Moratorium PNS, Menurut Pandangan Honorer Kemenkeu

Kebijakan Pemerintah mengeluarkan Moratorium PNS, dinilai terlambat, seharusnya kebijakan ini dikeluarkan pada tahun 2006, agar pemerintah tidak asal angkat CPNS baik melalui jalur tenaga honorer maupun jalur umum. Disinyalir sekitar 60 % tenaga honorer yang telah diangkat menjadi CPNS yang berdasarkan PP 48 tahun 2005, tidak memenuhi kriteria pegawai yang dibutuhkan oleh Pemerintah, misalnya tenaga honorer yang basic pegawainya dari petugas kebersihan, satpam/petugas keamanan, supir, petugas parkir, pemungut karcis TPR, dsb.

Perlu diketahui borosnya anggaran Pemerintah saat ini salah satunya  penyebabnya bukan dikarenakan dengan adanya pengangkatan tenaga honorer diangkat menjadi CPNS secara massal, tapi dikarenakan adanya remunerasi pegawai di beberapa Departemen / Lembaga Negara yang menaikan gaji tunjangan pegawainya yang berlipat. Padahal itu bukan salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas kinerja pemerintah, tetap saja masih banyak oknum pegawai yang korupsi uang dan korupsi waktu masih banyak. Seharusnya Pemerintah itu mendidik moral aparatur negara agar menjadi aparat yang berakhlak baik, dan meningkatkan disiplin pegawainya, dikarenakan pegawai yang amanah, akan melaksanakan kewajibannya berbakti kepada bangsa dan negara, meskipun mendapatkan gaji yang tidak dalam jumlah yang besar, namun taat patuh kepada aturan yang berlaku.

Menurut pandangan kami tenaga honorer kemenkeu, moratorium ini juga dapat menyebabkan banyaknya pengangguran baru dan dinilai hanya sebagai alat politik untuk menjegal tenaga honorer kemenkeu diangkat menjadi PNS, padahal sebelumnya baik dari Panja Honorer DPR-RI, Komnas HAM, dan Komisi Ombudsman Nasional telah merekomendasikan dan mendesak Pemerintah agar honorer kemenkeu yang telah terdaftar di database 2005 untuk diangkat dan dilimpahkan menjadi CPNS di departemen dalam negeri, dikarenakan bidang PBB dan BPHTB dilimpahkan ke Pemda masing-masing.

Baca Juga :  Nagogo Drink Minuman Berasal Dari Salak

Bagi kami tenaga honorer kemenkeu sebenarnya tidak menuntut “wajib” diangkat menjadi CPNS, dikarenakan kami masih mempunyai rasa malu, dan tidak bisa memberikan yang lebih kepada bangsa seperti para pejuang/pahlawan kemerdekaan seperti zaman dulu. Jika menurut pemerintah dengan hanya tidak mengangkat tenaga honorer kemenkeu menjadi PNS itu akan menjadikan negara ini lebih baik lagi, kami sebagai rakyat sangat mendukungnya. Namun kami sebagai warga negara yang berazaskan Pancasila dan menganut sistem demokrasi yang mempunyai hak dan kedudukan yang sama di mata hukum, kami akan menuntut keadilan kepada Pemerintah, agar bisa lebih adil, sehingga tidak menimbulkan dikotomi.

Permohonan kami antara lain yaitu :

1. Memberhentikan PNS di seluruh instansi pemerintah yang telah diangkat berdasarkan PP 48 tahun 2005, yang basic pekerjaannya berasal dari tenaga honorer administrasi, petugas, keamanan, petugas kebersihan, supir, dan sebagainya, yang tenaganya tidak memenuhi kriteria sesuai moratorium PNS.

2. Memberhentikan PNS di lingkungan Departemen Keuangan yang diangkat PNS pada tahun 2006, yang berasal dari tenaga honorer daerah-daerah konflik.

Dengan demikian, dimohon kiranya Pemerintah untuk mengabulkan permohonan ini, dikarenakan ini merupakan salah satu visi misi dari semangat reformasi dan birokrasi, yaitu para birokrat yang bebas dari KKN, diindikasikan hampir 90 % tenaga honorer.yang telah diangkat menjadi CPNS tersebut merupakan hasil kolusi dan nepotisme.

Baca Juga :  Mengapa Ahok & Jokowi Dibenci?

