Mutiara Pantai Barat Madina

MURSALA: Haji Anif menikmati keindahan air terjun yang ada di Pula Mursala, Tapanuli Tengah, Minggu (7/8) //Ramadhan Batubara/ Sumut Pos
PERAHU: Haji Anif menuruni KM Anugerah dan menaiki perahu agar bisa sampai ke Pulau Batu Merah, Muara Batang Gadis, Madina Minggu (31/7).//Ramadhan Batubara/ Sumut pos

 

RUMAH GADANG: Kediaman Haji Anif di kawasan Salasiak Muara Batang Gadis, Madina Minggu (31/7).//Ramadhan Batubara/ Sumut pos
PULANG: Haji Anif menaiki perahu menuju KM Anugerah usai mengunjungi Pulau Batu Merah, Muara Batang Gadis, Madina Minggu (31/7).//Ramadhan Batubara/ Sumut pos

Kapal motor itu bergerak. Sumut Pos sengaja memilih tempat di atas, di samping sang kapten. Sibolga ditinggalkan. Semakin lama semakin jauh. Lalu, hilang. Sumut Pos yang mengikuti rombongan Haji Anif pun terlena dalam hembusan angin.

Ramadan Batubara, Madina

Pemandangan kini hanya terpaku pada laut luas dan pulau-pulau kecil. Sesekali terlihat perahu nelayan melaju pelan. Mereka melambaikan tangan sambil tertawa lebar. KM Anugerah terus melaju dengan cepat. Sial, telepon genggam mulai rawan sinyal.

Haji Anif yang sebelum duduk di kursi di bagian belakang kapal pun pindah ke dalam; sebuah ruang yang nyaman bersofa lengkap dengan AC, televisi, dan sebagainya. Kapal terus melaju cepat. Perjalanan yang sejatinya jauh ini sama sekali tak terasa. Bukan hanya karena kapal bisa melaju cepat, namun pemandangan memang cukup memesona.

Selang dua jam, daratan yang dituju terlihat. Kubah masjid berwarna hijau langsung mengucapkan selamat datang. Barisan kapal nelayan tertata di pinggir dermaga. KM Anugerah mulai mengurangi kecepatan, perlahan memasuki muara, menuju dermaga. Kapal merapat. Haji Anif mendarat.

Usai mendapat ramah tamah penyambutan, Haji Anif langsung masuk mobil jemputan yang sudah menunggu. Tiga mobil langsung meluncur, menuju kawasan Salasiak, kediaman Haji Anif.  Perjalanan kali ini lebih menantang. Pasalnya, saat terbang tak terasa gucangan, begitupun saat menyeberang. Kini, melalui jalan darat yang menembus barisan kelapa sawit milik PT Anugerah Langkat Makmur (ALAM), lintasan bergelombang dan belum diaspal. Debu berkeliaran kemana suka. Namun, keindahan tak juga dapat disembunyikan. (*)

Rumah Gadang Perayu Pandang

Usai ‘menikmati’ debu yang berkeliaran di jalan, rombongan memasuki sebuah rumah yang cukup menawan di Salasiak, Muara Batang Gadis. Sebuah rumah panggung itu begitu merayu pandang. Semacam magnit, mata seakan tak mau berhenti memandangnya.

Bagaimana tidak, sebelum mencapai tangga di depan rumah itu, terbentang rumput yang terawat dan dihiasi beberapa pohon buah. Warna putih dinding dan hitam pada kusen pun melengkapinya. Sementara, selain suara burung liar, suara ombak tiada mau henti.

“Selamat datang di Rumah Gadang,” bisik Uche, salah seorang anggota rombongan.

Ya, Rumah Gadang atawa Rumah Besar, begitulah penduduk setempat menyebutnya. Cukup dimaklumi, selain fisik rumah itu memang besar, di sini tempat Haji Anif menetap selama di Madina.

Baca Juga :  Sekuat Tsunami Aceh, Topan Haiyan Diduga Tewaskan 10.000 Orang

Sumut Pos mendapat ruang di sayap kiri bagian belakang rumah. Dari ruang ini terpampang pemandangan yang indah. Jika membuka jendela depan, terlihatlah hamparan rumput dan Jalan Lintas Pantai Barat Sumatera yang belum diaspal. Sedangkan, jika membuka jendela belakang, maka terlihatlah barisan pohon cemara yang menutupi Samudera Hindia. Tidak itu saja, dalam barisan cemara itu terdapat sebuah kandang besar. Di kandang itu, lima rusa peliharaan Haji Anif hidup terawat. Akhirnya, ketika jendela samping dibuka, pemandangan buah jambu air yang sedang memerah langsung menggoda mata.

“Proses pembangunan rumah ini dimulai pada 2003. Kita tempati sejak 2004,” jelas Haji Anif.
Menariknya, rumah ini hanya berjarak sekira 25 meter saja dari pantai. Tak pelak, hal ini sempat menciutkan nyali setelah mengetahui desa tetangga, Desa Tabuyung, sempat dihajar tsunami tempo hari yang menewaskan dua orang; satu saat tsunami Aceh, satu lagi saat tsunami Nias. “Ya, saat tsunami Aceh dan yang berikutnya Nias, air mengarah ke Tabuyung. Tempat ini tidak terkena dampak. Tapi bagaimanapun, di belakang sana tetap saja Samudera Hindia,” tambah Haji Anif pula.

