Moammar Khadafy

Trias Kuncahyono

gaddafi female bodyguards2 Moammar KhadafyPemimpin mana yang dengan ringan tangan dan ringan hati membunuh rakyatnya sendiri? Pemimpin mana yang demi kekuasaan tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun mengorbankan rakyatnya sendiri yang selama ini sujud padanya? Pemimpin mana yang menyebut rakyatnya hanyalah ”coro-coro” dan ”tikus-tikus” yang harus dibasmi? Pemimpin mana yang dengan sengaja menceburkan negaranya dalam perang saudara?

Jawabannya satu: pemimpin Libya, Kolonel Moammar Khadafy! Berita sudah beredar ke seluruh dunia bahwa pemimpin Libya itu menggunakan kekuatan militer, mesin-mesin perang, baik darat maupun udara, serta mengerahkan tentara bayaran dari Chad, Sudan, dan sejumlah negara Afrika lainnya untuk menumpas para demonstran yang mengusung gerakan demokratisasi. Lebih dari 250 orang mati!

Yang menarik sekaligus menggelikan adalah pernyataan Khadafy, yang sudah berkuasa sejak tahun 1969, lewat pidato televisi hari Selasa. Ia mengatakan akan tetap mempertahankan kekuasaannya ”sampai mati sebagai martir”, tak peduli berapa banyak rakyatnya yang mati, tak peduli seberapa banyak darah mengalir di bumi yang kaya minyak itu.

Itulah Khadafy! Ada 112 variasi penulisan nama pemimpin Libya itu. Misalnya, AP, CNN, MSNBC menulis ”Moammar Gadhafi”. Koran The New York Times menulis ”Muammar el-Qaddafi”. Harian Los Angeles Times menggunakan ”Moammar Kadafi”. Reuters, Guardian, dan BBC memilih ”Muammar Gaddafi”, lalu The Irish Times menulis ”Muammar Gadafy”; ABC News memilih ”Moammar Gaddafi”; The Christian Science Monitor menggunakan ”Muammar Qaddafi”. Variasi mana yang digunakan, satu hal yang sama: ia kini tangannya berlumuran darah.

Baca Juga :  Polda Sumut Selidiki Illegal Logging di Humbahas

Bukan hanya kali ini Khadafy membunuhi rakyatnya. Tahun 1990-an, banyak demonstran mahasiswa tewas ditumpas tentara Khadafy, sebagian lain dijebloskan ke penjara. Tahun 1996, tentara menumpas pemberontakan di penjara Abu Salim, dan Human Rights Watch mencatat 1.200 tahanan tewas.

Memang, Khadafy bukan satu-satunya pemimpin yang tega membunuh rakyatnya. Pada tahun 1982, pemimpin Suriah, Hafez al-Assad, menumpas usaha pemberontakan di Hama dan menewaskan 35.000 orang serta 1.000 tentara. Pol Pot selama berkuasa tiga tahun delapan bulan 19 hari (1975-1979) membantai dua juta orang! Idi Amin Dada, penguasa Uganda, tahun 1970-an, yang dikenal haus kekuasaan, haus harta, dan haus darah, diberitakan membunuh 800.000 rakyatnya.

Apakah hal itu bisa menjadi pembenaran tindakan Khadafy? Mundurnya sejumlah dubes serta membelotnya sejumlah tentara dan polisi adalah salah satu jawabannya. Banyak negara pun mengecam Khadafy.

Nafsu apa yang menguasai dirinya sehingga ia akan memburu para demonstran ”dari rumah ke rumah” dan anaknya yang memperoleh gelar doktor dari London School of Economics (2008), Saif al-Islam, akan membuat ”sungai darah”?

Libya, yang memiliki cadangan minyak 41 miliar barrel (3 persen dari cadangan minyak global), kini terhuyung-huyung. Rasa takut terhadap penguasa yang otoriter, yang lebih kejam dari macan yang tidak pernah makan anaknya sendiri, hilang sudah dari rakyat. Tempus abire tibi est, untuk kamu (Khadafy) sudah waktunya untuk pergi. (kompas.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.
Baca Juga :  GMP3 Minta Bupati Palas, Basyrah Lubis SH, Tindak Tegas Bawahan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*