Tidak lupa kami menyarankan kepada teman-teman honorer kemenkeu yang kini telah di PHK sepihak, tetaplah bersabar dan taat kepada Pemerintah, meskipun didzolimi dan hak-hak kita diabaikan,mintalah hak sama Tuhan. Jangan sampai isu yang berkembang menjadi kenyataan yaitu ada beberapa honorer kemenkeu yang akan melakukan bakar diri massal katanya terinspirasi kejadian di negara mesir, ini merupakan kekeliruan besar, bukan mencari solusi malah menjadikan polusi.

Dari: rhezy ramadhan <rhezyramdhan@ymail.com>
Alamat : jl padasuka
Kota : tasikmalaya
Kota : jawa barat
No Telp/HP : 065324151
Topik/Judul Surat: Moratorium PNS, menurut pandangan honorer kemenkeu
This mail is sent via SURAT PEMBACA on apa kabar sidimpuan online https://apakabarsidimpuan.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 10 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

1 Komentar

  1. NOVEL CINTA INI BEDA DAN LAIN DARI YANG LAIN!

    Ingat, novel ini sangat lebay, kampungan, udik, kolot,
    klasik, lucu, seru, sedih, dungu, lugu tapi mendunia rasa, mendunia ilmu, mendunia air mata, mendunia tawa, geli dan menggelikan siapa saja yang membacanya, kisah nyata bukan fiksi tapi fakta, aktual dan lugu dalam pemaparan yang mengundang tanda tanya, menggelitik naluri, menusuk sukma, namun me
    ngembara berdasarkan landasan relegi yang terukur dan terarah, dengan logika 4 sehat, lima sempurna, enam berkah tujuh makrifah. TUNGGU AKAN TERBIT!!!

    SINOPSIS NOVEL “CINTA” DALAM PUISI

    Dalam senggama ada Tuhan
    dalam tangis air mata ada Tuhan
    dalam tawa ria ada Tuhan
    dalam senda gurau gelak terbahak ada Tuhan
    dalam haus dahaga ada Tuhan
    dalam lapar kenyang ada Tuhan
    dalam letih lunglai ada Tuhan
    dalam sepi ramai ada Tuhan
    dalam kesendirian smakin ada Tuhan
    dalam senyum dan marah ada Tuhan
    dalam tulis baca ada Tuhan
    dalam benci iri dengki ghibah ada Tuhan
    dalam shalat doa dan dzikir belum tentu ada Tuhan
    dalam Ramadhan yang maghfirah belum tentu ada Tuhan
    jika qalbu bertuhankan diri
    bertuhankan nafsu
    bertuhankan baju baru
    bertuhankan dendam yang tak memberi maaf
    bertuhankan ego yang merasa benar
    bertuhankan kesabaran yang merasa benar
    tapi bertuhankan tawaqalillah yang berjalan
    digaris takdir doa, hablumminnas dan hablumminallah
    yang sejalan dengan syariat dan hakikat
    shalat, doa, puasa, zakat, dzikir dan makrifat yang tepat
    di hati nan lembut
    di tutur yang sejuk
    di wajah yang teduh
    jauh dari beringut
    jalan yang tunduk warak dan tawaduk
    berbaju diam dan mahabbah detak hati
    yang istiqomah
    Nah….di situ ada Tuhan di CINTA yang SERU
    sulit, rumit memang
    sesulit Rummi menari
    sesulit Razi mengaji
    sesulit Al-Halaj meyakini
    sesulit Nabi Muhammad memaaf
    sesulit Nabi Ayyub menderita
    sesulit Nabi Nuh diingkari anak istri
    sesulit menangkis persepsi yang beda
    sesulit kata hati yang keras bak besi
    sesulit ego diri yang tak mengalah pernah
    sesulit nafsu yang angkara murka durjana
    sesulit fitnah yang terus merajalela mengundang dajjal
    sesulit mempertahankan yang salah
    sesulit pembenaran diri
    sesulit menangis di Idul Fitri.
    namun tidak sesulit menangis sendiri
    bersama Tuhan Ilahi Rabi
    ke sinilah Novel CINTA bermuara berkelana
    mengembara mengharungi takdir yang optimistis, relegis
    penuh syiar dan mujahadah
    Tuhan tempat bersandar
    Allah tempat bernaung
    Rasulullah tempat belajar
    ulama dan para ambiya walmursalin wadah bertanya
    membimbing pena jangan salah arah
    salah kaprah dibawa arus amarah
    tak masuk tong sampah!

