Museum Batak, Miniatur Peradaban Enam Puak – Jadi Catatan Hidup Nilai-nilai Budaya

Museum Batak di TB Sialahi Center menjadi salah satu saksi sejarah yang merekam peradaban Batak tradisional menuju Batak modern. Uniknya, ada museum pribadi TB Silalahi yang tertutup bagi wisatawan, hanya terbuka untuk anak sekolah SMP dan SMA. Bagaimana suasananya?

INDRA JULI-Balige

Balige, sebuah kecamatan sekaligus ibukota dari Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Indonesia. Terletak di pinggiran Danau Toba, Balige memiliki banyak obyek wisata yang menarik.
Salah satunya TB Silalahi Centre yang terletak di kawasan wisata Pagar Batu Soposurungn
Terletak di tanah seluas lima hektar bersebelahan dengan Kantor Bupati Tobasa, TB Silalahi Centre seolah menjadi pustaka kebudayaan Batak khususnya Batak Toba.

Nuansa Batak sudah terasa dengan keberadaan gapura berhiaskan artefak kuno suku Batak. Memandang lurus ke depan akan terlihat Ruma Bolon, rumah adat Batak yang biasa digunakan sebagai tempat berkumpulnya para keluarga atau untuk digunakan kepentingan acara-acara adat. Ruma Bolon menunjukkan betapa leluhur suku Batak adalah arsitek, tukang, dan seniman yang luar biasa. Itu terlihat dari desain yang begitu rumit, kokoh dan penuh ornament ukiran (gorga). Bukti sebuah semangat kebersamaan para leluhur Suku Batak dalam membangun sebuah tempat tinggal. Juga pentingnya musyawarah bagi seluruh masyarakat Batak.

Berjalan ke sebelah kiri terdapat Museum TB Silalahi yang merekam perjalanan hidup Letjend (Purn) TB Silalahi. Tampak patung TB Silalahi dalam seragam militer berdiri tegak didampingi seekor cheetah. Di sebelah kanannya sebuah helicopter tua dan sebuah tank perang di sebelah kiri.

Di bagian dalam museum sendiri dapat disaksikan sejarah kehidupan masa kecil TB Silalahi hingga dewasa dan juga kegiatan-kegiatan masa lalu hingga saat ini. Tergambar jelas karakter yang baik, disiplin yang keras, pantang menyerah dan pemberani. Setidaknya itu yang bisa ditangkap dari koleksi yang ada. Museum pribadi TB Silalahi ditutup untuk turis dan hanya diperbolehkan untuk dikunjungi pelajar SMP atau SMA karena tujuannya untuk memotivasi mereka agar memiliki cita-cita tinggi dan bekerja keras untuk menggapainya lewat pendidikan.

Baca Juga :  Pranav Mistry: Si Jenius Dari India Penemu 6’th Sense Technology Yang Mengagumkan

Di bahagian belakang kita pun dapat menemukan miniatur Huta Batak. Area ini berisikan rumah tradisional Batak Toba yang berusia ratusan tahun dan disusun mengikuti bentuk perkampungan Batak Toba zaman dulu. Pagar dari pohon bambu, hariara, kuburan batu, dan ulubalang adalah komponen penting dari huta batak. Di situ juga dapat dilihat tiruan si gale-gale, patung yang dapat menari dalam dan kebudayaan menangkap ikan dalam tradisi masyarakat Batak.

Keluar dari lokasi ini kita dapat mencari tahu banyak hal tentang budaya Batak dan serba-serbinya di Museum Batak TB Silalahi Centre yang baru diresmikan Presiden Republik Indonesia DR H Susilo Bambang Yudhoyono, Selasa (18/1) lalu. Bagaimana masyarakat Batak juga memiliki aksara yang terdiri atas dua perangkat huruf yaitu, ina ni surat dan anak ni surat. Aksara Batak ini bahkan dipuji dan dianggap sebagai tata bahasa pertama di Hindia Belanda yang disusun secara ilmiah. Aksara Batak Toba disebut juga dengan Aksara si sia-sia (9-9).

Di situ juga dapat ditemui nasihat leluhur masyarakat Batak yaitu Paias Rohamu (bersihkan hatimu), Paias Pamatanganmu (bersihkan tubuhmu), Paias Peheanmu (bersihkan pakaianmu), palas jabumu (bersihkan rumahmu), dan Pahias Alamanmu (bersihkan halamanmu). Ada juga nasihat leluhur tanah batak yaitu Hamoraon (carilah rezeki dan keberuntungan), Hagabeon (carilah kesempurnaan hidup), dan Hasangapon (carilah kehormatan dan kemuliaan). Prinsip yang mengajak masyarakat Batak untuk bekerja keras dan bekerja cerdas.

Di situ juga terdapat penjelasan bagaimana Raja Batak yang ada menjadi simbol perlawanan terhadap feodalisme atau kekuasaan mutlak. Keenam puak Batak, Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Pakpak, dan Angkola tidak pernah memiliki raja tunggal. Kepemimpinan yang berlaku di masyarakat Batak hanya sekitar sosial-kultural dan memiliki peran penting dalam memecahkan berbagai masalah yang terjadi dalam wilayah desanya.

Baca Juga :  Ada "Tambang Emas" di Danau Toba

Kebudayaan Batak lainnya adalah senjata yang disebut hujur atau tombak, podang atau pedang, piso balasan atau pisau, sior atau panah dan busur, ultop atau sumpit, dan bodil atau senapan.
Tor-tor merupakan tarian khas Batak Toba yang diiringi dengan alat musik khas Batak Toba berupa gondang sabangunan (seperangkat lengkap alat musik gendang) yang dilengkapi uning-uningan (kecapi, seruling, dan gong). Juga Sigale-gale sebagai legenda akan kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Di lokasi ini kita juga dapat melihat pakaian adat keenam puak Batak.

Seperti yang disampaikan TB Silalahi, TBS Centre merupakan pusat pelestarian nilai-nilai adat Batak sekaligus upaya membentuk karakter masyarakat utamanya generasi muda Batak agar benar-benar memiliki mental pekerja keras yang profesional di berbagai sektor ekonomi yang ada di bona pasogit (kampung halaman) mulai pertanian, perikanan dan perindustrian terutama tenun ulos.

“Hal-hal inilah yang saya rasakan perlu untuk dilestarikan. Kalau saya sudah tidak ada lagi, tidak bisa saya menceritakannya kepada anak cucu orang Batak. Inilah (TBS Centre, Red) yang menjadi catatan hidup sejarah dari nilai-nilai Batak. Sudah saatnya Batak bersatu,” tegas TB Silalahi, Selasa (18/1).(*) – (hariansumutpos.com)

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*