan lainnya bersama-sama menyanyikan lagi kebangsaan Mesir.

Meski demikian sejumlah pengunjuk rasa mengkhawatirkan berkuasa militer pasca Mubarak. “Tidak untuk militer seperti juga tidak untuk Mubarak,” teriak para pengunjuk rasa.   Isu yang beredar menyebutkan  petinggi-petingi militer memberitahu Mubarak bahwa pihaknya sangat mengkhawatirkan terjadi unjuk rasa yang sangat besar hari Jumat setelah warga mesir melakukan Shalat Jumat.

Militer dilaporkan tak ingin menghadapi situasi ini karena kekerasan pasti akan terjadi. Dalam pertemuan itu itu, petinggi militer meminta  Mubarak ‘menyelesaikan’ situasi ini, sinyal jelas militer menuntut Mubarak mundur. Khabar ini sekaligus memunculkan spekulasi bahwa sebenarnya telah terjadi  kudeta militer.  Mubarak, yang kini berusia 82 tahun, telah 30 tahun berkuasa di Mesir. Ia naik ke tampuk kekuasaan Mesir setelah tragedi pembunuhan Presiden Anwar Sadat.

Baca Juga :  Kemlu: RI Tak Hadiri Penyerahan Nobel Bukan Karena Tekanan China

Mubarak dikenal sebagai salah satu pemimpin Timur Tengah yang kuat. Ia adalah sekutu erat AS karena bersikap sangat lunak terhadap Israel. Tapi begitu lamanya ia berkuasa telah membuat dirinya menjadi pemimpin yang otoriter. Pemerintahannya juga dianggap sebagai pemerintahan yang korup. Dalam kehidupan politiknya, Mubarak juga telah beberapa kali selamat dalam upaya pembunuhan.

Aksi unjukrasa massal yang menuntutnya mundur bermula pada 25 Januari, terinspirasi oleh revolusi damai di Tunisia yang berhasil mendongkel presiden Ben Ali melarikan diri pada 14 Januari. Mubarak berusaha bertahan di saat aksi unjuk rasa terus membesar dengan  menjanjikan reformasi dan   akan mundur pada bulan September, janji yang tidak diterima oleh para pengunjuk rasa.(AP/tkz)(analisadaily.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*