    DILAHIRKAN NOVEL INI INGIN MENELUSURI KEBENARAN TENTANG SAH DAN SAHIHNYA HADIST NABI YANG MENGATAKAN NERAKA ITU PALING BANYAK DIHUNI OLEH KAUM WANITA! NAH MAKANYA PEMBACA JANGAN SALAH PERSEPSI!

    Tapaktuan, Sabtu, 18 Agustus 2012. (Pesan Sponsor dari Qalbu yang Fitrah). Selamat Idul Fitri mohon maaf lahir dan qalbu!!!

    HATI_HATI PADA WANITA INI, DIA PENIPU!
    DIMINTA KEPADA PIHAK POLRES TAPANULI SELATAN SECEPATNYA MENANGKAP WANITA INI!

    Batangtoru, Warta Indonesia

    Dihimbau kepada seluruh masyarakat Batangtoru – Sipirok, Padang Sidimpuan Tapsel (Sumut) khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya bahwa seorang wanita yang mengaku bernama Eti Herawati Boru Regar (20) warga Dusun Stinja Batangtoru Sipirok (Tapsel) yang menggunakan HP no kartu 087891144974 telah melakukan aksi penipuannya kepada sejumlah lelaki via hympon dengan menggunakan banyak nomor dengan modus penipuan dan menggunakan No Rekening BRI Padang Sidimpuan Tapsel 533301008914534 a/n Rimma Lubis. Juga kadang-kadang Eti alias Yuni alias Efi ini menggunakan nomor Rekening a/n Latifah Hanum Simatupang – 533301008361537 BRI Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan. Diminta kepada pihak Polres Tapanuli Selatan agar menciduk wanita yang mengaku tamatan SMA Negeri 7 Batangtoru Tapsel tahun 2011. Karena diduga kuat wanita ini adalah salah seorang anggota mafia yang bermodus penipuan terhadap kaum Adam dan melakukan pengurasan dengan cara mengajak nikah dan jumpa di hotel.

    Menurut sejumlah para korban kepada wartawan media ini Rabu 12 September 2012 bahwa perempuan yang mengaku ayahnya bernama Almarhum Syamsul Bahri Siregar ini dan ibunya bernama Latifah Hanum Simatupang ini sangat lihai dan ulung melakukan pemerasan via telepon siluler, sasarannya adalah lelaki yang berduit,” ungkap Hr Lubis.

    Eti Herawati Boru Regar yang lahir 22 Maret 1994 di Dusun Stinjak – Batangtoro ini beroperasi pada waktu tengah malam dengan menggunakan HP nomor: 087891144974/087891332543/087891211684/087748143315/082168871436/081260663478/082166051822/082164427964/087869967964/081990615224. Diduga semua nomor yang tertera di atas bekerja sama antara satu dengan yang lain melakukan trik penipuan kepada para korbannya.

    Menurut sejumlah korbannya, wanita ini pintar sekali menangis tersedu sedan via HP sambil terisak-isak ia berkata: saya orang miskin di Dusun Sitinja
    Batangtoru dan ayah tiri saya sering ditendangnya tubuh saya hingga tersungkur jika sedikit saja terlambat bikin kopi,” ujar Hr menirukan ucapan Eti Herawati.

    Yang hebatnya, demikian lanjut Hr, Et ini sengaja menyuruh lawan bicaranya untuk membagi-bagikan no Hp-nya pada lelaki dan jika sudah kenal, dia sering minta ditelpon dan minta pulsa dan setiap hari makan daun ubi dengan ikan asin. Uang sekolahnya sudah lima bulan belum dibayar sehingga dia sering diusir oleh gurunya dari sekolah karena belum melunasi uang sekolah.

    Dikatakan juga dia setiap hari berjalan kaki 3 Km pergi dan 3 Km pulang ke sekolah sehingga rok seragam dan sepatunya robek dan koyak dan tiap hari Rabu dia selalu makan nasi putih dengan kecap asin. Kalimat ini sempat direkam oleh korbannya (Hr) dan akhirnya wanita ini minta dipacari dan bersedia bertemu di Hotel untuk kencan. “Cepat abang datang ke Batangtoru, kita tidur di hotel, ambil perawan Eti Bang. Eti cinta ama abang kok. Oh ya Bang, pulsa Eti udah habis, jangan lupa isi pulsa Eti ya Bang,” lanjut Eti dalam rekaman hympon Hr itu.