Tak mau penasaran, Sumut Pos langsung menuju pantai yang dimaksud. Setelah menuruni beberapa anak tangga, lorong beratap tanpa dinding bak di rumah sakit pun dilalui. Tepat mencapai barisan cemara, di sisi kanan terpajang kandang besar beserta lima ekor rusanya. Usai terlewati, gerbang pagar mungil menyambut. Pandang lurus ke depan maka Samudera Hindia terbentang. Indah.

Tidak sampai di situ saja, ternyata Haji Anif dan keluarga telah menyiapkan barisan meja dan kursi, tepat menempel di pagar kayu yang tingginya tak sampai semeter. “Tunggulah saat matahari terbenam…,” ungkap Haji Anif menggantung seakan memberikan unsur kepenasaran yang dalam. (*)

Jangan Tanya Soal Keindahan

“Oh.. keindahan kawasan ini jangan ditanya. Tapi, untuk memajukan dunia wisata dibutuhkan kesiapan. Yaitu kesiapan fasilitas dan orang-orangnya,” buka Haji Anif saat melintasi Jalan Lintas Pantai Barat Sumatera, dari Salasiak menuju Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis.

Bapak dari sembilan anak ini pun mengungkapkan khayalnya. Ya, ungkapnya, seandainya saja ada bandara di kawasan ini, dia akan membangun fasilitas pendukung wisata semacam penginapan dan sebagainya di garis pantai tersebut.
“Tapi, mental orang-orangnya harus dibenahi dulu. Siap tidak warga sini mendapati wisatawan. Di Indonesia paling cuma Bali yang siap secara fasilitas dan orang-orangnya. Saya sudah kelling setengah dunia, saya jamin panorama di sini tidak kalah,” tambahnya.

Baca Juga :  Dirumahkan - Ratusan Karyawan PT AR Datangi DPRD Tapsel

Apa yang diungkapkan Haji Anif tampaknya nyata. Sesampainya di Tabuyung, kami langsung menuju Tangkahan, tempat KM Anugerah menunggu. Kami pun bergerak ke sebuah kawasan yang tidak begitu jauh dari Tabuyung. Kawasan ini sejatinya masih di Pulau Sumatera, meski kami harus melalui jalur laut, warga sekitar menyebutnya sebagai Pulau Batu Merah.

Untuk mencapai kawasan ini ternyata KM Anugerah tidak bisa merapat. Kami pun harus perpindah ke perahu kecil ketika daratan sudah dekat.  Bukan suatu masalah, pasalnya kejenihan air telah lebih dulu menyejukan mata.
Usai mendarat, kami pun memasuki hutan. Mengikuti jalan yang mendaki dan menurun, menghindari pandan berduri, hingga menaiki pohon yang tumbang alami adalah sebuah rintangan yang menarik. Tak sampai lima belas menit, kami keluar hutan dan langsung dihadang pemandangan menawan. Sebuah batu karang berwarna merah membentang panjang.

“Makanya ini dinamakan Pulau Batu Merah,” kata Ishak Nasution, salah seorang rombongan.
Di sisi karang merah itu air laut terlihat begitu jernih. Terumbu karang pun tampak nyaman. Kala pandangan diarahkan ke laut, di balik karang merah itu akan terlihat beberapa pulau kecil. Menawan.

“Fotokan aku di atas batu itulah,” sambar Anwar Kongo, seorang rombongan yang lain, kepada Sumut Pos.
Haji Anif tersenyum mendengar ucapan kawan lamanya itu. Dia pun mengeluarkan kameranya, memfoto wartawan Sumut Pos yang sedang sibuk memfoto. Yeaah! (*)

Sumber: www.hariansumutpos.com

CATATAN : Artikel ini sudah dipublish sejak 9 tahun yang lalu. Informasi di dalamnya kemungkinan sudah tidak relavan dengan saat ini. Mohon dibaca dengan bijak, dengan melihat informasi terbaru/sumber-lain sebagai penyeimbang.

2 Komentar

  1. Kenyataannya :
    Keberhasilan H.Anif menguasai potensi alam pantai barat Madina hanya untk dirinya sendiri beserta kroco2nya kalaupun ada hanya ecek2 melonggarkan kesengsaraan masyarakt di wilayah tsb karena sebenanrnya untuk kepentingannya saja dan mengangkat mereka menjadi masyarakat kacung-kacungnya dengan topeng bermartabat, padahal sebenarnya tetap bodoh, sakit2an dan suram masa depan (berkali2 bukan utk masyrkat luas krn haji hanif merasa bisa hidup selamanya)

  2. Semoga keberhasilan H.Anif menguasai potensi alam pantai barat Madina tdk hanya untk dirinya sendiri beserta kroco2nya tp dpt melonggarkan kesengsaraan masyarakt di wilayah tsb dan mengangkat mereka menjadi masyarakat yg bermartabat, tidak bodoh, tidak sakit dan punya masa depan (sekali lagi utk masyrkat luas krn hidup hanya sekali)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*