    Ujung-ujungnya setelah begitu intim pembicaraan via HP wanita ini selalu menangis karena sering dipukul dan disepak serta ditendang oleh ayah tirinya yang bernama Joni dan minta kepada lawan bicaranya supaya dia dijemput untuk dinikahi. “Eti cantik, polos, jujur, rajin ngaji dan shalat dan tiap hari membantu ayah tiri dan mama di ladang upahan. Eti nggak tahan tinggal bersama ayah tiri yang kejam yang selalu memarahi Eti. Tolong jemput Eti Bang, atau Eti datang ke kota Abang tapi kirimi dulu ongkos Eti, ne no rekeningnya:533301008914534. atas nama teman saya Rimma Lubis. Tolonglah Eti Bang, Eti nggak tahan lagi menderita….,” demikian Hr memperdengarkan suara rekaman wanita Sipirok ini pada sejumlah wartawan Medan.

    Menurut nara sumber kami wanita ini juga sering berubah- ubah tahun kelahirannya: 1992, 1993, dan 1994 untuk minta dikirim uang pada lawan bicaranya guna beli kado ulang tahun seperti boneka dan baju, makanya diminta pada pihak berwajib segera menyidik wanita yang sudah beroperasi selama 2 tahun terakhir ini. “Tidak bisa dibiarkan berkeliaran wanita sok alim ini di Padangsidimpuan karena telah mengganggu ketertiban umum dan merusak etika dan citra wanita yang rajin ngaji dan shalat,” ucap Hr.

    “Kebiasanan wanita ini bergentayangan menelpon lawan jenisnya pada pukul 24.00 – 04.30 Wib dengan mengajak ngobrol-ngobrol dan akhirnya minta dikirimi pulsa dan duit,” ujar narasumber yang lain sembari menambahkan Eti ini sangat pintar sekalu menangis tersedu-sedan via Hp sambil merengek-rengek dan memelas minta dikasihani. “Saya tertekan sekali tinggal dengan ayah tiri,” lanjut Eti pada lawan bicaranya Hr.

    Dikatakan juga, oleh nara sumber yang sama, Eti ini juga kerap memakai nama Putri, Yuni, Dewi dan Efi tamatan Madrasah Aliyah Negeri Batangtoru, Tapsel. “Kadang-kadang ia mengaku bernama Efi dan Yuni tinggal di Medan,” tutur sumber itu.

    Lebih jauh, nara sumber kami tersebut juga mengaku sempat tertipu puluhan juta yang dikirimnya ke rekening Rimma Lubis (533301008914534) dan rekening Latifah Hanum Simatupang (533301008361537). dengan perjanjian dan sumpah mereka akan bertemu dan menikah secara baik-baik.

    Tahu-tahu entah bagaimana, demikian sumber itu mengaku Eti menelpon setelah uang ditransfer, katanya dia telah dipaksa kencan oleh Andika Pratama warga Padangsidimpuan yang bekerja di percetakan – Medan di subuah hotel yang bernama Tamiang – Padangsidimpuan. “”Eti tidak perawan lagi Bang, dipaksanya Eti dan nggak bisa Eti melawan, Andika itu tubuhnya tinggi besar, sempat dua kali Eti dinodainya, Bang,” ujar Hr sembari memperdengarkan rekaman suara Eti yang menangis saat perawannya diambil oleh Andika Pratama. Menurut cerita Eti, sebelum mereka “terbang ke planet Mars” lebih dulu Andika Pratama membeli baju batik untuk Eti serta uang Rp 300 ribu. Dan di kamar hotel sebelum perbuatan mesum itu mereka lakukan lebih dulu Andika Pratama menyuguhkan majalah porno kepada Eti dengan tujuan merangsang libido kewanitaannya. “Eti dipaksanya Bang. Eti nggak bisa melawan Bang. Karena tubuh Andika itu tinggi besar!” ujar Eti yang diceritakannnya kepada Hr sambil menangis.

    Kiranya bukan cukup dua kali dia ditindih di salah satu kamar Hotel Tamiang Padangsidimpuan, perbuatan mesum itu berulang 3 kali trip lagi di rumah Eti sendiri di Dusun Sitinja, Sipirok, Batangtoru, Tapanuli Selatan.

    “Waktu itu tanggal 25 Juni 2012 pukul 09.00 Wib Andika datang ke rumah Eti, lagi ayah tiri saya dan ibu kerja di ladang. Kami kunci pintu dan jendela dan kami pun main hingga tiga kali, Bang….” demikain rekaman suara wanita yang mengaku punya teman bernama Tuti dan Murni ini kepada wartawan yang langsung diperdengarkan Hr dari hymponnya.

    “Bagaimana itu Bang, Andika Pratama minta nikah ama Eti bulan ini, kalau abang masih cinta ama Eti karena abang udah banyak kasih duit, maka kandungan Eti ini akan Eti gugurkan, karena kini Eti terasa mual-mual, bang,” jelas sekali suara Eti menangis saat menceritakan kisah mesum itu kepada Hr yang direkam Hr dan terus memperdengarkan kepada wartawan.

    “Tadi siang saya telah banyak makan tape Bang supaya kandungan saya cepat gugur,” kata Eti lagi dalam rekaman di HP Hr.

    Anehnya wanita yang sangat hobbi dan gemar menelpon kaum hawa yang berduit ini mengaku berkawan akrab dengan Rimma Lubis – teman sekelas dia sewaktu kelas III SMA Negeri 7 Batangtoru – Tapsel. Dan kepada Hr ia mengaku bahwa temannya Rimma Lubis itu juga telah melakukan perzinahan dengan seorang lelaki di Padangsidimpuan hingga hamil dan Rimma terpaksa nikah lari ke Medan sebab orangtuanya tidak setuju Rimma kawin di kampung. “Sekarang Rimma Lubis sudah melahirkan, Bang,” ujar Eti pada Hr yang direkam Hr di Hp-nya.

    “Ini nomor Hp Rimma, Bang. Boleh abang ngomong ama dia,” tambah Eti lagi.

    Yang aneh dan lucunya, karena Eti ini kerap minta ditelpon pukul 24.00 Wib ke atas, kepada lawan jenisnya via HP – dia selalu membisikkan dengan nada romantis, “Bang jangan ngomong kuat-kuat, Eti lagi ngintip ayah sedang main dengan mama, nafsu Eti Bang lihat mereka gitu seksi dan romantis,” demikian rekaman suara Eti yang diperdengarkan Hr kepada wartawan.

    “Ayok Bang jemput Eti besok, atau kirimi Eti duit untuk ongkos supaya Eti datang nurut Abang …kirimi ya Bang cepatin. Eti orang miskin Bang, makan aja susah. Tiap ada pesta di Batangtoru Eti selalu kerja cuci piring dan nggak pernah pacaran. Eti Demi Tuhan masih perawan, cantik dan jujur, Bang,” lagi-lagi wanita ini memelas dengan suara disendu-sendukan sebagaimana yang terekam di HP Hr.

    Dan nara sumber yang lain Gj pada media ini juga mengaku pernah dihubungi Eti siang dan malam minta ditelpon “Kadang isteri saya yang angkat telepon wanita yang ngaku warga Batangtoru ini. Saya heran kok darimana dapat dia nomor hp saya,” cetus Gj bingung.

    “Eti itu selalu menanyakan tiap ditelpon, di mana abang ne. Isteri abang lagi dimana? Oh ya Bang, pulsa Eti udah habis, tolong ya Bang kirimi Eti pulsa lima ribu boleh Bang,” ungkap Gj menirukan suara Eti.

    “Yang anehnya lagi, demikian kata Gj, Eti gemar mengirmkan fotonya kepada lelaki dengan foto yang berbeda, ini cewek betul-betul nekad dan sudah terbiasa berhasil nipu banyak laki-laki!” ungkap Gj seraya memperlihatkan tiga buah foto wanita ini yang berbeda.

    “Induk ayam bersama anak ayam mati karena lupa Eti kasih makan dan nutup kandangnya, lantas ayah tiri saya langsung menampar dan menendang saya, hingga saya terjatuh, Bang,” kata Eti lagi pada Hr bernada sedih.

    “Sewaktu saya mau berangkat Senin malam lalu guna mendatangi Abang, mama saya ditinju ayah dan saya disepaknya, sehingga sakit pantat saya, Bang,” tambah Eti sambil menangis sunguk-sungukkan.

    “Saya takut ama ayah, kami diusir dari rumah jika saya tetap berangkat nurut Abang,” lanjut Eti.

    Aneh dan terbuktinya wanita ini bohong dan penipu adalah, rumah yang ditempatinya bersama ibunya itu adalah rumah abang kandungnya yang bernama Fahli – yang kata Eti si Fahli itu sekarang sudah kawin di Medan (saat mau kawin itu Fahli sempat meminjam uang Eti Rp 600 ribu untuk beli pakaian pengantin, uang itu adalah pemberian pacarnya Hr). Karena menurut adat istiadat Batangtoru, rumah adalah dikuasai oleh saudara laki-laki. Jadi keterangan Eti sudah paradok, karena “Rumah itu rumah ayah tirinya bukan rumah Fahli yang sekarang bekerja bawa ikan asin di Medan Baru,” kata Eti pada Hr.

    “Lho kacau balau wanita ini bikin alasan,” ujar Hr tersenyum.

    “Eti pintar Bang, di kelas Eti rangking satu, apa hadiah yang akan abang berikan pada Eti. Itu si Rimma Lubis sering nyontek atau saya bantu dia dalam mengerjain PR,” kata Eti pada Hr yang disampaikan pada wartawan.

    Dengan menggunakan kartu HP Nomor 087891211684 tiba-tiba Hr mendapat SMS dari wanita penipu ini yang isinya: “Hei teroris jangan ganggu Eti ya… dia isteri saya ….nanti saya bunuh kau hey anjing…babi. Saya suruh tembak kamu dengan Densus 88!”

    Karena ingin pasti apakah SMS itu benar datang dari Eti yang selama ini selalu dibantu Hr biaya sekolah dan membeli mukena, berobat ibunya, beli rokok dan baju koko ayahnya pada terkejut. “Nomor kartu 087891211684 sudah terlalu sering digunakan Eti bicara dan smsan dengan saya …lantas kok kali ini SMS Eti kek gitu? ujar Hr pada pers.

    Langsung saja Hr membel nomor 087891211684 tapi tidak diangkat, Eti malah HP dimatikannya. Tak lama kemudian masuk lagi SMS Eti yang bunyinya: “Jangan ganggu isteri saya ya. Awas kau anjing dan babi!” tapi HP langsung kembali mati.

    Besoknya Eti kembali kirim SMS pada Hr tapi dengan nomor yang lain (533301008914534) – isi pesan singkat Eti itu antara lain: ” Maaf bang Hr…semalam itu bukan sms Eti tapi Bang Iwan – suami Kak Putri dipakeknya Hp Eti saat Eti tertidur. Hp Eti cas di ruang tamu, lalu suami Kak Putri mengirim sms pada abang. Dia abang Iwan cemburu Eti pacaran ama bang Hr…” alasan Eti pada Hr

    Membaca SMS Eti itu, Hr bingung dan mulai tidak percaya serta curiga bahwa Eti memang wanita penipu dan punya banyak kartu dan sengaja bersandiwara menipu laki-laki yang bisa dia tipu!

    Sungguhpun demikian, perbuatan wanita yang katanya rajin ngaji dan shalat serta mengaku tinggal di Dusun Sitinja Batangtoru, Sipirok, Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan, Sumut, yang Sekretaris desanya bernama Rudi ini – perlu segera ditangkap oleh pihak keamanan demi menghambat agar perbuatan wanita ini tidak semakin meluas menipu laki-laki!

    Sebentar tadi, Senin, 17 September 2012 wartawan media ini berhasil bicara (konfirmasi) dengan Eti, katanya dia sekarang sudah di Bukittinggi bersama ibu dan Uwaknya dalam sebuah keperluan mengunjungi saudaranya di Bukittinggi (Sumbar).

    “Baru saja Eti tiba pagi tadi dari Padangsidimpuan,” kata Eti.

    Eti juga menjelaskan dia bukan menipu lelaki yang berinisial Hr, tapi sepulang dari Bukittinggi Eti akan menjumpai Hr. “Kami pasti menikah, sabar saja, Eti akan datang menjumpai Bang Hr,” ucap Eti dengan nada serius. Benarkah?

    IBU ETI LATIFAH HANUM SIMATUPANG MENANGIS MINTA MAAF

    Siang tadi Selasa, 25 September 2012 sekitar pukul 16.15 Wib, Hr menelpon Eti dan Eti mengangkat serta mengakui dia kemarin, Senin pagi 24 September 2012 tiba di Padangsidimpuan dari Bukittinggi bersama ibunya, Latifah Hanum Simatupang.

    Karena Hr kurang percaya pengakuan Eti itu, lantas lelaki yang sudah puluhan juta berkorban demi Eti ini minta supaya ibu Eti Latifah ngomong dengannya.

    “Maafkan ibu Nak, uang yang Rp 1 juta 500 ribu ongkos Eti yang Nak Hr kirimkan itu sudah ibu pakai untuk pembayar hutang ibu di Bukittinggi….ng…ng…ng…,” suara Latifah Hanum terdengar tersedu-sedan. Wanita yang punya nomor rekening BRI Padangsidimpuan, Tapanuli Selatan 533301008361537 itu betul-betul menangis sambil minta maaf kepada Hr pacar anaknya, Eti. “Maafkan kami ya Nak Hr?!” ulang Latifah lagi makin keras suara tangisnya. Hr sempat merekam suara wanita itu.

    “Jadi waktu kita ngomong dulu, kenapa nggak mau Mama berterus terang mengatakan Mama itu ada hutang di Bukittinggi?” tanya Hr.

    “Mama malu padamu Nak Hr,” jawab Latifah.

    “Menurut Eti, memangnya betul Mama itu ada pinjam cincin emas famili di Bukittingi seharga Rp 2 juta 500 ribu?” tanya Hr lagi.

    “Betul Nak, mama pinjam tapi cincin emas itu sudah ibu jual,” sahut Latifah via hympon.

    “Kenapa Mama jual” tanya Hr lagi.

    “Untuk biaya hidup kami, untuk kami makan sehari-hari…ng…ng…,” suara tangis Latifah Hanum Simatupang makin keras. Nadanya sangat beriba-iba.

    “Sekarang baru ibu bayar Rp 1 juta yaitu ibu bayar dengan duit yang Nak Hr kirim pada Eti untuk ongkosnya, tinggal Rp 1 juta 500 lagi hutang kami pada famili di Bukittinggi,” lanjut Latifah.

    “Dulu kenapa Mama tidak mau berterus terang bahwa ayah tiri Eti tidak mengizinkan Eti berangkat mengikuti Hr. Padahal Mama sendiri yang bilang ayah Eti sudah izin. Bukankah Mama juga sama membohongi saya?” ujar Hr tegas.

    “Ya Mama salah maafkan kami ya Nak Hr,” jawab Latifah.

    Mendengar jawaban Latifah Hanum Simatupang – ibu Eti Herawati Boru Regar itu, Hr bergumam dalam hati, benarlah Sabda Rasulullah SAW, bahwa wanita itu sulit untuk diluruskan, karena wanita tercipta dari tuluang rusuk kiri Adam yang bengkok. Lebih ekstrimnya, sebagian ulama memepertegas bahwa untuk meluruskan sifat dan tabiat wanita sama seperti sulitnya meluruskan ekor anjing! Na’udzubillahi mindzalik!

    Betapa tidak, demikian pikir Hr dalam hati, sejak Eti kelas 2 SMA Negeri 7 Batangtoro, Hr banyak membantu Eti tentang biaya pendidikan. Dari beli HP, rok seragam sekolah dan sepatu Eti yang robek diganti yang baru oleh Hr hingga membayar uang sekolah Eti sejumlah lima bulan serta beli mukena (perangkat shalat) sampai kue dan baju hari raya Eti, bahkan termasuk baju mama dan ayah tiri Eti dibelikan oleh Hr. Juga rokok ayahnya Gudang Garam Surya 16 dan rokok Gunung Mas.

    Bukan itu saja, lagi-lagi Hr bergumam sendiri, pulsa HP Eti selama dua tahun selalu diisi oleh Hr serta sudah 11 kali ongkos Eti dikirim oleh Hr yang jumlahnya tak kurang Rp 10 juta namun Eti tidak juga kunjung datang ke kota Hr.

    Sebelum puasa Juli 2012 lalu Eti minta pada Hr dikirimi ongkos Rp 1 juta 200 ribu dengan janji dan sumpah Demi Allah Eti pasti datang ke kota Hr untuk menikah. “Demi Allah, demi Para Malaikat, demi Para Rasul Eti pasti datang Bang untuk menemui Abag!” ungkap Eti pada bulan Juli 2012 lalu.

    Karena lembu atau kerbau yang dipegang tali hidungnya, dan manusia yang dipegang ngomong, janji dan sumpahnya, maka Hr percaya sehingga Hr pun secara tulus mengirimi Eti uang untuk ongkos sebesar Rp 1 juta 200 ribu melalui rekening Rimma Lubis di Padangsidimpuan dengan nomor rekening: 533301008914534.

    “Eti pasti datang Bang mau dekat puasa ini. Dan kita menikah, makanya segera Abang transfer duit sebesar Rp 1 juta 200 ribu besok ya Bang?!” kata Eti waktu itu.

    Nah, setelah uang dikirim ke rekening Rimma Lubis, namun Eti tidak juga berangkat dengan alasan 7 hari raya saja dia berangkat. “Sabar Bang, Eti tidak jadi berangkat, seminggu Hari Raya Eti datang Bang,” demikian alasan Eti lagi-lagi berbohong dan menipu pacarnya Hr.

    Dalam sebulan penuh pada bulan Ramadhan Hr dan Eti selalu bertengkar karena HP Eti selalu sibuk di saat kaum muslim shalat tarawih, bahkan hingga larut malam, hingga pukul 03.00 Wib dini hari.

    Hr kerap memaki-maki wanita pembohong dan tukang gombal ini. Bukan saja tukang gombal tapi Eti yang berpura-pura bersuara lembut dan polos ini sangat pintar membbuat alasan yang mana alasan yang dilontarkannya itu kadang-kadang tidak masuk akal dan sering dia rekayasa. Maklum saja, bicara via hympon tentu peluang untuk membohongi lawan bicara cukup terbentang lebar, apalagi dasarnya memang tukang tipu, tentu sangat gampang ngarang dan merekayasa orang lain demi uang.

    “Bang tolonglah kirim duit lagi untuk ongkos Eti berangkat ke kota abang, sekarang kan sudah mau seminggu menjelang lebaran,” rengek Eti kepada pacarnya Hr.

    “Apakah Eti nggak bohong lagi, betul Eti berangkat?” sahut Hr tulus dan jujur.

    Setelah seminggu lebaran, Hr mengirim lagi uang sebesar Rp 1 juta 500 ribu ke rekening Rimma Lubis. Tapi Eti tak juga kunjung datang.

    “Eti sekarang lagi di Bukittinggi, Bang dengan mama!” sahut Eti ketika bicara dengan pacarnya Hr.

    Sepulang dari Bukittinggi Eti bicara dengan Hr via HP bahwa dia tidak bisa berangkat karena uang ongkos sudah terpakai membayar hutang ibunya di Bukittinggi.

    “Ya Nak, maafkan ibu Nak Hr…uang Eti sudah mama pakai bayar hutang kepada saudara kami di Bukittinggi…ng…ng…!” ujar Latifah Hanum Simatupang pada Hr sembari menangis.

    Menurut pengakuan ibu Eti, Latifah Hanum Simatupang kepada Hr, dulu ia pinjam cincin saudaranya di Bukittinggi seharga Rp 2 juta 500 ribu. Cincin itu lantas ia jual untuk belanja sehari-hari. Karena sudah lama cincin itu belum juga dikembalikan maka saudaranya yang di Bukittinggi marah-marah, justru itulah dipakai uang pemberian Hr oleh Latifah Hanum Simatupang. Entah iya entah tidak itu cerita Latifah.

    Namun demikian, Hr tetap percaya, apalagi Eti mengaku sisa ongkos yang dikirim Hr sebagian sudah dibelinya pakaian dan jajannya sehari-hari. Anehnya, entah Hr ini terlalu bodoh entah terlalu cinta, ia kembali mengirimi uang Rp 500 ribu lagi demi Eti asal berangkat ke kotanya.

    Setelah uang Rp 500 ribu dikirim, Eti tidak juga jadi berangkat. Alasannya ayah tirinya, Joni marah-marah dan tidak mengizinkan Eti pergi dari rumah.

    “Kalau kau berangkat juga akan saya potong kakimu!” demikian ancaman ayah tirinya, Jhoni kepada Eti sebagaimana yang disampaikan Eti kepada Hr.

    (Tim)
    Bersambung

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*